Rabu, 28 Agustus 2019

Tembus Hutan, Tim Agincourt Cari Bibit Cabutan Lokal untuk Reklamasi

Pepohonan mulai tumbuh tinggi di area
bekas tambang dekat fasilitas pembibitan
tanaman PT Agincourt Resources.
Foto-foto: Hrp
Tapanuli Selatan, OG Indonesia -- Terletak hanya sepelemparan batu dari area utama fasilitas pembibitan tanaman yang ada di kompleks Tambang Emas Martabe, pohon-pohon sudah menjulang tinggi dan rimbun. Siapa sangka daerah tersebut dulunya adalah bekas area tambang yang kini sudah direklamasi.

Fasilitas pembibitan tanaman dengan luas sekitar 3.000 meter persegi memang disiapkan PT Agincourt Resources sebagai tempat penyiapan bibit-bibit tanaman untuk reklamasi tambang pasca operasi. Sehingga nantinya area Tambang Emas Martabe yang berlokasi di Desa Aek Pining, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, bisa hijau kembali seperti semula sebelum adanya aktivitas tambang di daerah tersebut.

Fitri Rahmadani Ritonga, Field Assistant
Rehabilitasi PT Agincourt Resources,
menunjukkan bibit-bibit tanaman yang
dirawat di fasilitas pembibitan tanaman.
Diterangkan oleh Fitri Rahmadani Ritonga, Field Assistant Rehabilitasi di Departemen Lingkungan PT Agincourt Resources, saat ini ada sekitar 5.234 bibit tanaman yang nantinya siap ditanam untuk kegiatan reklamasi tambang. Ribuan bibit tersebut berasal dari 42 spesies tanaman. Rinciannya, ada 32 spesies tanaman lokal asli Batang Toru dan 10 spesies tanaman fast growing yang bisa menutup kembali hutan secara cepat.

Beberapa tanaman lokal yang ditumbuhkan kembali antara lain pohon kemenyan, jotik-jotik, simarbaliding, hapinis, tambiski, saga, mahoni, sampai cempedak hutan. Sementara untuk tanaman fast growing antara lain pohon sengon, waru hingga trembesi. Tak hanya itu, Agincourt juga melakukan konservasi ex situ alias membawa tanaman dari wilayah lain untuk ditanam di area bekas tambang. Seperti tanaman meranti merah yang mulai punah di wilayah aslinya di Kalimantan ternyata berhasil tumbuh di Batang Toru.

“Tapi paling kita utamakan bibit cabutan lokal, maksudnya bibit tanaman lokal yang ada di sekitar kawasan Tambang Emas Martabe yang akan kita kembalikan fungsi hutannya kembali,” kata Fitri kepada rombongan editor dan jurnalis media nasional termasuk OG Indonesia yang berkunjung ke Tambang Emas Martabe di Batang Toru, Kamis (21/08).

Banyak sumber untuk pembibitan tanaman. Bahkan sisa buah-buahan yang dimakan oleh pekerja di daerah operasi tambang pun dikumpulkan dan dipilah untuk jadi bibit tanaman. “Biji durian yang semalam bapak ibu makan, mungkin nanti akan sampai ke kita untuk kita semai di sini,” canda Fitri kepada para wartawan yang malam sebelumnya memang habis pesta durian. “Ini mungkin dari pesta durian tahun lalu,” sambungnya sambil menunjuk bibit tanaman durian yang ada di lokasi.

Beberapa bibit cabutan lokal
yang berhasil ditemukan.
Tapi Fitri dan Tim Departemen Lingkungan PT Agincourt Resources tak hanya menunggu bibit. Biasanya mereka rutin mencari bibit-bibit tanaman lokal dengan masuk ke wilayah hutan di sekitar tambang, seperti ke daerah hutan Ramba Joring. Biasanya kegiatan tracking hutan yang dilakukan bisa memakan waktu hingga setengah hari.

Biji-biji tanaman yang ditemukan di hutan kemudian ditanam di fasilitas pembibitan tanaman. Namun karena mencari biji-biji tanaman di dalam hutan cukup sulit, biasanya mereka hanya mengambil cabutan tanaman untuk kemudian dirawat dan ditanam dalam polybag di fasilitas pembibitan tanaman sebelum nantinya ditanam kembali saat nanti kegiatan reklamasi dijalankan. Dari tracking ke hutan tersebut, Fitri mengungkapkan bahwa timnya sering menemukan spesies tanaman baru yang belum pernah terlihat sebelumnya di kawasan Batang Toru.

Tahapan Reklamasi

Untuk proses reklamasi sendiri  biasanya akan dimulai dengan recountouring atau membentuk kontur tanah dengan kemiringan yang tepat untuk tujuan penghijauan kembali. Setelah itu, dilakukan pembentukan zona pengakaran dengan cara dilapisi dengan top soil. Kemudian top soil tersebut ditanami tanaman kacang-kacangan yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara untuk menyuburkan tanah. Tak kalah penting, di daerah tersebut juga dibentuk drainase untuk mencegah erosi.  

Setelah persiapan awal tersebut dilakukan, langkah berikutnya adalah penanaman tanaman fast growing yang akan cepat tumbuh untuk menutup hutan. Sama seperti kacang-kacangan, tanaman fast growing ini juga punya keunggulan dapat menangkap nitrogen bebas di  udara sehingga bisa menyuburkan kembali tanah yang berada di area sekitarnya. “Mereka (tanaman fast growing) itu punya bintil di akarnya yang akan menyuburkan tanah dengan nitrogen yang ditangkapnya,” terang Fitri.

Bayu Aryanto, Superintendent
di Departemen Lingkungan
PT Agincourt Resources.
Setelah tanahnya subur maka akan memudahkan proses penumbuhan bibit lokal yang ditanam di area yang sama. “Proses reklamasi itu akan terus kita monitoring per tiga bulan, enam bulan, dan satu tahun untuk melihat bagaimana perkembangannya,” jelasnya.

PT Agincourt Resources sendiri sudah melakukan kegiatan reklamasi sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan bekerlanjutan pasca operasi tambang, setelah tujuh tahun beroperasi dan turut membangun bersama masyarakat di daerah Batang Toru. Dikatakan Bayu Aryanto, Superintendent di Departemen Lingkungan PT Agincourt Resources, perusahaannya sudah melakukan kegiatan reklamasi di Tambang Emas Martabe sejak tahun 2012 seiring beroperasinya tambang. “Setiap lima tahun kita ajukan jaminan reklamasi ke Pemerintah,” tutur Bayu.

Di mana untuk periode pertama yang berlangsung dari tahun 2012 hingga 2017 sudah berhasil mereklamasi lahan bekas tambang seluas 11,9 hektare. Untuk saat ini di Tambang Emas Martabe sedang berlangsung kegiatan reklamasi tahap kedua dari tahun 2017 sampai 2021 yang sudah disetujui oleh Ditjen Minerba Kementerian ESDM. RH