Jakarta, OG Indonesia -- Perkembangan ilmu kebumian saat ini menuntut adanya pendekatan multidisiplin dalam memahami potensi sumber daya alam serta dinamika proses geologi yang terjadi di bumi. Untuk mengkaji lebih dalam terkait itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Sumber Daya Geologi menyelenggarakan webinar DIGDAYA (Diskusi Geologi Sumber Daya) edisi ke-23 dengan tema “Hidrogeokimia dan Aplikasi Radon dalam Eksplorasi Sumber Daya serta Penelitian Ilmu Kebumian” pada Rabu (3/6/2026).
Salah satu pendekatan yang semakin berkembang adalah pemanfaatan hidrogeokimia dalam karakterisasi mineral kritis dan strategis, yang berperan penting dalam mendukung kebutuhan industri, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan. Kajian hidrogeokimia mampu memberikan informasi mengenai interaksi air-batuan, distribusi unsur kimia, hingga indikasi keberadaan mineral bernilai ekonomi yang tersebar di suatu wilayah.
Hidrogeokimia adalah sebuah pendekatan geokimia untuk mengetahui asal muasal (genetik), karakter atau kualitas air atau sistem sumber daya perairan, dan pemanfaatanya.
Kepala Pusat Riset Sumber Daya Geologi, Iwan Setiawan menyatakan bahwa riset Hidrogeokimia untuk Sumber Daya Alam Berkelanjutan berpotensi dapat memetakan kualitas dan lapisan air di permukaan sampai lapisan bawah tanah (akuifer). Sebagai contoh, dapat mengetahui kesesuaian kualitas dan distribusi akuifer air tanah sebagai sumber air minum.
“Selain itu riset hidrogeokimia dapat menjadi bentuk mitigasi dan monitoring kelayakan ekosistem dan mitigasi menurunnya kesehatan lingkungan. Misal memahami asal muasal unsur dan air dalam ekosistem perairan. Selain itu juga untuk percepatan pemanfaatan panas bumi melalui pemahaman karakteristik dan genesa sistem fluida panas bumi berpotensi untuk energi listrik atau pemanfaatan langsung panas bumi,” ujar Iwan.
Di sisi lain, Iwan menjelaskan bahwa aplikasi radon dalam penelitian ilmu kebumian juga menunjukkan perkembangan yang signifikan. Radon sebagai gas radioaktif alami dapat dimanfaatkan sebagai indikator dalam berbagai penelitian geologi, hidrogeologi, mitigasi bencana, hingga eksplorasi sumber daya alam.
“Riset mengenai Aplikasi Radon dapat berpotensi untuk eksplorasi panas bumi terutama memanfaatkan anomali konsentrasi gas radon tinggi, digunakan untuk pemetaan struktur geologi atau sistem rekahan yang berhubungan dengan sumber panas pada sistem panas bumi vulkanik dan non vulkanik serta sebagai bentuk mitigasi bencana geologi dengan memanfaatkan anomali gas radon tinggi pada zona patahan aktif yang berkaitan dengan aktivitas gempa tektonik maupun vulkanik,” jelas Iwan.
Melalui webinar ini, Iwan berharap adanya peluang untuk meningkatkan kapasitas dan kolaborasi riset masyarakat khususnya para periset, praktisi, serta industri untuk saling mengisi, bersinergi dan berkolaborasi mengembangkan teknologi instrumentasi dan pemantauan geokimia yang terintegrasi berbasis teknologi sekarang seperti pengembangan IoT/Machine Learning
“Selain itu langkah strategis mitigasi bahaya geologi dengan memanfaatkan : teknologi deteksi gas radon dan pemantauan air tanah secara real-time untuk diterapkan di wilayah rawan bencana seperti daerah patahan aktif atau rawan gerakan tanah serta menjadi pedoman pengambilan keputusan atau kebijakan pengembangan wilayah dengan pemanfaatan hasil riset geokimia sebagai basis data dalam menyusun kebijakan tata ruang dan perlindungan lingkungan yang berkelanjutan,” terang Iwan.
Webinar ini menghadirkan narasumber Dr. Rizka Maria, M.T., Peneliti Hidrogeologi, Geomedis dan Geologi Lingkungan dari Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN serta Dr. Heri Nurohman, M.Sc. Peneliti Ahli Muda dari Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN. Turut hadir sebagai Penanggap Dr. Taat Setiawan, Kepala Balai Konservasi Air Tanah, Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi, Kementerian ESDM. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Rabu, Juni 03, 2026
Rating:



