Senin, 10 Februari 2020

Hari Pers Nasional, Dompet Dhuafa dan Jurnalisme Profetik

Jakarta, OG Indonesia -- Lahir dari gagasan para awak media yang berada di dapur Harian Republika pada tahun 1993, Dompet Dhuafa tak ingin melupakan catatan sejarah tersebut. Kali ini, di momen peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh setiap tanggal 9 Februari. Sebagai corong berita, pers memiliki peran penting dalam kehidupan bernegara. Ia tidak hanya hadir dalam fungsi penyiaran, namun perannya bisa sampai pada ranah kemanusiaan. Dalam konteks kebaikan, pers juga memerankan peranan sentral dalam mendorong dan menghimpun gerakan kebaikan masyarakat. 


Keberadaan media cetak, eletronik dan online berkembang pesat seiring dengan perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia. Hal itu terjadi, berkat sentuhan teknologi canggih, seiring kian modernnya proses kerja para jurnalis.

Para insan pers dalam jalani tugas harus berpegang teguh dengan kode etik dan UU Pers, yang menjadi rambu dan landasan hukum. Namun, selain kedua payung hukum tersebut, sentuhan baru berupa paham jurnalisme kenabian (Jurnalisme Profetik) diharapkan menjadi acuan bagi para insan pers, dalam proses kerja jurnalistik.

Jurnalisme Profetik merupakan genre jurnalisme yang diperlukan Indonesia dan bahkan dunia saat ini. Ketika kebebasan berekspresi dapat dilakukan dengan sangat cepat dan menjangkau seluruh jagat oleh siapa pun hampir tanpa batas terkait kemajuan teknologi informasi dengan segala dampak positif dan terutama negatifnya, termasuk penyebaran narkoba, pornografi, dan terorisme.

“Wartawan dan media massa mengemban tugas mulia, tugas kenabian untuk menyampaikan kabar gembira dan peringatan agar manusia melakukan amar makruf dan nahi munkar. Jurnalisme Profetik adalah Jurnalisme Kenabian. Maksudnya, jurnalisme yang meneladani akhlak dan perilaku mulia para nabi dan rasul. Saya sangat berharap generasi wartawan saat ini menerapkan jurnalisme profetik saat menjalani tugasnya,” papar Imam Rulyawan, Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa, Senin (10/2/2020).

Di sisi lain, kiprah insan pers dalam pemberitaan di bidang kemanusiaan turut berkontribusi membangun nilai-nilai kepedulian kepada khalayak masyarakat. Ia mengungkapkan, Dompet Dhuafa, lembaga zakat yang bergerak dalam bidang kemanusiaan ini lahir dari gagasan beberapa Tokoh Pers Nasional.

“Pers sangat diperlukan untuk menyampaikan informasi dan melakukan edukasi sehingga masyarakat menjadi cerdas. Pers juga memiliki peran untuk menginspirasi masyarakat dengan nilai-nilai kepedulian dan solidaritas kemanusiaan. Pers berkontribusi dalam mewujudkan masyarakat sejahtera yang penuh keharmonisan,” ujar Imam.

Hingga saat ini pers mempunyai peranan sentral dalam mengungkap persoalan kemiskinan sehingga mendapat perhatian dan menjadi prioritas penanganannya. Misalkan, adanya bencana kelaparan, busung lapar dan gizi buruk, sulitnya mengakses modal usaha dan bantuan pemerintah yang berorientasi penanggulangan kemiskinan, lemahnya pelayanan di bidang kesehatan dan pendidikan, permukiman kumuh, tingkat pengangguran begitu tinggi serta perlakuan tidak adil terhadap buruh yang dialami warga miskin. Peranan pers tersebut, mendorong Dompet Dhuafa untuk sigap bertindak dalam mengentaskan kemiskinan seiring capaian SDG’s pemerintah melalui lima pilar program yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, dakwah dan budaya.

Peran pers juga. diungkapkan Fuji EP yang berkecimpung lima tahun menjadi jurnalis di salah satu media nasional. “Saat meliput kegiatan filantropi atau lembaga amil zakat mungkin dianggap tidak seru karena isunya landai. Tapi bagi saya meliput kegiatan filantropi atau lembaga amil zakat justru bahagia. Artinya saya ikut mengkampanyekan gerakan zakat, infak, sedekah dan wakaf (Ziswaf) kepada masyarakat Muslim di Indonesia. Melalui gerakan Ziswaf ternyata banyak hal baik yang bisa dilakukan seperti mengentaskan kemiskinan dan mengurangi kesenjangan sosial yang menjadi masalah utama di negeri ini," bebernya.

“Sebagai jurnalis tentunya independensi harus dijaga. Namun jurnalis bukan berarti tak berpihak. Salah satu keberpihakan profesi jurnalis yakni pada kebenaran dan kemanusiaan," sambung Syahnanto jurnalis lain yang sudah 18 tahun berkecimpung di dunia jurnalistik. R3