Jumat, 01 November 2019

Kuartal III 2019, Astra Tertolong Kinerja Positif Tambang Emas Martabe


Jakarta, OG Indonesia -- PT Astra International Tbk telah mengumumkan capaian kinerja perusahaan pada kuartal III tahun 2019. Dari tujuh segmen usaha yang dimiliki, Astra tertolong kinerja positif tambang emas baru lewat PT Agincourt Resources yang masuk ke segmen alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi.


Dikutip dari keterangan resminya yang diterima OG Indonesia, laba bersih per saham menurun 7% menjadi Rp392. Dengan peningkatan kontribusi laba dari jasa keuangan dan usaha tambang emas.

"Sementara, pencapaian kinerja tahunan Grup diperkirakan masih akan diuntungkan oleh peningkatan kinerja dari bisnis jasa keuangan dan kontribusi dari tambang emas yang baru diakuisisi. Tantangan atas konsumsi domestik yang lemah dan harga komoditas yang rendah masih tetap perlu diwaspadai," kata Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra Internasional Tbk dalam keterangannya, Kamis (31/10/2019).

Disebutkan, pendapatan bersih konsolidasian Grup selama kuartal III 2019 meningkat 1% menjadi Rp177,0 triliun, yang terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, divisi jasa keuangan, serta divisi infrastruktur dan logistik. Kenaikan tersebut lebih besar dari penurunan pada divisi otomotif dan agribisnis.

Laba bersih Grup mencapai Rp15,9 triliun, menurun 7% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2018. Nilai aset bersih per saham tercatat sebesar Rp3.529 pada 30 September 2019, 4% lebih tinggi dibandingkan posisi akhir tahun 2018. Sementara utang bersih, di luar Grup anak perusahaan jasa keuangan, mencapai Rp17,7 triliun pada 30 September 2019, dibandingkan dengan Rp13,0 triliun pada akhir tahun 2018. Hal ini terutama disebabkan oleh investasi Grup pada jalan tol baru dan Gojek serta belanja modal pada bisnis kontraktor penambangan.

Khusus untuk segmen alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, laba bersihnya menurun sebesar 5% menjadi Rp5,1 triliun. Hal ini disebabkan oleh efek translasi nilai tukar mata uang asing, di mana tahun lalu terdapat keuntungan translasi nilai tukar mata uang asing yang signifikan.

Jika tidak termasuk translasi nilai tukar mata uang asing, laba bersih akan mengalami sedikit peningkatan. Hal ini disebabkan kontribusi positif dari usaha tambang emas baru yaitu Tambang Emas Martabe yang 95% sahamnya dimiliki PT United Tractors Tbk (UT). Ditambah lagi ada peningkatan volume kontraktor penambangan, namun juga diimbangi oleh penurunan penjualan alat berat karena harga batu bara yang turun dan laba bersih bisnis kontraktor umum yang lebih rendah.

Adapun kinerja anak-anak perusahaan dari segmen alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi selengkapnya adalah sebagai berikut:

- PT United Tractors Tbk (UT), yang 59,5% sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan penurunan laba bersih sebesar 5% menjadi Rp8,6 triliun.

- Penjualan alat berat Komatsu turun sebesar 30% menjadi 2.568 unit, di mana pendapatan dari suku cadang dan jasa pemeliharaan tercatat stabil.

- Bisnis kontraktor penambangan, PT Pamapersada Nusantara (PAMA), mencatat kenaikan volume pengupasan lapisan tanah (overburden removal) sebesar 5% menjadi 750 juta bank cubic metres dan peningkatan produksi batu bara sebesar 7% menjadi 96 juta ton.

- Anak perusahaan UT di bidang pertambangan mencatatkan peningkatan penjualan batu bara sebesar 11% menjadi 6,4 juta ton, termasuk penjualan 0,8 juta ton coking coal, namun terimbas oleh harga batu bara yang lebih rendah.

- PT Agincourt Resources, anak perusahaan yang 95% sahamnya dimiliki UT dan mengelola Tambang Emas Martabe, melaporkan penjualan emas sebesar 306.000 oz.

- Perusahaan kontraktor umum yang 50,1% sahamnya dimiliki UT, PT Acset Indonusa Tbk (Acset), melaporkan rugi bersih sebesar Rp752 miliar, dibandingkan dengan laba bersih Rp91 miliar pada sembilan bulan pertama tahun 2018. Hal ini terutama disebabkan oleh kenaikan biaya proyek dan pendanaan atas beberapa kontrak yang sedang berjalan. RH