Berkat Pertagas, Kegiatan Usaha KWT Kenanga Kembali Bersemi di Tengah Pandemi

Usaha kerupuk KWT Kenanga dapat bergulir 
kembali berkat sentuhan Pertagas.
Foto: Ridwan Harahap


Karawang, OG Indonesia – Sebuah bangunan baru terlihat menempel di belakang sekolah PAUD Anugrah dan Posyandu Kenanga yang berdiri di atas tanah Yayasan Abu Safei di Dusun Kedawung, Desa Tanjung, Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Beberapa perempuan berumur dan bermasker terlihat sibuk hilir mudik di bangunan yang dijadikan rumah produksi untuk cemilan kerupuk miskin tersebut. Ada yang tampak bekerja mencetak adonan, ada yang sesekali sibuk mengamati oven, dan ada yang menjemur kerupuk di luar bangunan. Di bagian paling belakang bangunan, dalam ruangan berukuran 2 x 3 meter ada juga yang dengan cekatannya menggoreng kerupuk di alat penggarangan. Sementara di muka bangunan, kerupuk-kerupuk yang sudah jadi sibuk dibungkus ke dalam kemasan.

Aktivitas produksi kerupuk miskin yang dijalankan Kelompok Wanita Tani (KWT) Kenanga tersebut jadi pertanda masih ada nadi ekonomi yang berdenyut di tengah pandemi COVID-19. Ya, wabah korona memang telah membawa gelombang masalah yang dahsyat ke berbagai lapisan masyarakat. Tidak hanya terkait persoalan kesehatan masyarakat, tetapi sektor ekonomi juga turut terhantam. Banyak perusahaan yang mengurangi jumlah karyawan dan tidak sedikit pula yang harus menutup usahanya. 

Namun di tengah pandemi yang terjadi itu ternyata masih ada kegiatan usaha yang bisa bersemi seperti usaha kerupuk miskin KWT Kenanga. Kerupuk miskin merupakan cemilan khas wilayah Pantura. Disebut kerupuk miskin karena kerupuk yang berbahan dasar tepung kanji atau tapioka ini cukup murah, sebab digoreng tidak memakai minyak goreng, melainkan dengan pasir panas.

Diceritakan Jubaedah (43), Ketua KWT Kenanga, mulai Agustus 2020 dirinya bisa bernapas lega sebab kegiatan produksi dua varian kerupuk miskin KWT Kenanga yaitu kerupuk pelangi dan kerupuk kelor bisa dilakukan lebih nyaman di rumah produksi baru yang konstruksinya dibangun oleh PT Pertamina Gas (Pertagas). Sebelumnya, produksi kerupuk dilakukan di rumah perempuan yang akrab disapa Mak Edah tersebut, namun lingkungannya kurang bersih sebab ada kandang ayam. “Dari Dinas Kesehatan nggak boleh, kumuh ada comberan. Ya alhamdulillah dikasih bangunan ini,” cerita Mak Edah kepada OG Indonesia, Jumat (21/8/2020).

Bukan tanpa perjuangan untuk mewujudkan semuanya. Mak Edah berkisah dirinya harus pergi ke sana kemari untuk mencari bantuan dana saat kegiatan usaha KWT Kenanga nyaris tutup. Salah satunya ke kantor Pertamina dan anak-anak usahanya yang banyak beroperasi di sekitar wilayah Cilamaya. Permohonan pengajuan program CSR-nya pun berbuah hasil ketika mendapat respon positif dari pihak Pertagas. Pertagas memang mengoperasikan Stasiun Kompresor Gas (SKG) di Kecamatan Cilamaya, untuk mengatur distribusi gas bumi area Jawa Bagian Barat yang pipa-pipanya melewati beberapa kecamatan lain di Kabupaten Karawang. Salah satunya Kecamatan Banyusari, tempat usaha KWT Kenanga berada.

Di samping ikut membantu membangun rumah produksi, Pertagas juga turut memberikan alat produksi seperti alat penggarangan kerupuk sampai menyokong bahan baku untuk produksi awal kerupuk kala KWT Kenanga memulai kembali usahanya. Mak Edah mengungkapkan kegiatan usaha KWT Kenanga yang bermula sejak tahun 2017 memang sempat terhenti karena kekurangan modal. Apalagi setelah pandemi COVID-19 melanda di awal tahun ini di mana banyak toko dan pasar yang tutup sehingga membuat distribusi kerupuk jadi tersendat.

Dengan bergulir kembalinya roda produksi kerupuk, KWT Kenanga bisa merekrut tenaga kerja lagi. Mak Edah punya ide solutif terkait ini dengan memberdayakan empat orang janda tua yang sudah tidak punya penghasilan tetap. “Saya ambilnya para janda yang sudah tidak ada suami, sudah tidak bisa ke sawah, yang sudah tidak punya penghasilan lah,” tuturnya. Salah satu ibu yang turut membantu adalah Teti (53). Dirinya mengaku sangat senang bisa mendapat penghasilan tambahan dari kegiatannya membantu produksi kerupuk di KWT Kenanga. “Saya bisa dapat Rp 25.000 sehari, (bekerja) dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang,” ucapnya bersyukur.

Berkat bantuan Pertagas, produksi kerupuk KWT Kenanga pun kian produktif, dari sebelumnya hanya dilakukan 2 hari dalam seminggu menjadi 6 hari dalam seminggu. Dalam sehari, KWT Kenanga bisa memproduksi kerupuk sekitar 10 kilogram. Mak Edah mengungkapkan, setelah dikurangi berbagai biaya produksi, kelompoknya bisa meraup untung bersih Rp 10.000 untuk setiap 1 kilogram kerupuk yang diproduksi. 

Dari untung bersih yang didapat setiap harinya tersebut, lalu dibagi rata kepada lima orang yang terlibat dalam kegiatan produksi kerupuk. “Jadi kami itu bukannya bos sama karyawan, tetapi bagi hasil,” jelas Mak Edah. Dia pun bercerita tentang betapa senangnya para ibu tersebut saat menerima uang bagi hasil setiap tiga hari sekali. “Begitu gajian suka pada senyum karena dapat uang,” cerita ibu tiga anak ini.

Jubaedah atau akrab disapa Mak Edah sedang
mengolah kerupuk pelangi di alat penggarangan
yang diberikan oleh Pertagas.
Foto: Ridwan Harahap

Untuk pemasaran, kerupuk pelangi dan kerupuk kelor KWT Kenanga didistribusikan ke berbagai pasar, warung, hingga ke penjual bakso oleh Pak Azis, suami dari Mak Edah. Harganya sangat terjangkau, dari rumah produksi dijual Rp 4.000 per bungkus dan di pasaran dibanderol sekitar Rp 5.000 per bungkus. 

Selain itu KWT Kenanga kerap pula diajak dinas terkait serta pihak Pertagas untuk mengikuti pameran UMKM. Di pameran, kerupuk bisa dijual dengan harga lebih tinggi yaitu Rp 6.000 sampai Rp 8.000. “Sekarang sama bapak Pertamina juga diajarin online, saya sudah mulai belajar,” ujar Mak Edah yang kendati waktu kecil hanya sempat sekolah hingga kelas 4 SD, namun kini berhasil mengejar ketertinggalannya dengan belajar hingga Paket C atau setara SMA.

Memang Pertagas tidak hanya memberikan modal serta fasilitas usaha, tetapi juga memperkuat kemampuan enterpreneur dari pelaku usaha binaannya. Selain diberi pelatihan pemasaran online, KWT Kenanga juga ditantang berinovasi dan melakukan diversifikasi produk yang dihasilkan. Seperti untuk kerupuk yang awalnya hanya memproduksi kerupuk pelangi, berkat inovasi Mak Edah maka muncul varian kerupuk kelor yang memanfaatkan banyaknya tanaman kelor di lingkungan sekitar. Beberapa bahan lain pun saat ini sedang dicoba seperti jamur merang dan lainnya, untuk menambah varian rasa produk kerupuk. Dengan semakin banyak produk yang dihasilkan, Mak Edah berharap akan semakin banyak tenaga kerja yang bisa terserap. “Sudah banyak para janda yang mau daftar mah,” ungkapnya sambil tertawa.

Di luar produk kerupuk, KWT Kenanga juga punya produk jamu atau minuman herbal seperti jahe sereh dan kunyit asam. Untuk semua produk dari kerupuk hingga minuman herbal, KWT Kenanga juga mendapatkan pelatihan packaging dari Pertagas agar kemasannya menarik dan pemasarannya bisa tembus ke mini market serta dapat dipasarkan secara online ke wilayah yang lebih luas. Saat ini pemasaran produk rumahan KWT Kenanga telah beredar luas di seputaran wilayah Karawang.

Menurut Risna Resnawaty, Pengamat CSR yang juga Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial Universitas Padjadjaran, apa yang dilakukan Pertagas dengan mendorong UMKM binaannya melakukan diversifikasi usaha merupakan suatu hal yang positif. "Dalam pembinaan UMKM, perusahaan memang perlu mendorong UMKM untuk terus melakukan proses kreatif dan berinovasi," ucap Risna.

Zainal Abidin, Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Gas, mengatakan bahwa Pertagas sebagai perusahaan terafiliasi dengan PT Pertamina (Persero) memang ingin turut membantu warga sekitar terutama di wilayah Ring 1 daerah operasi perusahaan agar dapat meningkatkan taraf hidupnya lewat bantuan serta pelatihan usaha yang diberikan, apalagi di tengah situasi pandemi saat ini. 

Ditambahkan olehnya, dalam memilih mitra binaannya Pertagas melihat permasalahan apa yang ada di wilayah sekitarnya. Seperti Desa Tanjung di Kecamatan Banyusari yang setelah dipetakan ternyata pernah menjadi desa rawan pangan pada tahun 2017 sehingga Pertagas turut melakukan intervensi serta mencari potensi dari Desa Tanjung yang bisa dikembangkan untuk pemberdayaan masyarakat setempat. “Dalam menentukan program Community Development, Pertagas selalu mengacu pada hasil social mapping, utamanya di daerah-daerah yang berada di sepanjang jalur pipa atau infrastruktur operasi perusahaan,” terang Zainal.

Dia menilai warga Desa Tanjung khususnya KWT Kenanga sudah punya modal keterampilan sehingga tidak sulit untuk dilakukan intervensi untuk pengembangannya. “Harapan kita KWT Kenanga mampu menjawab masalah utama yang dihadapi warga desa setempat, utamanya masalah ketahanan pangan. Dengan berdayanya kelompok wanita tani di desa, semoga mampu memberi peningkatan ekonomi khususnya keluarga anggota kelompok,” paparnya.

Sementara itu Firmansyah, Head of District Cilamaya PT Pertamina Gas, berharap kegiatan operasi perusahaan bisa berjalan lancar serta masyarakat sekitar juga bisa turut diberdayakan. Dirinya pun siap untuk terus mengawal kegiatan community development di wilayah operasi Pertagas di seputar Cilamaya. “Kita men-support dan melakukan pengawasan. Alhamdulillah (kegiatan usaha KWT Kenanga) sekarang berjalan lancar, mudah-mudahan seterusnya bisa berkembang lebih maju lagi,” kata Firmansyah.

Ditambahkan Risna Resnawaty, pembinaan UMKM sebagai salah satu bentuk CSR seperti yang dilakukan Pertagas merupakan pilihan yang sangat baik. "Jika melihat resiliensi dari UMKM di Indonesia, itu menjadi sektor yang tangguh dan dapat diandalkan untuk meningkatkan pendapatan. Apalagi di saat pandemi COVID-19 di mana pembinaan terhadap UMKM akan mendorong perekonomian masyarakat lokal," bebernya. (Ridwan Harahap)


Berkat Pertagas, Kegiatan Usaha KWT Kenanga Kembali Bersemi di Tengah Pandemi Berkat Pertagas, Kegiatan Usaha KWT Kenanga Kembali Bersemi di Tengah Pandemi Reviewed by OG Indonesia on 15.00 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.