Pengalaman Indonesia dengan Sepeda Motor Listrik Jadi Pelajaran di BRICS+


Jakarta, OG Indonesia --
 Menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di  New Delhi, pengalaman Indonesia menunjukkan insentif yang tepat sasaran dapat  mempercepat adopsi kendaraan listrik yang lebih terjangkau. Program subsidi motor listrik mendorong penggunaan secara cepat, namun momentumnya dapat dapat hilang ketika  dukungan dihentikan, menurut analisis terbaru International Institute for Sustainable  Development (IISD) mengenai kebijakan kendaraan listrik di negara-negara BRICS+.

Setidaknya tujuh dari 21 negara BRICS+ telah mengarahkan subsidi untuk kendaraan listrik dan layanan transportasi yang banyak digunakan masyarakat berpenghasilan rendah dan  menengah, mulai dari kendaraan roda dua dan tiga, hingga bus dan transportasi bersama.

Analisis IISD menunjukkan bahwa manfaat publik dari kebijakan kendaraan listrik dapat  lebih besar ketika dukungan diarahkan pada moda transportasi yang terjangkau dan  banyak digunakan kelompok berpendapatan rendah dan menengah, dibandingkan subsidi  yang lebih banyak dinikmati pemilik mobil pribadi berpenghasilan lebih tinggi. Pendekatan  ini dapat sekaligus mendorong pemerataan akses terhadap mobilitas dan memperkuat  ketahanan energi.

Indonesia menjadi salah satu contoh paling jelas mengenai seberapa responsif pasar  kendaraan roda dua terhadap dukungan kebijakan. Pembelian sepeda motor listrik  bersubsidi meningkat lebih dari lima kali lipat, dari 11.532 unit pada 2023 menjadi sekitar  60.000 unit pada 2024. Namun, ketika subsidi tidak dilanjutkan pada 2025, penjualan  turun 29% menjadi sekitar 55.000 unit. Hal ini menunjukkan pentingnya konsistensi dan  kepastian kebijakan dalam membangun dan menjaga momentum pasar kendaraan listrik.

Indonesia kemudian kembali mengambil langkah untuk memulihkan dukungan terhadap  pasar. Pada Agustus 2026, pemerintah mengumumkan subsidi baru sebesar Rp3 juta  (US$169) per unit untuk 1 juta sepeda motor listrik produksi dalam negeri, dengan  kemungkinan penambahan kuota apabila permintaan melampaui target. Memasuki kuartal  ketiga 2026, pemerintah masih menyempurnakan mekanisme mekanisme  pelaksanaannya.

“Pasca penghentian insentif pada 2025, dunia usaha mengalami tekanan cukup besar.  Meski tren kembali meningkat pada 2026, kenaikannya belum signifikan untuk mencapai target. Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa pasar ini bisa berkembang pesat ketika  didukung oleh kebijakan yang tepat, tetapi juga dapat mengalami penurunan tajam ketika  dukungan tersebut dihentikan,” ujar Arzalia Wahida, Policy Advisor di IISD. 

“Hal yang  terpenting adalah menjaga momentum tersebut dengan kebijakan yang konsisten dan  memberikan kepastian jangka panjang bagi pengguna maupun pelaku industri," sambungnya.

Pola yang lebih luas di negara-negara BRICS+

Sekitar 84% populasi BRICS+ tinggal di negara pengimpor minyak, sehingga rumah tangga  dan pemerintah rentan terhadap volatilitas harga minyak global. Dengan transportasi darat  menyumbang hampir separuh permintaan minyak dunia, peralihan ke mobilitas listrik  memberikan peluang besar bagi negara-negara BRICS+ untuk mengurangi ketergantungan  minyak, memperkuat ketahanan energi, dan membangun ketahanan ekonomi. 

"Bagi negara-negara yang bergantung pada impor minyak, transisi kendaraan listrik bukan  hanya tentang mengurangi emisi, tetapi juga tentang mengurangi ketergantungan pada  pasar minyak global dan melindungi masyarakat berpendapatan rendah dari dampak  kenaikan harga,” tambah Arzalia.

“Namun, jika insentif lebih banyak diarahkan untuk mobil pribadi, manfaatnya justru bisa  lebih banyak dinikmati oleh kelompok berpenghasilan lebih tinggi. Sebaliknya, insentif  untuk moda transportasi yang sehari-hari digunakan oleh jutaan masyarakat  berpendapatan yang lebih rendah dapat membantu mempercepat adopsi kendaraan listrik  sekaligus mencapai tujuan ketahanan energi,” lanjutnya.

Bagi negara seperti Indonesia, di mana sepeda motor masih menjadi moda transportasi  utama bagi jutaan pengguna, prinsip ini sudah terlihat nyata dalam praktiknya. Analisis  tersebut mengidentifikasi dua pendekatan yang digunakan pemerintah BRICS+ untuk  menerapkannya.

Pendekatan pertama berfokus pada kendaraan pribadi yang relatif terjangkau, termasuk  sepeda motor, skuter, dan sepeda listrik, yang menjadi moda transportasi utama bagi  masyarakat berpenghasilan lebih rendah di negara-negara seperti Indonesia, India,  Thailand, dan Malaysia.

Di India, dukungan berkelanjutan dari pemerintah mendorong pangsa penjualan kendaraan  listrik roda dua naik dari sekitar 0,4% pada paruh pertama 2021 menjadi rekor 11% pada  Juli 2026. Sementara itu, program tukar tambah sepeda listrik di Tiongkok mendorong 12,5  juta pembelian hanya dalam tahun 2025.

Pendekatan kedua adalah elektrifikasi transportasi publik dan bersama, seperti bus,  kendaraan roda tiga, dan minibus, sehingga manfaat elektrifikasi dapat dirasakan  masyarakat tanpa memandang kepemilikan kendaraan.

Brasil mengalokasikan USD1,7 miliar melalui New Growth Acceleration Program untuk  membiayai 2.296 bus listrik di 61 kota. Penjualan bus bebas emisi di negara tersebut  melonjak 160% antara 2024 dan 2025. Di São Paulo dan Salvador, sekitar sepertiga hingga  hampir separuh penumpang bus berasal dari masyarakat berpenghasilan hingga dua kali  upah minimum. Pengalaman ini menunjukkan bagaimana elektrifikasi bus dapat  memberikan manfaat bagi masyarakat berpenghasilan rendah secara langsung.

Jakarta memiliki roadmap yang cukup konkret untuk elektrifikasi transportasi publik.  Hingga 2026, TransJakarta mengoperasikan sekitar 4.792 armada, termasuk 500 bus listrik.  Pemerintah Provinsi DKI menargetkan 50% armada berbasis listrik pada 2027 dan  elektrifikasi penuh pada 2030, dengan total sekitar 10.047 armada. Program ini dijalankan  melalui skema buy-the-service (BTS) dan fleet-as-a-service (FaaS) yang memungkinkan  kolaborasi pemerintah dan swasta sekaligus mengurangi beban fiskal dalam pengadaan  aset bus.

Kebijakan yang konsisten dan pembiayaan yang terjangkau menjadi kunci  keberhasilan transisi 

Analisis IISD menegaskan bahwa transisi kendaraan listrik yang inklusif dan berkelanjutan  membutuhkan kepastian arah kebijakan, skema pembiayaan yang terjangkau, serta  infrastruktur pengisian yang mudah diakses. Indonesia menjadi contoh nyata: penjualan  sepeda motor listrik melambat setelah skema subsidi berakhir pada 2025. 

Berakhirnya  dukungan mengakibatkan meningkatnya harga yang harus ditanggung konsumen sensitif  biaya, menimbulkan keraguan pasar, dan menciptakan ketidakpastian operasional bagi  produsen lokal.

"Anggaran publik perlu digunakan untuk mengurangi ketimpangan dan  menyediakan transportasi yang lebih terjangkau. Artinya, perhatian perlu diperluas lebih  dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum yang menopang mobilitas sehari-hari jutaan  orang. Bentuk insentif yang tepat akan berbeda di setiap negara, tetapi kepastian  kebijakan, keterjangkauan pembiayaan, dan kesiapan infrastruktur tetap menjadi fondasi  utamanya,” pungkasnya. RH

Pengalaman Indonesia dengan Sepeda Motor Listrik Jadi Pelajaran di BRICS+ Pengalaman Indonesia dengan Sepeda Motor Listrik Jadi Pelajaran di BRICS+ Reviewed by Ridwan Harahap on Senin, September 07, 2026 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.