Selasa, 05 November 2019

Menristek: BATAN Harus Gencar Sosialisasikan Pemanfaatan Nuklir kepada Masyarakat

Jakarta, OG Indonesia -- Menteri Riset dan Teknologi / Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang SP. Brojonegoro, meminta Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) untuk lebih gencar menyosialisasikan pemanfaatan nuklir kepada masyarakat. Hal ini dikatakan Bambang pada kunjungan kerja di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta Selatan, Senin (4/11/2019).


Ia mengatakan, BATAN dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) harus bersinergi mengampanyekan kepada masyarakat bahwa nuklir aman. "Jejak digital akan mengingatkan masyarakat terhadap kejadian kecelakaan Chernobyl, Fukushima, Three Mile Island, dan insiden nuklir lainnya. Intinya masyarakat Indonesia perlu diyakinkan bahwa nuklir itu dibutuhkan dan Indonesia telah mampu mengelola nuklir dengan aman," ujar Bambang.

Untuk dapat mengampanyekan nuklir itu aman, Bambang meminta kepada BATAN dan Bapeten untuk menyampaikan kepada masyarakat bahwa teknologi nuklir yang digunakan di Indonesia adalah teknologi yang aman. BATAN sebagai lembaga pemerintah telah menunjukkan bahwa nuklir di Indonesia telah dimanfaatkan dengan aman dan selamat.

Menurutnya, nuklir telah berperan banyak di bidang kehidupan masyarakat, baik untuk pertanian, kesehatan, industri, dan lingkungan. "Nuklir mempunyai peranan besar untuk mengurangi kemiskinan, kesenjangan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi dengan perannya yang multidimensi," tambahnya.

Untuk itulah, tambah Bambang, BATAN dan Bapeten harus lebih mengenalkan pemanfaatan nuklir secara aman ketimbang mengenalkan kelembagaannya masing-masing. Melalui pemanfaatan nuklir secara aman di berbagai bidang khususnya pangan dan kesehatan, akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Melihat kondisi masyarakat Indonesia masih terdapat 9,4% tergolong masyarakat miskin, yang mayoritas sebagai petani dan nelayan, Bambang meminta, fokus penelitian BATAN kedepan dapat membantu mereka. "Fokus penelitian yang urgen dan langsung dirasakan masyarakat adalah pertanian dan pengolahan hasil nelayan," tambahnya.

Terkait pertanian, menurut Bambang, BATAN yang telah menghasilkan 23 varietas padi unggul mempunyai peran yang besar untuk meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan petani. Dengan terus berkurangnya lahan pertanian, upaya intensifikasi dengan menggunakan benih unggul akan dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.

Begitu juga terkait dengan kebutuhan komoditi pertanian lainnya yakni kedelai yang terus meningkat, menjadikan Indonesia sebagai negara pengimpor kedelai. "Melalui varietas kedelai yang dihasilkan BATAN dengan produktivitas yang tinggi, secara perlahan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor," ujar Bambang.

Di bidang pengawetan, melalui teknik iradiasi, BATAN diharapkan dapat membantu para nelayan untuk mengawetkan ikan hasil tangkapannya. Selama ini para nelayan mengeluhkan banyak hasil tangkapannya mengalami kerusakan ketika di perjalanan sebelum sampai lokasi pengiriman. 

Untuk bidang kesehatan, produksi radioisotop dalam negeri masih rendah yakni sekitar 6% dan sisanya impor, hal ini tentunya akan memberatkan pasien dalam mendapatkan pengobatan. Untuk itulah, Bambang mendorong agar BATAN mampu meningkatkan produksi radioisotop untuk kesehatan yang berkualitas dengan harga yang kompetitif.

Semua hasil penelitian BATAN, diharapkan dapat dikenal, dimanfaatkan dan menjadi solusi terhadap permasalahan di masyarakat. "Sosialisasi terhadap pemanfaatan teknologi nuklir yang aman menjadi hal yang utama," pungkasnya. R2