Selasa, 30 April 2019

ITB Kibarkan Katalis Merah Putih untuk Produksi BBN

Foto-foto: Hrp
Bandung, OG Indonesia -- Institut Teknologi Bandung (ITB) berusaha mengibarkan industri katalis Merah Putih di Indonesia. Dengan bisa membuat resep katalis dari penelitian sendiri maka Indonesia nantinya tak lagi tergantung kepada impor katalis dari luar negeri yang tentunya lebih mahal.

"Katalis kami sekarang lebih murah daripada katalis impor. Dengan tidak impor adalah suatu keuntungan yang sangat besar," kata Prof. Subagjo, Guru Besar Teknik Industri ITB kepada para wartawan yang bersama pihak Kementerian Koordinator Kemaritiman melakukan kunjungan ke Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalis (TRKK) di Kampus ITB Bandung, Selasa (30/04).

Katalis adalah kunci teknologi proses. Di mana hampir seluruh industri proses, baik industri kimia, petrokimia, pengilangan minyak dan gas, maupun oleokimia, memerlukan katalis. Penguasaan teknologi katalis adalah langkah awal bagi kemandirian bangsa dalam bidang teknologi proses. 

Diterangkan Subagjo, kebutuhan katalis Indonesia saat ini mencapai US$ 50 juta tiap tahunnya. Jumlah  yang tentunya cukup besar, apalagi semuanya masih diimpor. 

Saat ini Laboratorium TRKK-ITB yang telah melakukan penelitian di bidang energi terbarukan sejak 1982, telah berhasil mengembangkan beberapa katalis untuk pengolahan minyak mentah dan produksi bahan bakar nabati (BBN) dari minyak sawit. Beberapa katalis pengolahan minyak bumi ITB yang dikembangkan bersama Pertamina telah dikomersialkan dan digunakan sejak tahun 2011 di berbagai kilang milik Pertamina. Mulai dari Kilang RU II Dumai, RU IV Cilacap, RU V Balikpapan, RU VI Balongan, hingga kilang TPPI.

TRKK-ITB juga telah mengembangkan katalis
untuk produksi BBN yang sedang diuji di laboratoriumnya. "Jadi ada laboratorium dengan fasilitas reaktor mini, seperti pabrik tapi ukurannya mini, di situ kita uji laboratorium," ucap Deddy Kurniadi, Dekan Fakultas Teknik Industri ITB.

Beberapa katalis untuk BBN yang sudah dikembangkan TRKK-ITB antara lain BIPN 308-1T untuk memproses minyak sawit (IPO) menjadi Bensin Nabati dengan RON di atas 110. Lalu ada PIDO 130-1,3T yang memproduksi minyak sawit menjadi Diesel Nabati dengan CN di atas 80. Dan PIDO  130-1,3T serta PIHI 780-1T yang mampu mengubah minyak inti sawit menjadi Bio Avtur.

BBN yang dihasilkan tersebut adalah bahan bakar yang bersifat drop-in, artinya bahan bakar dapat digunakan dalam mesin bakar secara langsung tanpa harus dicampur dengan bahan bakar fosil. Ini berbeda dengan biodiesel atau bioetanol yang masih dicampur bahan bakar fosil. BBN dengan sifat drop-in sendiri tergolong baru dikembangkan belakangan ini, berbeda dengan pengembangan biodiesel dan bioetanol yang sudah lama.

"Katalis untuk bahan bakar nabati ini dilatarbelakangi oleh impor Indonesia yang sangat besar akan minyak mentah dan BBM," jelas Subagjo seraya menambahkan Indonesia juga punya potensi minyak sawit terbesar di dunia untuk diolah sebagai sumber BBN. Tercatat, produksi PO (Palm Oil) Indonesia saat ini adalah sebesar 46 juta ton per tahun dan produksi PKO (Palm Kernel Oil) sebesar 3 juta ton per tahun. 

Saat ini TRKK-ITB telah berhasil merancang dan membangun sebuah pabrik pilot produksi bensin nabati dari minyak sawit berkapasitas 10-20 liter per hari yang dibiayai BPDPKS dan Kementerian Keuangan. Lalu, bersama Pertamina, Laboratorium TRKK-ITB juga telah berhasil mengembangkan katalis dan proses pembuatan diesel dan avtur nabati.

"Tahapannya dimulai dari yang sangat kecil di lab, kalau itu berhasil maka naik ke skala lebih besar yaitu pilot, dan jika berhasil baik juga masuk ke komersial di pabrik," jelas Deddy Kurniadi. "Tahapannya panjang karena tidak hanya bicara teknis saja tapi juga keekonomian," sambung Deddy. RH