PLN Enjiniring dan ThorCon Siap Lakukan Feasibility Study Calon IPP PLTN Pertama di Indonesia


Jakarta, OG Indonesia -- PT PLN Enjiniring dan ThorCon International, Pte. Ltd. pada hari ini, Rabu (12/8/2020), melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman dalam rangka melakukan feasibility study, grid study dan studi tapak untuk calon IPP PLTN pertama di Indonesia. Kegiatan ini untuk memenuhi permintaan Pemerintah yakni melakukan beberapa kajian guna melakukan persiapan pembangunan prototipe Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTT) dengan target operasi komersial (COD) pada tahun 2028 yang diharapkan memiliki keekonomian yang kompetitif dengan batubara.

Penandatanganan Nota Kesepahaman ini dilakukan secara online dikarenakan pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia dan dunia, dan turut diikuti oleh Plt. Asisten Deputi Bidang Energi dan Kepala Bidang Program dan Investasi Energi, Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

ThorCon International menggandeng PT PLN Enjiniring kerena memiliki sumber daya dengan kompetensi yang tinggi dengan standar internasional dan berpengalaman di berbagai aspek mulai dari perencanaan sampai dengan konstruksi pada sektor ketenagalistrikan, serta memiliki sinergi yang baik dengan PT PLN (Persero). Ke depannya, ThorCon International, Pte. Ltd. akan melakukan transfer know-how kepada PT PLN Enjiniring guna dapat memahami teknologi Thorium Molten Salt Reactor (TMSR) untuk melaksanakan Nota Kesepahaman ini.

“Kami dari PLN Enjiniring turut merasa bangga dapat terlibat dalam pelaksanaan pengembangan PLTT (Pembangkit Listrik Tenaga Thorium) yang diinisiasi oleh ThorCon International. Kami juga berharap penandatanganan MoU hari ini merupakan dasar untuk melanjutkan kerjasama yang konkrit dalam waktu dekat," ujar Hernadi Buhron, PLT. Direktur Utama PT PLN Enjiniring.

Hernadi mengungkapkan, posisi PLN Enjiniring dalam pekerjaan ini adalah mendukung penuh program Pemerintah dalam meningkatkan bauran energi di mana target energi baru dan terbarukan mebcapai 23 persen pada 2025. Hal ini sejalan dengan program transformasi PLN sebagai induk perusahaan kami, yaitu Green, Lean, Innovative dan Customer Focus. 

"Harapan kami, dengan adanya penandatanganan MoU antara PLN Enjiniring dan ThorCon International ini juga akan membawa dampak yang positif dan added value bagi kedua perusahaan serta dapat memberikan kemajuan berarti bagi Indonesia secara keseluruhan untuk mencapai kesejahteraan melalui swasembada energi, terutama green energy,” lanjut Hernadi.

Sementara itu Bob S. Effendi, Kepala Perwakilan ThorCon International, Pte. Ltd., mengatakan bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk maju dan tidak perlu ragu serta takut dalam mengembangkan PLTN. "Saya rasa ini waktu yang tepat. Kita sudah tidak perlu ragu dan takut lagi dengan PLTN. Pertama, tidak ada regulasi yang melarang pembangunan PLTN. Kedua, PLTN merupakan teknologi yang sudah matang dan lebih dari 50 tahun, sebanyak 450 unit PLTN telah beroperasi di 30 negara di dunia dan jumlahnya terus bertambah. Bahkan faktanya, berdasarkan kematian per terra watt hour, PLTN adalah yang terkecil artinya yang teraman," bebernya.

"Ketiga, mengingat Indonesia sudah mengoperasikan 3 reaktor nuklir sejak tahun 1965 dan memiliki 2 lembaga nuklir, 2 universitas yang setiap tahunnya meluluskan ratusan sarjana nuklir dan puluhan Profesor Nuklir yang berpengalaman dan berkelas dunia. Keempat, Indonesia telah memiliki Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) sejak 1998 sebagai regulator yang menjamin PLTN yang beroperasi di Indonesia akan selamat dan aman," sambungnya.

Apalagi saat ini ada dukungan kuat dari Gubernur Kepulauan Bangka Belitung untuk membangun Prototipe PLTT yang dapat diimplementasikan di Provinsi Bangka Belitung, maka lokasi tapak diharapkan dapat dilakukan di wilayah Pulau Bangka karena mendukung rencana Pemprov untuk mengembangkan industri berbasis logam tanah jarang dengan thorium sebagai mineral ikutan. “Thorium dapat menjadi sumber energi bersih dan murah yang berpotensi dapat menggantikan batu bara,” jelas Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman, beberapa waktu lalu.

Rencana Penempatan PLTT di Bangka bukan saja nantinya dapat memasok seluruh kebutuhan listrik masyarakat dan menumbuhkan industri, tetapi juga dapat memasok listrik ke Sumatera yang memiliki pertumbuhan industri yang cukup tinggi. Sehingga, dapat menurunkan BPP Bangka Belitung yang saat ini 2 kali lebih tinggi dari BPP Sumatera Selatan, yang nantinya akan meningkatkan daya saing industri. 

"Dengan adanya permintaan Gubernur tersebut, kami berharap Pemerintah dapat segera menetapkan wilayah Pulau Bangka sebagai lokasi pembangunan prototipe PLTT sehingga semua pekerjaan dan studi tersebut dapat dikerjakan," kata Bob.

Walaupun Indonesia adalah negara kaya ragam energi, jelas Bob, tetapi tetap sebagian besar energi primer masih mengandalkan energi fosil khususnya batubara. Sementara sumber energi fosil di Indonesia sudah mulai habis dan mengingat pula bahwa adanya komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi, maka kebutuhan mencari pengganti sumber energi fosil menjadi penting. Terutama sumber energi yang berfungsi sebagai baseload dan dapat beroperasi 24 jam dengan tidak terpengaruh cuaca, serta tidak menghasilkan emisi CO2 dan dapat menggantikan khususnya batubara yang saat ini merupakan energi andalan.

Dikatakan Bob, Thorium sebagai satu opsi green energy dapat menjadi salah satu sumber energi primer yang layak dipertimbangkan, mengingat sumber daya thorium sebagai mineral ikutan timah sangat berlimpah yang mana banyak pakar menduga cukup untuk 1.000 tahun ke depan, dan hingga saat ini belum dimanfaatkan sehingga berpotensi menjadi solusi bagi transisi energi menuju ekonomi Indonesia rendah karbon 2050. R2


PLN Enjiniring dan ThorCon Siap Lakukan Feasibility Study Calon IPP PLTN Pertama di Indonesia PLN Enjiniring dan ThorCon Siap Lakukan Feasibility Study Calon IPP PLTN Pertama di Indonesia Reviewed by OG Indonesia on 14.54 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.