Jumat, 05 April 2019

BNP2TKI: Banyak yang Sukses Seperti Pak Arcandra di Luar Negeri

Foto-foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau tenaga kerja asal Indonesia yang bekerja di luar negeri ternyata tak melulu pekerja informal seperti pembantu rumah tangga sampai buruh perkebunan kelapa sawit. Banyak juga tenaga kerja formal dan profesional di sektor-sektor seperti migas, kesehatan hingga perbankan yang sukses bekerja di luar negeri.

"Pak Arcandra (Arcandra Tahar, Wakil Menteri ESDM) itu CEO perusahaan di Amerika Serikat, dan banyak yang seperti Pak Arcandra di luar negeri," kata Tatang Budie Utama Razak Sekretaris Utama BNP2TKI dalam acara "Ngobrol Bareng Media" di Gubug Udang Cibubur, Jakarta, Kamis (04/04).

Ditegaskan Tatang, persoalan tenaga kerja Indonesia selama ini kerap diidentikkan dengan masalah dan cerita duka TKI di luar negeri yang mengalami penganiayaan, gaji tidak dibayar, sampai terancam hukuman di luar negeri. Padahal dari sekitar 6-9 juta PMI di luar negeri ternyata banyak pekerja profesional dan formal.

"Pekerja profesional dan formal itu banyak di perusahaan besar seperti perusahaan perbankan hingga migas. Itu tersebar di sekitar 150 negara," jelas Tatang. "Dan itu banyak yang mengapresiasi pekerja kita tapi di dalam negeri kita tidak banyak menyadarinya," sambungnya.

Tatang pun bercerita setiap dirinya berkunjung
Tatang Budi Utama Razak,
Sekretaris Utama BNP2TKI
ke banyak negara ternyata banyak engineer, dokter hingga direksi bank asal Indonesia yang sukses dalam karir.


Khusus untuk pekerja migas Indonesia di luar negeri, Tatang menceritakan banyak perusahaan migas ternama dunia yang merekrut tenaga kerja asal Indonesia untuk dikirim bekerja di berbagai negara. Apalagi setelah harga minyak dunia jatuh beberapa tahun lalu dan banyak perusahaan migas di dalam negeri yang lakukan pengurangan tenaga kerja. "Jadi sekarang kita ini kirim-kirim engineer ke luar negeri," tegasnya.

Tatang pun mengatakan bahwa perusahaan penyedia jasa tenaga kerja Indonesia pun kini mulai beralih dari mengirim pembantu rumah tangga menjadi penyedia tenaga engineer Indonesia ke berbagai negara. "Dia (perusahaan) dapat fee sebulan gaji, gaji pekerjanya Rp 220 juta. Lumayan ya walaupun kirimnya baru 5 orang. Kenapa kita berisiko kirim tenaga kerja PRT yang sangat vurnerable dan berisiko tinggi padahal tenaga kerja kita banyak," bebernya.

Tatang juga mengatakan bahwa akan ada badan baru pengganti BNP2TKI sesuai amanat dari UU Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Tenaga Kerja Migran Indonesia. 

"Akan terjadi perubahan fundamental. Sudah tidak usah lagi kirim tenaga kerja yang rendahan karena kita ini negara yang besar sesungguhnya. Dan BNP2TKI atau badan baru nantinya tidak lagi hanya urus dokumen-dokumen saja tapi kita harus go beyond kembangkan potensi kita. Cara berpikir kita harus melompat, karena banyak kebutuhan di dunia. Apalagi tenaga kerja kita disukai oleh orang-orang di luar negeri," pungkasnya. RH