Foto: Ridwan Harahap
Palembang, OG Indonesia – PT Pertamina Hulu Rokan
(PHR) Zona 4 sebagai bagian dari Regional 1 Subholding Upstream Pertamina yang
mengelola wilayah kerja migas Pertamina di Sumatera Selatan terus mengejar
target produksi minyak 30.000 barel per hari (bopd) dan produksi gas 484 juta
standar kaki kubik per hari (MMscfd). Berdasarkan realisasi produksi hingga
Agustus 2026, PHR Zona 4 telah mencatat produksi minyak sekitar 28.000 bopd.
Sementara produksi gas sudah melampaui target dengan realisasi produksi sudah
menembus 540 MMscfd.
Guna merealisasikan target tersebut, salah satu upaya yang
dilakukan PHR Zona 4 adalah dengan agresif mengebor hingga 100 sumur sepanjang
tahun 2026. “Secara prognosa, itu akan terealisasi 86 sumur. Nah, ada gap
14 sumur yang salah satu challenge-nya lebih kepada pengadaan/pembebasan
lahan,” kata Pjs General Manager PHR Zona 4, Luthfi Ferdiansyah, kepada OG
Indonesia dan beberapa awak media massa nasional di Palembang, Sumatera
Selatan, Selasa (25/8/2026).
Luthfi menambahkan, jika tak terealisasi, target pengeboran 14 sumur tersebut akan carry over ke tahun 2027, ditambah dengan target pengeboran tahun 2027 yang tetap memasang 100 pengeboran sumur. Dia mengungkapkan, terdapat 16 rig bor yang sebagian besar disediakan dari Pertamina Drilling untuk mengejar target pengeboran sumur tersebut.
“Karena
memang tiap tahun itu selalu naik, selalu naik, target untuk bornya,” jelas Luthfi
seraya mengungkapkan gencarnya kegiatan pengeboran tersebut demi menahan laju decline
produksi secara alamiah pada lapangan-lapangan tua yang ada di Zona 4 yang rata-rata
sekitar 30%.
Selain melakukan pengeboran, PHR Zona 4 juga aktif
mengerjakan kegiatan work over dan well intervention. Luthfi
membeberkan, di Prabumulih ada enam rig kecil untuk merawat dan melakukan
kegiatan pindah lapisan. “Itu lumayan masif pekerjaannya,” tutur Luthfi.
Dari wilayah Zona 4, Lutfhi menjelaskan saat ini ada tiga
struktur yang menjadi andalan dalam menyumbang produksi migas, yaitu Gunung
Kemala, Lembak-Kemang-Tapus (LKT), dan Benuang. “Itu adalah tiga (struktur)
yang selama ini menjadi suksesor lah ya terkait produksi,” imbuhnya.
Luthfi menceritakan bagaimana dahulu dari Struktur Gunung
Kemala produksi minyaknya hanya 200 bopd. “Sudah mau kita tinggalkan,”
ungkapnya. “Tetapi berkat inovasi teman-teman dengan meng-update 3D
seismik, dan lain-lain, muncul lah satu sumur, seribu-seribu (bopd),”
lanjutnya.
Dari pengembangan di area Gunung Kemala, diungkapkan Lutfhi,
pada tahun 2026 ini terdapat 15 sumur yang dibor secara batch drilling yaitu
metode pengeboran beberapa sumur dari satu lokasi yang sama (wellpad),
dengan tahapan kerja dilakukan secara berurutan tanpa perlu rig down atau
bongkar pasang rig.
Lalu dari Struktur LKT yang dekat dengan wilayah Sele Raya
Belida, diceritakan Luthfi dapat memakai akses jalan dari Sele Raya Belida. “Kita
dapat satu sumur secara tes 3.000 (bopd), tetapi kita produksikan sekitar 500 (bopd)
agar produksinya bisa bertahan lama. Ini kita lagi kembangkan di area situ,”
terang Luthfi.
Pengeboran Step Out
Dalam mengatasi permasalahan dari lapangan mature yang
ada di wilayahnya, PHR Zona 4 juga melakukan inovasi pengeboran step out
yaitu pengeboran di luar batas area yang telah terbukti produktif untuk
mengetahui potensi kemenerusan reservoir juga mengalir di wilayah
sekitar. “Teknik step out yang kami lakukan itu setiap struktur harus
ada satu step out untuk membuka peluang-peluang potensi baru,”
sambungnya.
Di wilayah Zona 4 juga melakukan kegiatan eksplorasi migas
seperti di Wilela yang berada di area Prabumulih Field. “Ada discovery gas,
itu sudah dua sumur dikerjakan. Kemungkinan besar 2028 kita akan put on
production, sumur itu akan diproduksikan. Potensi gasnya lumayan besar
berdasar informasi dari eksplorasi,” jelas Luthfi. “Mungkin kita produksikan
per sumur itu 4 MM-an (MMscfd),” tambahnya.
Dalam upaya menjaga serta meningkatkan produksi migasnya,
PHR Zona 4 teguh menerapkan spirit TNI (Trust, Nyaman, dan Inovatif). “Pertama
adalah Trust, saling percaya satu sama lain. Ketika sudah ada trust, akan
menimbulkan Nyaman. Dengan nyaman itu akan timbul Inovatif. Nah itu yang
secara internal kami terapkan di Zona 4,” lanjut Luthfi.
Apresiasi disampaikan oleh Kepala Perwakilan SKK Migas
Sumbagsel Bambang Dwi Djanuarto atas kerja keras yang telah dilakukan oleh PHR
Zona 4. “Kami mengapresiasi untuk kinerja baik yang telah dilakukan teman-teman
Zona 4, salah satunya dari Field Prabumulih yang menjadi penyumbang terbesar produksi
minyak dan gas di wilayah Sumatra bagian selatan,” ucap Dwi dalam kesempatan
yang sama.
Asal tahu saja, PHR Zona 4 menjadi penyumbang terbesar sekitar 50% dari total produksi migas Pertamina EP dari seluruh wilayah Indonesia. “Jadi kalau teman-teman Zona 4 terganggu, Pertamina EP produksinya terganggu. Kalau Zona 4 bagus, Pertamina EP-nya juga bagus. Alhamdulillah, Pertamina EP ini salah satunya yang berhasil melampaui target WP&B dan APBN,” puji Dwi. “Mudah-mudahan ke depannya kita sama-sama bisa membantu pemerintah mencapai target lifting nasional di tahun 2027,” harapnya. RH


