Oleh: Dr. Ardian Nengkoda (Dosen Praktisi Teknik Kimia UI, Dewan Pakar Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia/IATMI dan Komunitas Migas Indonesia/KMI)
Pertemuan Tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss tanggal 19-23 Januari 2026 lalu menjadi momentum penting bagi pemimpin dunia, pelaku industri, dan pemerhati energi global dalam rangka mengarahkan kebijakan energi untuk jangka pendek dan dekade mendatang.
Tema besar kali ini adalah “A Spirit of Dialogue”. Fokus utama forum ini mencakup transisi energi bersih, keamanan pasokan energi, dan dampak geopolitik terhadap ekonomi global. Pertanyaan mendasar adalah mengapa pertemuan Davos kali ke-56 ini terasa tegang, dan bagaimana dampak besar bagi arah energi dunia, termasuk bagi Indonesia?
Sejarah Davos
Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) Davos yang kini menjadi salah satu pertemuan paling berpengaruh di dunia, sejatinya lahir pada tahun 1971, didirikan oleh Klaus Schwab, seorang profesor ekonomi asal Jerman. Awalnya, forum ini bernama European Management Forum (EMF). Pertemuan pertama EMF diadakan di Davos, Swiss, dengan tujuan memperkenalkan konsep manajemen modern Amerika kepada perusahaan-perusahaan Eropa agar mereka lebih kompetitif.
Salah satu pilar sejarah WEF adalah filosofi Stakeholder Capitalism yaitu pemimpin perusahaan tidak hanya bertanggung jawab kepada pemegang saham (shareholders), tetapi juga kepada karyawan, pelanggan, masyarakat, dan lingkungan (stakeholders). Konsep ini tetap menjadi dasar diskusi di Davos hingga hari ini.
Memasuki abad ke-21, WEF menjadi pusat perdebatan tentang Revolusi Industri Keempat dan ketimpangan global. Meskipun sering dikritik karena ketidak-adilan dan geng orang-orang kaya, forum ini tetap menjadi satu-satunya tempat di mana ribuan pemimpin bisnis, kepala negara, aktivis sosial, dan akademisi berkumpul secara rutin untuk membahas masa depan.
Latar Belakang Ketegangan
Salah satu yang mendapat sorotan tajam adalah pidato dan keputusan politik Donald Trump, Presiden Amerika. Dalam forum tersebut, Trump menyoroti peran energi tradisional dan mengkritik kebijakan Net Zero serta beberapa insentif energi terbarukan yang menurutnya membebani ekonomi.
Pendekatannya menegaskan pentingnya kedaulatan energi nasional Amerika dan keamanan pasokan sebagai pondasi kebijakan luar negeri AS saat ini, yang memberi dampak pada dinamika investasi energi global, termasuk isu terkait Venezuela, Greenland dan Timur Tengah, yang membuat tegang peserta forum kali ini. Forum kali ini juga menambah jelas fragmentasi geopolitik.
Sementara itu, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto aktif berpartisipasi dalam berbagai sesi. Ia menyampaikan special address menekankan bahwa damai dan kerja sama multilateral adalah landasan stabilitas ekonomi dan energi dunia. Prabowo juga memperkuat diplomasi dengan mengajak investor global mengevaluasi peluang di sektor energi bersih Indonesia mulai dari tenaga surya hingga hidrogen hijau, serta mempromosikan Bali Ocean Impact Summit sebagai forum kolaborasi global lanjutan.
Data Statistik Energi Global 2025–2026
Tren energi global menunjukkan pergeseran yang signifikan menuju sumber bersih. Meski kebutuhan global akan migas dan batubara juga cukup tinggi. Menurut data terbaru dari International Energy Agency (IEA), energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin akan menjadi sumber listrik terbesar di dunia pada 2025–2026 terutama di Eropa.
Kapasitas energi terbarukan global diproyeksikan meningkat 4.600 GW antara 2025 dan 2030, setara dengan gabungan kapasitas listrik China, Uni Eropa, dan Jepang, menunjukkan perluasan besar-besaran energi bersih. Di Uni Eropa, kombinasi tenaga angin dan surya menghasilkan 30% dari listrik pada 2025, sedikit di atas energi fosil.
Permintaan listrik global meningkat ~4.3% pada 2024, didorong oleh elektrifikasi industri, AI, dan pendinginan udara, dengan energi terbarukan serta gas alam menjadi penyumbang utama pertumbuhan pasokan di berbagai negara.
Meskipun tren ke energi bersih kuat, fakta tetap menunjukkan permintaan energi terus tumbuh baik dari sumber bersih maupun dari energi fosil, sehingga transisi energi tidak mudah, dan menjadi lebih kompleks untuk negara berkembang.
Ada 3 hasil penting dari Davos 2026 ini, yaitu:
1. Inisiatif "Reskilling Revolution": Forum ini mengumumkan komitmen global utama terhadap inisiatif "Reskilling Revolution", yang bertujuan untuk membekali satu miliar orang dengan keterampilan, pendidikan, dan peluang ekonomi yang lebih baik, dengan fokus kuat pada pengembangan tenaga kerja yang tangguh di era AI dan disrupsi teknologi.
2. Tata Kelola Inovasi dan AI yang Bertanggung Jawab: Para pemimpin teknologi dan bisnis, termasuk CEO Nvidia Jensen Huang dan CEO Tesla Elon Musk, mendiskusikan bagaimana menerapkan inovasi, terutama dalam kecerdasan buatan (AI) dan energi bersih, secara bertanggung jawab dan dalam skala besar. Fokusnya adalah memastikan teknologi-teknologi ini berkontribusi pada pertumbuhan yang tangguh dan adil, bukan sebaliknya.
3. Memprioritaskan Ekonomi Hijau dan Ketahanan Air: Ekonomi hijau ditekankan bukan lagi sekadar tren yang sedang muncul, tetapi telah berkembang pesat menjadi pasar bernilai triliunan dolar. Inisiatif "Get Blue" dari Water.org yang didirikan oleh Matt Damon diluncurkan untuk memperluas akses terhadap air bersih dan sanitasi. Bank Sentral Eropa (ECB) juga mengumumkan rencana untuk meningkatkan ketahanannya terhadap risiko fisik terkait iklim.
Antisipasi Indonesia
Dalam konteks ini, Indonesia perlu bersiap dengan strategi energi jangka panjang yang meliputi:
1. Membangun leadership, perangkat hukum yang kuat serta fiskal yang menarik
2. Menerapkan ESG dalam bisnis, dan mempercepat transisi energi bersih melalui kebijakan dan insentif yang jelas
3. Meningkatkan investasi infrastruktur energi terbarukan termasuk solar, angin, dan hidrogen
4. Membangun kapasitas SDM dan teknologi untuk mendukung inovasi di sektor energi hijau
5. Diversifikasi pasokan energi dan ketahanan energi nasional termasuk migas, batu bara dan renewable yang berimbang
Kesimpulan
Davos 2026 menunjukkan arah perkembangan global, energi bersih akan mengambil porsi utama pembangkit listrik dunia, namun relasi geopolitik dan pasar energi tradisional, migas dan batu bara tetap mempengaruhi kebijakan nasional. Dengan kondisi ketidak-pastian yang semakin lebar, Indonesia harus segera menyesuaikan strategi jangka pendek energi-nya, agar tidak tertinggal dalam era energi baru yang kompetitif dan berkelanjutan.
Ketahanan energi menjadi topik sentral bagi Indonesia di tengah melambungnya impor LPG, ketidak pastian dunia, beban subsidi yang semakin besar, dan melimpahnya cadangan batu bara domestik. Salah satu opsi yang digadang menjadi solusi strategis adalah Dimethyl Ether (DME), sumber bahan bakar yang bisa diproduksi dari hilirisasi gasifikasi batu bara.
Dhahran, Arab Saudi
25 Januari 2026
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Minggu, Januari 25, 2026
Rating:



