Oleh: Salis Aprilian, Dewan Pakar Komunitas Migas Indonesia (KMI) dan Senior Advisor to Indonesian Gas Society (IGS)
Dalam bisnis LNG, membeli dengan harga termurah belum tentu merupakan keputusan terbaik. Sebaliknya, mengikat kontrak jangka panjang ketika harga sedang tinggi juga dapat meninggalkan warisan kontrak mahal selama bertahun-tahun. Di antara dua ekstrem itulah strategi procurement LNG harus dibangun.
Persoalan tersebut menjadi salah satu bahasan menarik yang disampaikan Fabian Kor dari SEFE dalam The 5th IndoPacific LNG Summit 2026 di Bali, Juli 2026 yang lalu. Presentasinya mengangkat tema “Operating in a Constrained LNG Market: Procurement and Risk Strategy.”
Ada satu pertanyaan sederhana tetapi sangat fundamental yang muncul dari presentasi tersebut: What is the “right price” for security of supply? Berapa harga yang pantas kita bayar agar pasokan LNG tetap aman?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan bagi Indonesia ketika gas dan LNG kelak mempunyai peranan semakin besar dalam menjaga keandalan sistem energi nasional.
Dari “Point A to Point B” Menuju Portfolio LNG
Dunia LNG telah berubah. Model lama relatif sederhana, yakni produsen mempunyai LNG, pembeli membutuhkan LNG, kemudian dibuat kontrak dari Point A ke Point B. Molekul LNG bergerak dari satu proyek menuju satu pasar.
Tetapi volatilitas harga, ketidakpastian supply-demand, dan meningkatnya ketegangan geopolitik membuat pendekatan seperti itu semakin tidak memadai.
SEFE memperlihatkan pendekatan yang jauh lebih menyerupai sebuah global LNG portfolio. Perusahaan ini memiliki sekitar 10 MTPA portfolio LNG, dengan lebih dari 180 kargo dikirim sepanjang 2025, tujuh LNG carrier, lebih dari 50 regasification slots di Prancis dan Jerman, serta penjualan LNG jangka menengah/panjang di Asia lebih dari 3 MTPA.
Yang menarik bukan hanya besarnya portfolio tersebut, tetapi bagaimana sumber pasokan dan pasar dibentuk. Pada peta yang dipresentasikan terlihat supply tersebar dari berbagai penjuru: US Gulf Coast sekitar 2–3 MTPA, Kanada sekitar 1 MTPA, Kamerun sekitar 1,4 MTPA hingga 2026, Middle East sekitar 1 MTPA, Pacifik sekitar 0,4 MTPA, hingga Argentina sekitar 2 MTPA.
Di sisi demand dan regasification terdapat posisi di Jerman, Dunkirk, Mediterania, India, Asia Timur dan Asia Tenggara. Artinya jelas, yakni jangan menaruh terlalu banyak telur LNG dalam satu keranjang.
SEFE menyebut enam prinsip contracting approach, yaitu: diversifikasi sumber pasokan global, membatasi volume dari satu proyek atau negara, melengkapi kebutuhan home market dengan global sales, mengelola indexation dan exposure, menjaga fleksibilitas melalui FOB/DES, serta memastikan materialitas portfolio.
Semua itu ditopang oleh trading, optimisation, risk-management system, aktivitas di berbagai tenor dan volume, serta jaringan London dan Singapura. Di sinilah, LNG berubah dari sekadar bisnis molecule menjadi bisnis portfolio.
Utility, Portfolio Player, atau Trader?
Ada perkembangan lain yang menurut saya menarik. Batas antara traditional utility, portfolio player, dan trader semakin kabur.
Utility pada masa lalu terutama memastikan kebutuhan fisik, yakni berapa gas yang dibutuhkan pelanggan, berapa LNG yang harus dikontrak, dan kapan kapal harus datang. Trader lebih fokus kepada arbitrase dan keuntungan perdagangan. Sekarang keduanya bertemu.
Presentasi Fabian menunjukkan adanya konvergensi antara fungsi physical demand – LNG supply – shipping – optimisation – trading. Ketika kemampuan internal belum mencukupi, perusahaan membangun commercial cooperation agreement, trading cooperation, bahkan joint venture.
Salah satu contoh yang disebut adalah trading cooperation agreement dengan transaksi lebih dari 2 MTPA, termasuk geographic swaps antarpusat demand untuk meningkatkan security of supply. Bagi perusahaan utility Asia, kemampuan Trading & Optimisation (T&O) karenanya bukan lagi sekadar aktivitas tambahan. Ia mulai menjadi kompetensi inti.
Apakah Era LNG Murah Akan Datang Lagi?
Inilah bagian presentasi yang menurut saya juga menarik. Fabian membandingkan periode 2015–2019 dengan kemungkinan kondisi 2029–2034.
Pada 2015–2019 terdapat tambahan supply lebih dari 140 MTPA, terutama dari Amerika Serikat dan Australia. Demand China memang meningkat, tetapi bahkan pertumbuhan tersebut tidak mampu sepenuhnya menyerap supply LNG baru. Akibatnya, harga spot Asia selama sebagian besar periode tersebut berada pada single digit US$/MMBtu. Menjelang dekade 2030-an, dunia mungkin menghadapi gelombang pasokan yang bahkan lebih besar.
Presentasi tersebut memperkirakan tambahan supply lebih dari 200 MTPA, berasal antara lain dari Amerika Serikat, Qatar, Kanada, Indonesia, dan sumber lainnya. Pada saat yang sama, kondisi demand juga berubah. Pertumbuhan China berpotensi lebih lambat dan mempunyai semakin banyak pilihan dalam bauran energinya. Solar semakin murah, battery storage berkembang secara material, efisiensi energi meningkat, beberapa pembangkit nuklir kembali beroperasi, dan elektrifikasi semakin luas.
Dengan kata lain, LNG bukan hanya bersaing dengan LNG. Ia harus bersaing dengan coal, renewable energy, dan renewable plus battery storage. Tiga research houses yang dikutip dalam presentasi bahkan memperkirakan Asia Spot LNG berada dalam kisaran single digit selama sekitar lima sampai enam tahun pada periode mendatang.
Apakah berarti pembeli sebaiknya menunggu saja? Belum tentu.
Karena Dunia 2030 Bukan Dunia 2015
Ada beberapa perbedaan struktural. Eropa sekarang lebih bergantung kepada LNG. Coal retirement terus berlangsung. Pertumbuhan Artificial Intelligence dan data centre meningkatkan kebutuhan listrik. Dan, yang paling sulit dimasukkan ke dalam spreadsheet adalah "geopolitical disruption."
Perang Rusia-Ukraina memberikan pelajaran mahal tentang hal itu. Krisis geopolitik dapat mengubah keseimbangan LNG global dengan sangat cepat. Maka pasar LNG mempunyai penyakit klasik.
Ketika pasar sedang ketat: “Wants LNG at any price.”
Ketika supply berlebih: “Refuses >12% DES.”
Tetapi ketika krisis datang: “Wishes they signed earlier.”
Itulah tiga perilaku buyer yang secara jenaka tetapi tepat digambarkan dalam presentasi Fabian.
Siklus ketakutan dan penyesalan ini berulang dalam industri LNG.
Misteri Brent Slope 12 Persen
Dalam kontrak LNG berbasis minyak, salah satu angka yang paling sering diperdebatkan adalah Brent slope. Fabian mempertanyakan apakah kontrak Brent-linked DES pada dasarnya bergerak dalam rentang sekitar 10.X% sampai 14.X%. Untuk kontrak plain vanilla DES yang mulai sekitar 2029/2030, indikasinya berada di sekitar mid-12% DES. End-user dengan single destination, tanpa seller flexibility atau optionality, dapat memperoleh discount. Sementara itu, sebagian second-tier Chinese buyers disebut enggan mengikat slope di atas 12% DES mulai 2029 karena mengantisipasi supply glut.
Logikanya mudah dipahami. Mengapa hari ini harus mengunci LNG pada 12,5% Brent selama 15 atau 20 tahun jika kita memperkirakan beberapa tahun lagi spot LNG akan murah? Tetapi di sinilah persoalannya menjadi jauh lebih rumit.
Kontrak 12,5%: Mahal atau Justru Asuransi?
Fabian membuat simulasi menarik. Misalkan pembeli menandatangani kontrak LNG DES dengan slope 12,5%, dimulai pada 2029/2030.
Berdasarkan dua dari tiga kurva jangka panjang research providers yang ditampilkan, kontrak tersebut berpotensi berada dalam kondisi “underwater” selama 6–8 tahun, padahal durasi kontraknya 15–20 tahun.
Dengan kata lain, selama beberapa tahun buyer mungkin melihat harga spot lebih murah dibanding harga LNG kontraknya.
Manajemen kemudian pasti bertanya: “Untuk apa dulu kita menandatangani kontrak mahal ini?”
Tetapi pertanyaan sebaliknya juga harus diajukan, yakni "Seberapa yakin kita terhadap long-term price curve tersebut?"
Forecast adalah forecast. Model dapat menghitung supply-demand berdasarkan proyek yang direncanakan, pertumbuhan ekonomi, cuaca normal, coal retirement, penetrasi renewable dan sebagainya. Hanya saja, model sulit meramalkan perang berikutnya, penutupan jalur pelayaran, embargo, gangguan fasilitas LNG, atau krisis geopolitik besar.
Fabian kemudian mengajukan pertanyaan yang jauh lebih penting: "Would you risk leaving it to spot/strip procurement?"
Bagaimana kalau kejadian seperti krisis Rusia-Ukraina 2022 atau krisis Timur Tengah 2026 kembali terjadi?
Nah, di sinilah kontrak jangka panjang memperoleh nilai yang sering tidak terlihat dalam perhitungan harga sederhana.
Namanya: "security of supply."
LNG Contract Bukan Sekadar Harga Molekul
Saya kira ini pelajaran yang sangat penting. Ketika membandingkan kontrak LNG, kita sering terlalu fokus kepada US$/MMBtu atau Brent slope.
Padahal kontrak LNG sesungguhnya merupakan paket risiko. Ada harga. Ada volume. Ada destination. Ada shipping. Ada flexibility. Ada optionality. Ada indexation. Ada diversion rights. Ada price review. Dan tentu saja ada kepastian pasokan.
Presentasi Fabian juga mengingatkan perlunya melihat apakah kontrak LNG mempunyai struktur back-to-back dengan downstream menggunakan indexation yang sama ditambah margin, seberapa besar contractual flexibility/optionality yang benar-benar dapat dimonetisasi, serta bagaimana mekanisme price review trigger ketika kondisi pasar berubah secara material.
Karena itu dua kontrak dengan slope sama-sama 12,5% belum tentu mempunyai nilai ekonomi yang sama.
Optionality has value. Flexibility has value. Security has value. Dan, semuanya mempunyai harga.
Pelajaran untuk Indonesia
Bagi saya, materi ini sangat relevan untuk tata kelola gas dan LNG Indonesia. Indonesia mempunyai posisi yang unik. Kita adalah produsen LNG, tetapi pada saat yang sama kebutuhan gas domestik—terutama untuk pembangkit listrik dan industri—membutuhkan sistem supply yang semakin fleksibel. Karena itu kita sebaiknya tidak melihat LNG semata-mata sebagai komoditas yang harus dikirim secara kaku dari satu sumber menuju satu pembeli.
Kita perlu mulai berpikir dalam kerangka National Gas & LNG Portfolio. Artinya, kontrak jangka panjang, menengah, short term, dan spot bukanlah pilihan yang saling meniadakan. Masing-masing mempunyai fungsi berbeda dalam portfolio.
Presentasi Fabian secara tegas menyimpulkan bahwa tidak ada formula universal mengenai berapa persen LT, MT, ST (Long, Mid, Short Terms) ataupun spot yang ideal. Setiap portfolio mencerminkan risiko dan tujuan bisnis yang berbeda.
Strategi contracting, karenanya, harus mengikuti business objectives, bukan sekadar mengikuti market consensus. Ini penting. Kalau kebutuhan dasar sistem kelistrikan nasional harus tersedia setiap hari, bagian tersebut tentu tidak bijaksana bila seluruhnya diserahkan kepada spot market.
Sebaliknya, mengunci seluruh kebutuhan selama 20 tahun juga dapat menghilangkan fleksibilitas ketika pasar berubah.
Maka, persoalannya bukan LT contract atau spot, melainkan berapa volume yang harus diamankan, berapa yang harus dibuat fleksibel, dan berapa yang sengaja dibiarkan terbuka agar dapat dioptimalkan melalui pasar?
Dari “Security of Supply” Menuju “Security through Portfolio”
Ada satu perubahan paradigma yang layak kita pikirkan. Selama ini 'security of supply' sering diterjemahkan sebagai 'punya kontrak LNG jangka panjang.' Menurut saya definisinya harus diperluas.
'Security of supply' yang modern justru dibangun melalui portfolio, yaitu: diversifikasi sumber pasokan, multiple suppliers, kombinasi FOB dan DES, shipping capability, terminal access, storage, jaringan pipa, fleksibilitas destination, kontrak berbagai tenor, spot exposure, serta kemampuan trading dan optimisation.
Inilah yang terlihat dari model SEFE.
Dan, semakin LNG menjadi komoditas yang 'fungible,' keunggulan kompetitif perlahan bergeser. Bukan lagi hanya soal siapa mempunyai akses terhadap molecules, tetapi siapa yang paling mampu mengoptimalkan molecules tersebut. Fabian bahkan menekankan bahwa trading dan optimisation membutuhkan sistem, talenta, risk management, dan performance metrics yang berbeda dari bisnis utility ataupun E&P tradisional.
Ini menurut saya salah satu pesan terpenting untuk industri gas Indonesia.
Kita mempunyai molecules.
Kita mempunyai LNG plants.
Kita mempunyai receiving terminals.
Kita mempunyai FSRU.
Kita mempunyai pasar besar.
Tetapi pertanyaan berikutnya adalah: Apakah kita sudah mempunyai kemampuan portfolio, trading, optimisation, dan risk management yang cukup kuat untuk menghubungkan semuanya?
Lebih Baik Kelebihan daripada Kekurangan?
Pada bagian penutup, Fabian menyampaikan beberapa kalimat yang sangat mengena: “It's easier to sell excess LNG than explain a shortage.” Dan, “A cargo in hand is worth 2 in the spot market.”
Tentu bukan berarti kita harus membeli LNG sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan keekonomian.
Pesannya justru lebih substansial. Dalam sistem energi, reliability mempunyai economic value. Kelebihan satu cargo masih dapat dijual, di-swap, di-divert, atau dioptimalkan—terutama bila kita mempunyai trading capability. Tetapi kekurangan LNG ketika pembangkit membutuhkannya dapat berarti pembangkit berhenti, industri kehilangan pasokan gas, listrik terganggu, dan pada akhirnya biaya ekonomi yang muncul mungkin jauh lebih besar daripada sekadar selisih harga LNG beberapa dolar per MMBtu.
Maka ukuran keberhasilan procurement LNG tidak seharusnya hanya: “Apakah saya membeli paling murah?”
Ukuran yang lebih tepat adalah: “Apakah portfolio saya mampu menyediakan energi ketika dibutuhkan, pada risiko dan biaya yang masih dapat diterima?”. Itulah barangkali hakikat security of supply.
Dari materi Fabian Kor ini saya menangkap satu pelajaran sederhana, yakni dalam bisnis LNG, kontrak termurah belum tentu yang paling menguntungkan, sementara kontrak yang tampak mahal belum tentu merupakan keputusan yang buruk.
Sebab yang kita beli sesungguhnya bukan hanya LNG.Kita juga membeli kepastian.
Dan, di dunia energi yang semakin penuh volatilitas dan ketidakpastian geopolitik, kepastian itu mempunyai harga. Persoalannya tinggal satu, yakni berapa harga yang pantas kita bayar untuk "security of supply" itu?
---------------
Bogor, jelang waktu Dhuha
Kamis, 13 Agustus 2026
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Kamis, Agustus 13, 2026
Rating:



