Rabu, 27 November 2019

GE Dukung Kampanye Women in STEM di Indonesia

Jakarta, OG Indonesia -- GE Indonesia terus mendukung perkembangan wanita Indonesia di sektor Sains, Teknologi, Teknik (Engineering) dan Matematika (STEM) dengan mendorong berbagai diskusi tentang karir di bidang STEM dan memberikan apresiasi kepada lima tokoh wanita Indonesia yang berprestasi dan menginspirasi di sektor tersebut. GE berencana meneruskan kampanye ini melalui kolaborasi dengan pihak pemerintah, swasta dan publik di Indonesia.


Sektor teknologi dan teknik sangat terdampak akibat kurangnya partisipasi wanita, sehingga menahan kemajuan dan kontribusi yang sebenarnya dapat dicapai sektor-sektor tersebut terhadap perekonomian. Menurut OECD, terdapat korelasi negatif antara kesenjangan gender di suatu negara dengan standar kehidupan rata-rata di negara tersebut. OECD memperkirakan bahwa peningkatan partisipasi wanita di dunia kerja dapat meningkatkan PDB OECD sebesar 5-12% selama lima belas tahun ke depan. 

Selain itu, karena teknologi baru membutuhkan jenis keterampilan kerja yang baru pula, maka resiko kesenjangan keterampilan pun semakin melebar. Untuk mencegah hal ini, juga demi memastikan kami membina keterampilan yang tepat, maka kami harus meminimalisir kesenjangan gender dan memaksimalkan seluruh kanal pengembangan ketrampilan. Mengatasi kesenjangan gender akan menciptakan tenaga kerja yang lebih beragam, dan penelitian menunjukkan bahwa tim yang beragam lebih baik dalam pemecahan masalah dan berpikir secara lebih kreatif. 

Indonesia berada di peringkat ke 85 dari 149 negara dalam Indeks Gender Gap berdasarkan World Economic Forum 2018; dan Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan PDB-nya menjadi US$ 135 miliar pada tahun 2025 jika lebih banyak wanita mengambil peran di sektor-sektor produktif.

Dalam laporan McKinsey 2019 mengenai ‘Masa depan wanita di tempat kerja: Transisi di era otomatisasi’, terungkap bahwa sekitar 40 - 160 juta wanita di seluruh dunia diprediksi perlu beralih ke pekerjaan lain pada tahun 2030, dan meraih peranan baru dengan keterampilan lebih tinggi. Hal ini dikarenakan lebih banyak wanita yang terkelompok dalam profesi atau industri yang lebih rentan terhadap otomatisasi. 

Di negara-negara ASEAN, wanita lebih rentan kehilangan pekerjaan mereka sekaligus lebih sedikit lagi yang mendapat pekerjaan dengan peranan yang lebih tinggi. International Labor Organization (ILO) juga melaporkan bahwa 56% karyawan di berbagai pusat hub manufaktur di negara – negara ASEAN termasuk Kamboja, Indonesia, Thailand, Filipina dan Vietnam mungkin akan kehilangan pekerjaan karena disrupsi otomatisasi.

Walaupun jumlah wanita hampir setengah dari populasi dunia, diperkirakan hanya sekitar 20% para periset di bidang sains, teknologi dan inovasi adalah kaum wanita. Dengan demikian diperlukan lebih banyak upaya untuk menarik dan mempertahankan wanita berkarir di bidang STEM. Dengan semakin banyaknya wanita di bidang teknologi dan manufaktur, GE berharap kesenjangan keahlian akan semakin berkurang dan meningkatkan produktivitas serta potensi digital maupun teknologi baru lainnya untuk membawa perubahan di industri.

Untuk mendukung program pengembangan sumber daya manusia yang dicanangkan pemerintah Indonesia, GE Indonesia menyelenggarakan acara GE Indonesia Recognition for Inspiring Women in STEM. Di dalam forum ini, GE memberikan apresiasi terhadap lima wanita Indonesia berprestasi dan menginspirasi di bidang STEM serta berdiskusi bagaimana sektor publik dan swasta dapat bekerja sama dalam mendorong lebih banyak wanita untuk berpartisipasi dalam bidang STEM. 

Kelima wanita tersebut adalah Pratiwi Pujilestari Sudarmono (Ahli Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia), Premana Wardayanti Premadi (Ahli Astrofisika dan Kepala Observatorium Bosscha), Eniya Listiani Dewi (Profesor Bidang Teknologi Proses Elektro Kimia di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)), Silvia Halim (Direktur Konstruksi, PT. MRT Jakarta), dan Crystal Widjaja, Data Scientist, Gojek.

“Agar era baru inovasi digital memberikan manfaat yang sebesar-besarnya, sangatlah penting untuk berinvestasi dalam pengembangan keahlian serta menciptakan sumber daya manusia yang mumpuni untuk masa depan, antara lain melalui peningkatan pendidikan STEM,” kata Handry Satriago, CEO, GE Indonesia, Rabu (27/11/2019).

“Sangatlah menggembirakan bahwa program pemerintah Indonesia pun memprioritaskan pada pendidikan sains dan pengetahuan terapan, yang mana hal ini memberikan dukungan yang lebih besar kepada berbagai universitas berikut dukungan pembiayaan yang lebih besar untuk penelitian dan pengembangan teknologi. Langkah-langkah ini akan membantu Indonesia mengembangkan SDM yang dibutuhkan untuk mendukung pengembangan dan penggunaan teknologi baru," sambungnya.

“GE Indonesia telah secara aktif melakukan program pemberdayaan wanita di bidang STEM melalui sistem perekrutan maupun GE Women Network. Selama dua tahun terakhir, GE Women Network telah menjangkau lebih dari 2000 wanita baik di sektor publik maupun swasta untuk membangun keseimbangan gender di tempat kerja,” tambah Handry.

Melalui acara ini, GE Indonesia ingin mendorong para wanita Indonesia, termasuk para siswi, untuk mengambil STEM sebagai bidang studi dan pilihan karir mereka. GE akan berkolaborasi dengan sektor publik dan swasta dalam program berkelanjutan bagi para pelajar maupun lewat kampanye dan acara. 

Salah asatu penerima penghargaan dari GE yaitu Pratiwi Pujilestari Sudarmono, Ahli Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, yang juga ternama karena jadi astronot wanita pertama dari indonesia, mengatakan mengingat jumlah ilmuwan wanita Indonesia masih sedikit, maka sangatlah penting untuk memberikan apresiasi kepada wanita yang bekerja di bidang STEM karena mereka telah memberikan kontribusi besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. 

"Pada tahun 1985, saya dipilih oleh pemerintah Indonesia dan NASA sebagai payload specialist untuk melakukan berbagai penelitian, mulai dari memantau pertumbuhan patogen manusia di ruang angkasa hingga meneliti diferensiasi sel pada misi pesawat ulang-alik STS-61H NASA. Sayangnya, setelah bencana pesawat ulang-alik Challenger pada tahun 1986, program ini dibatalkan. Setelah kembali dari Amerika Serikat, saya terus terlibat dalam berbagai penelitian mikrobiologi untuk mengatasi masalah kesehatan dan meningkatkan kesehatan masyarakat di Indonesia," cerita Pratiwi. RH