Senin, 29 April 2019

Indonesia-China Kerjasama Pengembangan Baterai Kendaraan Listrik

Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Seiring kerjasama China dengan banyak negara termasuk Indonesia lewat Program Belt and Road Initiative, pihak Indonesia juga menjajaki kerjasama pengembangan baterai kendaraan listrik dengan pihak China. Salah satunya kerjasama penelitian antara ITB dengan Universitas Tsinghua.


"Kerjasama ini tidak semata-mata komersial sifatnya tapi juga bersifat sangat jauh ke depan seperti untuk baterai mobil listrik," kata Ridwan Djamaluddin, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Kementerian Koordinator Kemaritiman kepada wartawan di kantor Kemenko Maritim, Jakarta, Senin (29/04).

Untuk pembuatan baterai kendaraan listrik dibutuhkan material nikel, kobalt, dan mangan. Indonesia sendiri memiliki banyak sumberdaya nikel terutama untuk nikel kualitas rendah yang justru dibutuhkan untuk pembuatan baterai kendaraan listrik. 

Sementara untuk kobalt, Indonesia tidak terlalu banyak memiliki potensi kobalt. Sedangkan China sudah melakukan riset terkait kobalt selama 15 tahun. "Jadi tanpa kita harus memulai dari nol, mereka (China) mau tuh bekerjasama untuk pengembangannya," tutur Ridwan.

Pemerintah Indonesia sendiri berupaya mendorong agar bisa menjadi produsen  baterai kendaraan listrik, bukan hanya jadi pemasok bahan bakunya saja. "Dengan baterai mobil listrik ini kita ingin menjadi bagian dari global supply chain. Kita juga ingin jadi pemasok, bukan pasar semata-mata," tegasnya. RH