Jakarta, OG Indonesia -- Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto mengungkapkan calon buyer potensial dari LNG Masela telah mengerucut jadi lima calon buyer.
"Alhamdulilah, negosiasi lanjutan penjualan LNG Masela ke international buyer dari 66 calon buyer mengerucut jadi 40, kemudian 9 buyer dan terakhir kemarin negosiasi di kantor bp Singapura dan Shell Singapura serta Tokyo Jepang tinggal 5 buyer membahas key term dengan tim teknis Inpex, Petronas, Pertamina dan para buyers di Tokyo Jepang; dimana pihak penjual dan pembeli secara resmi telah mengajukan proposal final harga LNG masing masing yang perbedaannya tinggal +/- 0.2% x harga minyak Brent," ungkap Kepala SKK Migas dalam keterangannya seperti yang didapatkan OG Indonesia, Sabtu (14/3/2026).
Adapun kelima calon potential buyer tersebut, yaitu:
1. Osaka Gas Jepang
2. Kyushu Elektric Jepang
3. Shell Trading
4. bp Trading
5. Chevron Trading
Djoksis menambahkan, rata-rata penawaran yang diajukan harganya +/- 12 % Brent. "SKK Migas, Inpex, Pertamina, dan Petronas sebagai penjual LNG tentunya menawarkan harga di atas asumsi harga POD," ucap Djoksis.
"Pada kesempatan negosiasi kali ini, mereka sangat mengapresiasi sebab untuk pertama kalinya Kepala SKK Migas pimpin langsung negosiasi bersama Inpex, Pertamina dan Presdir Petronas dengan para pihak buyer di Singapura," tuturnya.
Dalam POD Masela disebutkan 60% LNG di ekspor dan 40% untuk domestik. "Puji Syukur di bulan suci Ramadan yg penuh berkah ini Allah memberikan timing yang tepat bahwa pihak penjual kali ini mempunyai bargaining power yang kuat karena apabila pihak internasional Buyer tidak dapat menerima tawaran harga dari pihak penjual maka seluruh LNG akan diserap untuk kepentingan domestik melalui PT PGN demi ketahanan dan kemandirian energi Indonesia di masa datang,
"PGN kali ini jadi pahlawan bagi negeri dan bisa naik tingkat setara dengan tradisional buyer kelas dunia, seperti JERA Jepang; bp Trading, Chevron Trading," terangnya.
"Kami telah memberi deadline kepada para pihak harus sudah memutuskan kesepakatan harga paling telat bulan depan, kemudian saat acara IPA pada bulan Mei 2026 dapatmt ditandatangani HOA / GSA yg binding di hadapan Bapak Menteri dan Bapak Presiden RI," lanjut Djoksis.
Tahun lalu saat Acara IPA yang dihadiri Presiden RI telah ditandatangani HOA Non Binding antara traditional buyer domestic yaitu PLN, PGN & PT Pupuk dengan Inpex Masela.
Setelah HOA/GSA diteken maka selanjutnya negosiasi dengan para financial institution untuk membiaya proyek Abadi Masela, sehingga FID dapat ditandatangani pada Desember 2026.
Djoksis menambahkan, apabila pihak financial institution lambat mengambil keputusan maka pihak Danantara dapat membiayainya, agar tidak ada lagi alasan untuk menunda-nunda proyek ini. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Sabtu, Maret 14, 2026
Rating:



