Jakarta, OG Indonesia -- Ketua umum Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) Elan Biantoro menegaskan bahwa industri migas masih sangat strategis dan berperan penting dalam menjaga ketahanan dan kedaulatan energi di Indonesia.
"Kita tahu bahwa minyak dan gas bumi menyumbang 60 persen energi nasional, sisanya dari batu bara dan juga dari energi baru dan terbarukan seperti geothermal, tenaga air, dan lain-lain," ucap Elan saat memberikan welcoming speech dalam acara Oil & Gas Talk dengan tema "Transisi Energi yang Disruptif: Mengelola Risiko Aset Minyak dan Gas Bumi di Tengah Volatilitas" pada gelaran Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series 2026 di JIExpo, Jakarta, Rabu (9/11/2026).
Namun Elan mengingatkan bahwa industri hulu migas bukanlah industri yang mudah dilaksanakan karena membutuhkan teknologi yang baik dan mutakhir, biaya yang tidak sedikit, memiliki risiko tinggi, dan banyak faktor lainnya yang memengaruhi, seperti faktor cuaca, alam, dan juga geopolitik.
"Itu membuat industri migas tidak mudah tetapi harus dikerjakan, dikelola dengan baik oleh para pihak yang memang mengetahui dan memahami industri ini," terang Elan.
Dia juga mengingatkan bahwa industri hulu migas sifatnya butuh kontinuitas dan konsistensi terhadap kontinuitas.
"Apa yang kita hasilkan sekarang ini adalah hasil dari upaya yang dirintis sejak 5–10 tahun yang lalu. Dan apa yang mulai kita sekarang kerjakan, hasilnya baru akan kita dapatkan 5 sampai 10 tahun yang akan datang. Artinya, ini tidak bisa dikelola secara periodikal 5 tahun sekali. Jadi harus dipegang oleh orang-orang yang kompeten dan konsisten," bebernya.
Dalam kesempatan yang sama, Hendra Gunawan, Direktur Pengembangan Program, Direktorat Jenderal Migas, Kementerian ESDM menyampaikan opening speech yang diwakilkan oleh Rizal Fajar Muttaqin, Koordinator Penyiapan Program Migas.
Dia menyampaikan bahwa sektor energi Indonesia saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan yang semakin kompleks dan dinamis.
Tantangan tersebut mencakup ketidakpastian geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada stabilitas Selat Hormuz sebagai jalur distribusi energi dunia; akselerasi transformasi teknologi di sektor migas melalui digitalisasi, Artificial Intelligence, big data, dan Internet of Things (IoT); urgensi penurunan emisi gas rumah kaca untuk mitigasi perubahan iklim di tengah kebutuhan akan akses energi yang terjangkau dan andal; serta isu sosial dan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasi hulu migas.
"Termasuk peningkatan kapasitas SDM, kemandirian ekonomi, pengembangan usaha lokal, dan pemenuhan akses pendidikan, kesehatan, dan lingkungan berkelanjutan," tuturnya.
Pentingnya PPM
Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) kini menempati posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan operasi dan aset minyak dan gas bumi nasional, bukan sekadar program sosial yang bersifat administratif.
Hal ini disampaikan Koordinator Kerja Sama Minyak dan Gas Bumi, Ditjen Migas, Kementerian ESDM, Dedi Supriyanto, dalam sesi diskusi. Dedi mengatakan bahwa keberlanjutan operasi migas tidak hanya ditentukan oleh keandalan aset teknis, tetapi juga oleh terciptanya lingkungan sosial yang kondusif dan resilien di sekitar wilayah operasi.
Melalui regulasi SK Dirjen Migas No. 0152 Tahun 2018 dan PTK-017 SKK Migas Tahun 2015, PPM diarahkan untuk membangun ketahanan wilayah, kelembagaan masyarakat, kohesi sosial, pengembangan SDM, serta pemberdayaan ekonomi lokal.
"PPM yang terintegrasi dan berbasis pengelolaan risiko sosial terbukti mampu menekan potensi gangguan operasi, seperti keluhan masyarakat, konflik, hingga aksi penghadangan akses, yang jika tidak dikelola dapat berujung pada operational downtime, production loss, dan penurunan nilai aset," jelasnya.
Oleh karena itu, menurutnya keberhasilan PPM perlu diukur dari perubahan nyata dan kontribusinya terhadap keberlanjutan operasi, bukan semata dari jumlah kegiatan atau anggaran. "Sehingga PPM menjadi jembatan antara kebermanfaatan bagi masyarakat dan keberlangsungan industri migas nasional," tutup Dedi.
Acara Oil & Gas Talk dengan tema "Transisi Energi yang Disruptif: Mengelola Risiko Aset Minyak dan Gas Bumi di Tengah Volatilitas" merupakan kegiatan dikusi yang diinisiasi Direktorat Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi, Ditjen Migas, Kementerian ESDM dan Aspermigas.
Beberapa pembicara yang hadir dalam diskusi ini antara lain Dedi Supriyanto (Koordinator Kerja Sama Minyak dan Gas Bumi, Ditjen Migas, Kementerian ESDM), Firera (Vice President Dukungan Bisnis SKK Migas), Agung Eka Purnawan (SVP Project Risk Management, PT Pertamina (Persero)), Didik Sasono Setyadi (Ketua Umum APHMET & Senior Partner PT Putra Pratama Investama Energi), dan Aldi Ardilo– Executive Director Enterprise Risk Management Academy (ERMA Pte Ltd). Diskusi dipandu oleh Moshe Rizal, Managing Partner PT Putra Pratama Investama Energi yang juga Ketua Investasi Aspermigas.
Pihak Aspermigas seperti dikatakan Elan Biantoro menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kerja sama dengan Direktur Bidang Perencanaan Program, Direktorat Jenderal Migas, Kementerian ESDM bersama Aspermigas dan juga Pamerindo sebagai penyelenggara IEE Series 2026. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Jumat, September 11, 2026
Rating:



