Rabu, 17 Juli 2019

PT PAL dan Thorcon Siap Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Thorium di Laut

Sutrisno dari PT PAL (kiri) dan
Bob S. Effendi dari Thorcon (kanan).
Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- PT PAL Indonesia (Persero) mulai merambah sektor industri baru, yaitu tenaga nuklir. Perusahaan yang selama ini dikenal dalam industri galangan kapal ini akan bekerja sama dengan Thorcon International Pte, Ltd. (Thorcon). Thorcon adalah calon Independent Power Producer (IPP) yang telah menyatakan keseriusan kepada Pemerintah Indonesia  ingin melakukan investasi sebesar USD 1,2 miliar atau sekitar Rp 17 Triliun untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTT) di Indonesia.

Kerjasama PT PAL dan Thorcon ini ditandai dengan ditandatanganinya MoU Pengembangan dan Pembuatan Komponen Thorcon TMSR500 dan Test Bed Platform oleh Sutrisno, Direktur Rekayasa Umum, Pemeliharaan & Perbaikan PT PAL Indonesia (Persero) dan Bob S. Effendi, Chief Representative Thorcon International Pte, Ltd untuk Indonesia, di kantor Thorcon di bilangan Sudirman, Jakarta, Rabu (17/07).

Dengan MoU tersebut maka kedua pihak akan melakukan kajian pengembangan dan konstruksi reaktor desain Thorcon hingga dapat difabrikasi oleh PT PAL. Kerjasama PT PAL dan Thorcon ini dapat menjadi awal dari terbangunnya industri nuklir nasional dan PLTT.

Sutrisno mengungkapkan, jika urusan perizinan dari Pemerintah cepat diperoleh, maka PLTT bisa mulai dibangun pada tahun 2020. "Sehingga paling cepat tahun 2026 sudah bisa ada listrik dari PLTT," ucap Sutrisno.

TMSR500 (Thorium Molten Salt Reactor 500 MW) Power Plant merupakan PLTT 500 MW yang memiliki konsep desain modular dengan kapasitas tiap reaktor 250 MWe yang dapat dioperasikan multimode, baik sebagai baseload atau load follow. 

PLTT ini dapat menghasilkan listrik bersih yang lebih murah dari batubara, sehingga dapat menjadi sistem energi andalan menuju ekonomi rendah karbon dan tercapainya target harga jual listrik di bawah BPP (Biaya Pokok Penyediaan) Nasional, sehingga tarif listrik ke masyarakat dapat turun. 

Dikatakan Bob S. Effendi, Chief Representative Thorcon International Pte Ltd di Indonesia, berdasarkan kajian perusahaannya, biaya overnight atau biaya tanpa memperhitungkan  faktor-faktor di luar mesin dari PLTT diperkirakan sekitar 3 sen per KWH. Sementara jika memperhitungkan faktor lainnya harga yang ditawarkan ke PLN sekitar 6-7 sen per KWH. "Itu masih di bawah BPP nasional yang 7,7 sen per KWH," terang Bob.

PLTT ini nantinya akan menggunakan model desain struktur kapal dengan panjang 174 meter dan lebar 66 meter, yang setara dengan tanker kelas Panamax. Rencananya akan dibangun oleh Daewoo Shipyard & Marine Engineering (DSME) di Korea Selatan, yang merupakan galangan kapal terbesar kedua di dunia. Pada bulan Mei lalu, Thorcon dan PT PAL yang didampingi oleh perwakilan dari Pemerintah Indonesia, telah mengunjungi DSME dan mendapatkan konfirmasi bahwa DSME sanggup membangun desain PLTT dalam kurang dari 3 tahun. 

Saat ini Thorcon dan Balitbang Kementerian ESDM juga sedang  melakukan kajian terhadap implementasi dari PLTT guna menjadi pertimbangan bagi Pemerintah menyatakan mulai untuk membangun pembangkit listrik dari tenaga nuklir. 

Bob mengungkapkan ada hasil positif dari kajian tersebut. Ditambah lagi sebenarnya untuk pemanfaatan nuklir untuk energi sebenarnya tak ada regulasi yang melarangnya di Indonesia. Lalu untuk masalah keamanan PLTT juga jauh lebih aman sebab bahan bakarnya berbentuk cair sehingga pengoperasiannya tidak memerlukan tekanan. Apalagi posisi reaktornya digantung sehingga tahan terhadap guncangan gempa bumi.Atas dasar-dasar itu Bob yakin pembangunan PLTT di Indonesia dapat terwujud. 

"Akhir Juli ini kajiannya akan selesai. Kita confidence bahwa Pemerintah enggak ada alasan untuk tidak izinkan," ucap Bob. "PLTT ini akan jadi embrio industri nuklir di Indonesia," tambahnya.

Untuk lokasi pembangunan PLTT, Bob menjelaskan akan dibangun berdiri di atas laut dengan kedalaman tidak lebih dari 10 meter. Kendati demikian PLTT ini juga bisa dibuat terapung dan ditarik di perairan. Alasan dibangun di laut di antaranya kalau dibangun di darat kerap terkendala masalah pembebasan lahan hingga rawan masalah sosial berupa resistensi dari masyarakat sekitar.

Ada 3 calon lokasi pembangunan PLTT yang potensial yang sudah dibidik yaitu di Kalimantan Barat, Bangka Belitung, dan Riau. RH