Rabu, 04 September 2019

Medco E&P Kembalikan Manisnya Madu Hutan Sumatera Selatan

Sugiarsih, Community Development Officer
Medco E&P (kiri), membawa produk madu
hutan lebah Apis cerana dari Sumatera Selatan.
Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia – Warga Desa Sumaja Makmur, Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, kini bisa kembali tersenyum. Kehidupan mereka yang salah satunya bergantung dari budidaya lebah madu hutan sekarang bisa cerah kembali. Ini berkat peran Medco E&P yang memberi sentuhan dalam pengembangan budidaya lebah madu hutan sehingga warga bisa kembali merasakan “manisnya” usaha madu hutan.

Dulunya, budidaya lebah madu hutan yang dilakukan warga masih bersifat tradisional dengan produksi yang masih minim. Medco E&P yang memiliki wilayah kerja migas di Muara Enim yaitu di Blok Lematang pun turun tangan membantu budidaya madu hutan rakyat. 

Diceritakan Sugiarsih, Community Development Officer Medco E&P, sejak tahun 2016 perusahaannya telah memberikan bantuan kepada warga dalam hal pelatihan budidaya madu hutan. Di mana ada sekitar 35 keluarga penerima manfaat yang punya penghidupan dari budidaya madu hutan.

“Sebenarnya masyarakat sudah ada kegiatan cari madu hutan. Kita meningkatkan kapasitas mereka untuk menaikkan produktivitas dengan mendatangkan instruktur,” kata Sugiarsih kepada OG Indonesia di booth Medco pada acara “The 43rd IPA Convention & Exhibition 2019” di JCC, Jakarta, Rabu (4/9/2019).

Instruktur yang didatangkan Medco E&P tersebut memberikan pelatihan budidaya lebah madu hutan yang benar kepada warga. Mulai dari membuat tempat madu yang baik agar lebah banyak menghasilkan madu, cara panen yang efektif, cara mengolah madu yang dihasilkan sampai proses pengemasan produknya agar terlihat menarik.

Tak hanya itu, Medco E&P pun turut membuka jalur pemasaran madu hutan kepada konsumen. “Biasanya kita ikutsertakan kalau ada arena promosi seperti pameran produk lokal pada tingkat kabupaten atau provinsi. Itu kita akan bantu bawa untuk promosikan,” tuturnya.

Sebelumnya, kondisi usaha madu hutan rakyat juga terasa sulit seiring dijalankannya program peremajaan perkebunan di wilayah Sumatera Selatan yang mengganti tanaman akasia dengan ekaliptus. Padahal bunga akasia adalah sumber nektar yang biasa dihisap lebah madu hutan setempat dari jenis Apis cerana untuk menghasilkan madu. Berkurangnya pohon akasia tersebut tentunya mengancam eksitensi lebah Apis cerena sekaligus penghidupan warga Sumaja Makmur.

Karena itu, Medco E&P pun berinisiatif menanam pohon Xanthostemon yang bunganya mirip dengan bunga akasia yang mengandung sumber nektar dan pollen untuk lebah menghasilkan madu. Penangkaran lebah madu hutan lewat Taman Madu Rakyat (TAMARA) pun turut dibangun oleh Medco E&P bersama pemerintah kabupaten setempat. 

Fungsinya sebagai pusat belajar budidaya madu hutan bagi masyarakat sekitar dan juga menjadi sentra penjualan produk madu hutan. TAMARA bahkan ditargetkan jadi tempat wisata baru sebab bunga dari pohon Xanthostemon sangat indah dan bisa memanjakan mata pengunjung yang datang melihatnya. 

Diungkapkan Sugiarsih, dengan bantuan pengembangan usaha budidaya madu hutan yang diberikan Medco E&P, kini warga Sumaja Makmur bisa menjadikan budidaya madu hutan sebagai sumber penghasilan utama. Padahal sebelumnya pekerjaan mencari madu hutan hanya dijadikan warga sebagai kegiatan tambahan mencari uang. 

Di pasaran, madu hutan dari lebah Apis cerana tersebut bisa dijual dengan harga Rp 85 ribu setiap kilogramnya. Secara total, produksi madu hutan dari warga Sumaja Makmur mencapai 100 kilogram setiap harinya. “Ada peningkatan pendapatan dari penjualan mereka itu sekarang,” terangnya seraya menambahkan budidaya madu hutan serupa juga dikembangkan Medco E&P untuk masyarakat Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan.

Selain di Sumatera Selatan, Medco E&P juga membantu mengembangkan budidaya madu hutan di Tarakan, Kalimantan Utara dan Aceh Timur yang berada di ring 1 wilayah kerja migas Medco E&P di daerah tersebut. Untuk di wilayah-wilayah itu, jenis lebah madu hutannya berbeda yaitu Trigona (kelulut/klanceng). Lebah hutan jenis ini biasanya hidup liar dengan membangun sarang di lubang pada pohon yang sudah mati. 

Karena madu yang dihasilkan lebah Trigona ini banyak khasiatnya, harga jual produk madunya pun lumayan tinggi, mencapai Rp 600 ribu untuk setiap liternya. Di pasar Malaysia bahkan harga jualnya menyentuh angka Rp 1 juta per liter. 

Ditambahkan Sugiarsih, Medco E&P dalam menjalankan program CSR-nya memang ingin memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar terutama dari sisi ekonomi. Tak heran dalam penyaluran program CSR Medco E&P, peruntukkan untuk pengembangan perekonomian masyarakat mendominasi. 

Berdasarkan data, pada tahun 2018 lalu dana CSR yang disalurkan Medco E&P untuk pengembangan ekonomi mencapai US$ 450 ribu. Selanjutnya untuk infrastruktur sebanyak US$ 420 ribu, pendidikan sebesar US$ 120 ribu, kesehatan sekitar US$ 70 ribu, dan untuk lingkungan senilai US$ 40 ribu. RH