Jumat, 27 Maret 2020

Tujuh Potensi Shock Ekonomi Hantui Indonesia

IHSG dan Rupiah Kompak Lanjutkan Pelemahan - iNews PortalJakarta, OG Indonesia-- Kondisi perekonomian dunia dan Indonesia saat ini tidak sedang dalam posisi bagus. Ketika ancaman gelombang resesi akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok pada 2019 mereda, kini ekonomi dihantam tsunami akibat wabah virus corona. Ada tujuh shock atau guncangan besar yang dihadapi pelaku usaha.


"Untuk itu perlu langkah mitigasi dan strategi agar ekonomi bisa melalui masa sulit ini," ujar Founder Rumah Perubahan, Rhenald Kasali, Kamis (26/3).

Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) tersebut, beberapa kajian menunjukkan potensi tujuh shock yang mesti diwaspadai akibat corona. Pertama, travel and entertainment shock. Lockdown maupun pembatasan mobilitas orang membuat bisnis seperti maskapai, bandara, hotel, hingga olahraga di deretan terdepan yang terpukul oleh corona.

Kedua, retail and manufacture shock. Di berbagai belahan dunia, mal mengurangi jam operasi, bahkan sebagian berhenti. Industri manufaktur juga mengurangi produksi karena sepinya permintaan. "Ini bisa berdampak pada ancaman PHK (pemutusan hubungan kerja)," jelas pria yang kini mengembangkan platform Mahir Academy ini.

Ketiga, supply chain shock. Era perdagangan bebas membuat rantai pasok global saling berkait. Karena itu, ketika aktivitas ekonomi terhenti di suatu negara, perusahaan yang mengandalkan pasokan bahan baku impor akan terdampak. "Di Indonesia, industri elektronik sudah terganggu, industri makanan minuman kekurangan pasokan gula dan garam, industri lain juga banyak terdampak," sebutnya.

Kondisi serupa juga terjadi di banyak negara. Perusahaan raksasa seperti Apple, sudah menerapkan diversifikasi pemasok global. Ketika di awal tahun pasokan dari Tiongkok terganggu, Apple masih bisa berharap dari pemasok lain di Malaysia, Korea Selatan, Italia, hingga Jerman. "Namun seiring penyebaran wabah corona ke berbagai negara, produksi para pemasok juga terhenti," ujarnya.

Kondisi semacam ini, lanjut Rhenald, makin menegaskan pentingnya membangun industri bahan baku dalam negeri. Selain antisipasi supply chain shock seperti saat ini, juga untuk menekan impor. "Ini PR lama yang mesti dituntaskan," katanya.

Keempat, personal debt shock. Ketika aktivitas ekonomi melemah, maka ancaman PHK kian nyata. Demikian pula ancaman pemasukan bagi pekerja informal seperti ojek online. Maka, potensi gagal bayar pada kredit sektor perumahan atau kendaraan bermotor akan naik. "Bank atau lembaga keuangan nonbank terkait kredit ini harus memiliki mitigasi yang tepat," katanya.

Kelima, currency shock. Nilai tukar rupiah yang sebelumnya cukup stabil di kisaran Rp 14.000 per doar AS, terus terdepriasi (melemah). Hingga 24 Maret 2020, nilai tukar rupiah sudah menembus Rp 16.486 per dolar AS. "Ini juga terjadi pada hampir semua mata uang global. Pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor atau memiliki utang berdenominasi dolar AS harus waspada," ucap Rhenald.

Keenam, market shock. Ancaman resesi global membuat harga saham di pasar modal berguguran. IHSG yang sempat mencapai level 6.325 pada pertengahan Januari 2020, namun pada Rabu (23/3/2020) jatuh 37 persen ke level 3.937. Kondisi ini harus dimitigasi oleh emiten maupun investor seperti dana pensiun atau perusahaan asuransi. "Di satu sisi, ini juga peluang untuk masuk ke pasar modal karena harga saham murah. Dengan catatan, perspektifnya harus long term," ujarnya.

Ketujuh, believe shock. Menurut Rhenald, di awal kemunculannya, banyak orang under estimate terhadap corona. Pejabat, pelaku usaha, pengamat, maupun media, awalnya percaya bahwa dampak corona bisa diredam. Tapi nyatanya, kini sulit dikendalikan. Akibatnya, level of confidence pelaku usaha maupun konsumen tergerus. "Karena itu, paket stimulus pemerintah harus segera direalisasikan untuk meringankan dampak guncangan," pungkasnya.