Rabu, 21 Agustus 2019

Melihat Langsung Penuangan Emas di Gold Room Tambang Emas Martabe

Foto: Hrp
Tapanuli Selatan, OG Indonesia -- Logam mulia emas memang berkilau dan cantik dilihat kalau dipakai sebagai perhiasan. Tapi untuk membuatnya butuh proses panjang dan tidak gampang. Salah satunya adalah tahapan penuangan emas.

Di Tambang Emas Martabe yang berada di Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, penuangan emas dilakukan di ruangan yang diberi nama Gold Room. Tak banyak orang yang bisa masuk ke ruangan ini bahkan karyawan PT Agincourt Resources sekalipun sebagai pengelola Tambang Emas Martabe tak sembarangan bisa masuk. Maka menjadi suatu pengalaman yang langka ketika OG Indonesia bersama rombongan editor dan jurnalis media nasional dari Jakarta bisa menyaksikan langsung penuangan emas tersebut di Gold Room.

Untuk masuk ke sana pengunjung harus dilengkapi dengan Alat Pengaman Diri (APD) dari helm, sepatu khusus, kacamata pelindung, rompi, hingga ear plug untuk melindungi pendengaran. Sebelumnya kami juga sudah diminta untuk mengenakan baju lengan panjang untuk melindungi kulit dari suhu yang sangat panas di dalam Gold Room.

Akses masuk ke Gold Room juga tak mudah. Pertama kami tiba di pos penjagaan di mana semua barang bawaan terutama yang mengandung logam harus dititipkan kepada petugas. Dompet, tas kecil, jam tangan, ponsel hingga kamera semuanya tak bisa masuk. Praktis hanya bawa diri, pakaian yang dikenakan plus APD.

Setelah itu kami diarahkan masuk pagar lalu diisolasi di ruang terbuka sambil menunggu pintu Gold Room terbuka. Begitu terbuka penuh, apakah pengunjung sudah bisa masuk ke Gold Room tersebut? Ternyata belum, ruangan tersebut hanya ruang perantara sebelum masuk Gold Room yang sesungguhnya. Dengan petugas  kembali memasukkan kode khusus seperti di pintu sebelumnya, pintu Gold Room akhirnya terbuka.


Hawa panas menyeruak. Keringat tiba-tiba  terus mengucur deras. Kami serasa tiba di planet lain di ruangan yang kira-kira seluas lapangan futsal tersebut. Bagaimana tidak,
pakaian yang dipakai petugas yang menuangkan emas ke cetakannya sudah seperti astronot. Tertutup total seluruh badan dengan baju anti api warna perak. Ada lima orang pekerja di dalam, dengan dua orang yang bertugas menuangkan cairan logam. 

Menariknya dari dua orang tadi ada satu perempuan. Kehadiran perempuan di dunia pertambangan yang maskulin dikatakan Tim Duffy, Wakil Presiden Direktur & CEO PT Agincourt Resources, merupakan hal yang biasa di Tambang Emas Martabe. Di mana untuk pekerjaan apapun terbuka kesempatannya bagi Kaum Hawa. "Saat ini 25 persen pekerja kami adalah perempuan dan 29 persen jabatan Superintendent dan Manager sudah diisi oleh perempuan," kata Tim Duffy di lokasi tambang di Batangtoru, Rabu (20/04).

Penuangan dilakukan secara perlahan dari tungku yang panasnya mencapai 850 derajat celsius. Cairan logam dialirkan ke bar atau cetakan yang ditaruh di atas troli yang bisa didorong. Jumlahnya ada sekitar 15-20 bar. Cetakan yang sudah berisi logam panas pun kemudian didinginkan dengan air. Lalu kemudian batangannya dikeluarkan dari bar. Berat batang logamnya lumayan, sekitar 12-15 kilogram.

Diterangkan oleh Wira Dharma Putra, Senior Processing Manager PT Agincourt Resources, kegiatan penuangan tersebut rutin dilakukan enam hari dalam seminggu setiap pukul 10 pagi. Satu hari sisanya digunakan untuk maintenance peralatan yang ada di Gold Room. Dalam sekali penuangan bisa menghasilkan sekitar 300 kilogram batangan logam atau bullion. Bullion tersebut mengandung sekitar 10-20 persen emas dan 80-90 persen perak. Sisanya ada pengotor atau logam lainnya di bawah satu persen.

"Bullion tadi kita kumpulkan sampai sebanyak 1 ton baru kita kirimkan ke refinery logam mulia milik Antam di Pulogadung, Jakarta. Di situ dilebur dan dipisah lagi emas dan peraknya, baru kita dapat emas yang kadarnya 99,99 persen. Setelah itu kita ekspor," jelas Wira. RH