Resmi Ditandatangani, Perubahan Skema Jual Beli NPL-LPG dari Hilir ke Hulu Beri Tambahan Lifting Minyak 10.165 BOPD
Jakarta, OG Indonesia -- Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto menyampaikan perjanjian perubahan skema jual beli NGL-LPG dari skema hilir menjadi hulu telah resmi ditandatangani.
"Alhamdulilah kemarin pagi telah ditandatangani perjanjian perubahan skema jual beli NGL-LPG dari skema hilir menjadi skema hulu oleh para KKKS sebagai seller dan para buyer," kata Kepala SKK Migas dalam keterangan yang didapatkan OG Indonesia, Selasa (10/3/2026).
Beberapa pihak yang hadir menandatangani dari KKKS sebagai seller, antara lain: Muhamad Arifin (Presdir PHR), Ruby Mulyawan (Presdir PEPC), Rachmat Hidajat (Presdir Pertamina EP), Yuzaini Md Yusof (Presdir Petronas Indonesia), Sofian Arsyad (Direktur PHE WMO).
Sementara dari para buyer turut menandatangani para presdir dari perusahaan berikut: PT Essa, PT Asynergy, dan lain-lain.
Sebagaimana diketahui bersama, gas yang keluar dari sumur sebagian menjadi kondensat yang dicatat sebagai bagian dari lifting minyak. Perlakuan sama dengan sumur yang mengandung C3 & C4 alias Propana & Butana, dapat diubah menjadi cair dalam temperatur standar dan sedikit di atas tekanan standar.
"Hal ini sudah sesuai dengan ketentuan yang ada baik dalam UU Migas maupun kontrak PSC & standar internasional, bahwa NGL/ LPG sebagai Petroleum (minyak)," kata Djoksis. "Sehingga dengan ditandatanganinya perjanjian ini maka mulai Maret, lifting minyak kita bertambah sebesar +/- 10.165 bopd," tambahnya.
Menurutnya, perubahan skema ini bertujuan selain menambah lifting minyak juga dapat membangkitkan semangat para KKKS dan investor LPG Plant untuk memproduksi LPG lebih banyak lagi dari dalam negeri khususnya dari sumur sumur yang mengadung C3 & C4 / Propana & Butana.
"Insya Allah sehabis lebaran dapat diresmikan oleh Bapak Presiden, Menteri, Wamen, pabrik-Pabrik LPG," ungkap Djoksis.
Yang pertama ada di Cilamaya, Jawa Barat yang dibangun oleh PT ENP dengan pasokan C3 & C4 bersumber dari lapangan Pertamina Hulu Energi ONWJ. Ada lagi pabrik LPG yang dibangun oleh PT SAG di Jawa Timur, di mana C3 & C4 berasal dari Lapangan Sumber Pertanina EP, dengan tambahan produksi total+/- 3000 BOPD (LPG dan Kondensat).
Kepala SKK Migas menambahkan, bersamaan juga ada onstream-nya beberapa lapangan migas di Indonesia antara lain Lapangan Sisi Nubi AOI PHM (120 mmscfd), O-OOX- PHE ONWJ (3000 bopd), Lapangan Gas Wain (6 mmscfd), dan Tomori Selatan (2800 bopd, gas 120 mmscfd), EOR Minas (1.200 bopd), Medco Grissik (118 mmscfd), Lapangan Sidikin (325 bopd), EMP Bentu (20 mmscfd, kondensat 90 mmscfd), Puspa Asri Pertamina (1.000 bopd), ENI Lapangan Maha (100 mmscfd).
"Sehingga total minyak, kondensat, LGL/LPG sebesar 21.500 BOPD dan gas sebesar 550 mmscfd," terang Kepala SKK Migas.
Selanjutnya segera pula dibangun pabrik LPG di Sulawesi dengan C3/C4 bersumber dari Lapangan JOB Pertamina-Medco Tomori, serta pabrik LPG di Jambi yang rencananya dibangun dengan pemindahan pabrik LPG dari Jawa Timur ke Jambi. Adapun C3/C4 berasal dari PHE Jambi Merang) yang keduanya akan onstream tahun 2027 dengan total LPG & kondensat +/- 3000 bopd.
Pertimbangan pemindahan pabrik LPG dari Jatim ke Jambi mengingat sumber C3/C4 dari lapangan PHE WMO akan segera habis dalam kurun waktu 2-3 tahun ke depan.
"Untuk memanfaatkan aset yang ada jangan sampai idle dan dalam rangka efisiensi dan percepatan produksi LPG di dalam negeri yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Untuk itu maka kami sangat memerlukan bantuan Pak Menteri, Pak Wamen dan Dirut Pertamina untuk disegerakan keputusan membangun dua pabrik LPG tersebut mengingat juga kondisi perang Timur Tengah yang sulit mendapatkan harga LPG impor yang terjangkau," harap Kepala SKK Migas. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Selasa, Maret 10, 2026
Rating:



