Minggu, 13 Oktober 2019

Libatkan Alumni, Teknik Mesin Universitas Brawijaya Siap Jadi Lebih Unggul

Kiri-Kanan: Ali Mundakir, Djarot B. Darmadi,
Pitojo Tri Juwono, Wiko Migantoro.
Cikarang, OG Indonesia -- Alumni Teknik Mesin Universitas Brawijaya (UB) Malang, mematok target ambisius. Yaitu menjadi kampus teknik khususnya jurusan Teknik Mesin paling unggul di Tanah Air. Target itu diyakini akan tercapai dengan dukungan penuh dari para alumninya. Sinergi antara jurusan Teknik Mesin dan alumni serta jejaringnya dipastikan akan menjadikan UB khususnya Teknik Mesin menjadi lebih kompeten, unggul, dan siap kerja.

Keterlibatan alumni secara aktif tersebut juga sejalan dengan program pemerintahan saat ini yang menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur dan industri. “Jurusan Mesin UB ditantang untuk memberikan kontribusi, dan pada saat event inilah semua kebutuhan itu dirumuskan,” ungkap alumni Mesin Tahun 1987 UB, Ali Mundakir.

Hal tersebut dikatakan Ali Mundakir di sela acara Silaturahmi Nasional Alumni Teknik Mesin Universitas Brawijaya di Hotel Sahid Jaya, Cikarang, Jawa Barat, Minggu (13/10/2019). Dilanjutkan Ali, bentuk nyata keterlibatan alumni adalah dengan terjun langsung ke kampus. Alumni yang saat ini telah mengabdi di berbagai perusahaan lokal maupun internasional, nantinya akan dilibatkan sebagai dosen.

“Selama ini kuliah umum dari alumni memang sudah sering, tetapi kita ingin yang lebih. Pengetahuan alumni harus masuk sebagai kurikulum resmi. Misalnya selama satu semester akan ada nanti dua kali pertemuan dengan menghadirkan ‘dosen alumni’. Nanti materi kuliah itu masuk sebagai mata kuliah resmi,” ungkap Ali yang saat ini juga menjabat sebagai Dirut PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) ini.

Sehingga, lanjut Ali, dengan kombinasi teori, praktikum, dan berbagi pengalaman dari alumni akan menjadikan mahasiswa lebih siap ketika memasuki dunia kerja. Ali mencontohkan dirinya yang berlatarbelakang ahli turbin uap dan pemipaan, akan menjadi nilai positif tersendiri yang bakal dinikmati mahasiswa. “Ketika nanti saya datang sebagai praktisi untuk mengajar di kampus, mahasiswa nantinya akan lebih paham tentang gambaran dunia kerja,” tambah Ali yang saat ini didapuk sebagai Ketua Alumni Teknik Universitas Brawijaya.

Hal senada juga diungkapkan Wiko Migantoro, alumni Mesin 1987. Wiko yang saat ini menjabat Direktur Utama PT Pertamina Gas (Pertagas) ini mengemukakan, peran aktif alumni sangat dibutuhkan guna merespon cepatnya perkembangan dunia industri belakangan ini. “Harus berkembang sesuai pasar sehingga konsep penyiapan lulusan baru juga wajib disesuaikan agar lebih siap memasuki dunia kerja,” ujar Wiko.

Selain menyatakan kesiapannya sebagai dosen alumni di almamaternya, Wiko juga meyakini acara silaturahmi alumni tidak saja berhenti pada keterlibatan alumni ke kampusnya secara langsung. Tetapi juga menjadi wadah networking bagi sesama alumni itu sendiri. Di sini kita bisa melihat potensi apa saja yang nantinya bisa berguna bagi semua pihak.

Wiko memberi contoh, belum lama ini ia ikut berperan mengirimkan dua alumni Mesin UB mengikuti forum internasional ke Houston, Amerika Serikat. “Jadi alumni itu tidak hanya melulu menyediakan tempat magang, misalnya. Tetapi juga aktif mendorong kompetensi mahasiswa dengan menggunakan networking yang dimiliki,” tukas Wiko.

Dengan demikian, sambung Wiko, acara semacam ini pada akhirnya akan memberikan masukan kepada fakultas untuk memetakan lebih jelas apa saja kendala dan tantangan yang bakal dihadapi nantinya. “Misalnya kenapa Fakultas Teknik Industri yang sebetulnya jauh lebih muda, justru sekarang lebih banyak diminati. Itu perlu dipetakan,” katanya.

Sementara itu, Djarot B Darmadi, Ketua Jurusan Teknik Mesin UB sangat mengapresiasi kepedulian para alumni Mesin UB yang siap ‘pulang kampung’ ke almamaternya. Djarot yang juga alumni Teknik Mesin 1986 menjelaskan, latar belakang pelibatan alumni Mesin UB sangat penting untuk mencetak lulusan Mesin UB yang siap kerja.

Nah, cara mudah mewujudkan itu adalah dengan mengajak alumninya untuk berperan serta. Alumni bertugas menggambarkan secara nyata dunia industri ke bangku kuliah. Tak lagi ibarat cerita silat yang sama sekali tak pernah bermain silat karena hanya membaca di buku. Dengan adanya dosen pengajar dari alumni yang berlatarbelakang praktisi, mahasiswa Mesin UB akan lebih banyak dibekali pengetahuan yang memang betul-betul asli, bukan hanya gambaran semata,” jelas Djarot.

Dekan Fakultas Teknik UB, Pitojo Tri Juwono, yang ikut menghadiri Silaturahmi Nasional Alumni Mesin UB mengaku sangat bangga dengan kepedulian alumni. Sebagai Dekan Teknik, Pitojo yang merupakan alumni Teknik Sipil UB ini mengaku sangat terbantu dalam merumuskan kurikulum yang andal.

Menurutnya, dunia kampus saat ini memiliki keleluasaan dalam menyusun kurikulum. Pasalnya, konten kurikulum yang disiapkan pemerintah melalui Peraturan Presiden dan Peraturan Menteri hanya sebesar 30 persen. Nah, sisanya diserahkan kepada masing-masing kampus. “Di sinilah pentingnya peran alumni agar lulusan UB khususnya Teknik Mesin menjadi lebih kompeten, unggul, dan siap kerja. Masukan dari alumni akan membuat Teknik Mesin menjadi lebih jelas di mana keunggulannya. Ada link and match antara kampus dan alumni,” ujarnya.

Sejauh ini, lanjut Pitojo, Mesin UB sebetulnya sudah banyak memberikan sumbangsih baik terhadap masyarakat maupun di bidang inovasi teknologi. Salah satunya dengan menyediakan mesin pengering kopi bagi para petani kopi, selain membangun penyedia listrik ke rumah-rumah penduduk. “Bahkan Mesin UB kerap menjuarai inovasi teknologi. Kemarin baru saja memborong empat medali dalam kejuaraan prototype motor listrik. Maka kita harapkan inovasi itu bakal semakin berkembang dengan adanya peran serta alumni,” tukas dia.

Kendati demikian, sambil berseloroh, Pitojo mengatakan, mahasiswa Teknik Mesin mayoritas adalah laki-laki sehingga pendekatannya harus berbeda dari yang lain. “Teknik Mesin ini ibarat rumah tangga tanpa istri, maka sentuhannya harus berbeda. Dari delapan jurusan di Teknik UB, Mesin ini paling sulit diatur. Itu sebabnya Wakil Dekan pasti selalu dipilih dari alumni Mesin,” kata Pitojo disambut gelak tawa para alumni.

Ke depan, Pitojo optimistis Teknik Mesin UB akan semakin dikenal dan digemari banyak calon mahasiswa. Kuncinya terletak pada kurikulum yang up to date dengan kondisi saat ini. Tak kalah penting, Mesin UB yang dikenal ‘sangar’ lantaran dihuni mayoritas laki-laki, diharapkan juga akan diminati kaum perempuan. “Jadi kesan Mesin UN nanti akan lebih berwarna,” pungkasnya.

Diketahui, sederet alumni Mesin UB saat ini banyak mengabdi di perusahaan nasional maupun internasional. Mereka antara lain, Edhie Sarwono (Direktur PT. United Tractors Tbk), Nepos Pakpahan (Dirut Pertamina Trans Kontinental), Made Adi Putra (Direktur Operasi PT Patra Niaga), Nyoman Awatara (Direktur Perencanaan dan Pemasaran PT. PJB Services), Mardianus Pramudyo (Direktur Keuangan PT INKA), M. Zaenuri (CEO PT Catur Elang Perkasa), Edy Nurhamid (Wadirut PT. Pratiwi Putri Sulung), Kamiludin (Dirut PT Valarbi), hingga Ahmad Hasnan (Dirut PT Pustek Engineering).

Menurut Ari Wijaya, Ketua Ikatan Alumni Teknik Mesin UB, saat ini tercatat 5.300 alumni Mesin UB yang siap berkontribusi bagi almamaternya. “Hanya dalam waktu singkat sudah tercatat 632 alumni yang menghadiri Silaturahmi Nasional ini. Itu membuktikan bahwa alumni Mesin UB sangat solid dan siap memberikan yang terbaik untuk almamaternya,” ungkap Ari Wijaya. RH