Global Outlook 2026: Migas, Mineral Kritis, Renewable dan Lingkungan


Oleh: Dr. Ardian Nengkoda (
Dosen Praktisi Teknik Kimia UI, Dewan Pakar Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia/IATMI serta Komunitas Migas Indonesia/KMI)

Memasuki tahun 2026, energi dan sumber daya global menghadapi fase transisi yang kompleks di mana kebutuhan untuk menjamin ketahanan energi, memenuhi tuntutan iklim, serta mendukung pertumbuhan ekonomi berpadu dalam kebijakan dan investasi. Sektor migas, mineral kritis (rare earth), energi terbarukan, dan isu lingkungan menjadi pilar utama yang saling terkait untuk membentuk masa depan energi dunia. 

Pada tanggal 15 Januari 2026 lalu, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajaran pemerintah untuk mempercepat pemanfaatan kandungan mineral kritis. Lalu bagaimana dinamika dampak geopolitik Amerika, Venezuela, Rusia, Cina, Greenland, Timur Tengah belakangan ini?

Migas: Tetap Relevan dalam Transisi Energi

Meskipun energi terbarukan telah berkembang, minyak dan gas bumi masih berperan penting dalam memenuhi permintaan global pada 2026. Permintaan global untuk liquefied natural gas (LNG) diproyeksikan terus meningkat secara signifikan hingga 2040, dengan estimasi pertumbuhan sekitar 60% dibandingkan tahun sebelumnya, terutama didorong oleh pertumbuhan ekonomi di Asia dan kebutuhan untuk menggantikan batu bara dalam pembangkit listrik.

Sementara itu di Amerika Serikat, konsumsi listrik diperkirakan mencapai rekor pada 2026 dan 2027, dengan gas alam tetap menjadi kontributor utama sekitar 35,8 miliar kaki kubik per hari untuk pembangkit listrik, meskipun proporsi gas sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

Di sisi produksi, Indonesia menargetkan peningkatan kapasitas migas dalam rangka menjaga ketahanan energi. Pemerintah berupaya meningkatkan produksi minyak menjadi sekitar 610 ribu barel per hari dan mengoptimalkan produksi gas dengan infrastruktur pipa serta unit regasifikasi terapung (FLNG).

Dimensi Geopolitik Energi dan Mineral

Outlook energi global 2026 tidak dapat dilepaskan dari dinamika geopolitik antara Amerika Serikat, Rusia, China, Greenland (Eropa) dan kawasan Timur Tengah, yang semakin membentuk arah investasi, rantai pasok, dan kebijakan energi dunia. Energi kembali menjadi instrumen geopolitik strategis, bukan semata komoditas ekonomi.

Amerika Serikat memanfaatkan keunggulan teknologi, pasar modal, dan produksi shale untuk memperkuat posisinya sebagai swing producer global, khususnya di sektor minyak dan LNG. Hal ini menjadikan AS pemain unik yaitu agresif dalam dekarbonisasi, tetapi sekaligus pragmatis dalam memonetisasi sumber daya migasnya.

Rusia, meskipun menghadapi sanksi geopolitik yang ketat, tetap menjadi aktor utama energi global. Strategi Rusia berfokus pada reorientasi pasar ke Asia, khususnya China dan India, serta optimalisasi jalur non-tradisional untuk ekspor migas. Konflik geopolitik memperlihatkan bahwa energi masih menjadi alat negosiasi strategis, sekaligus menunjukkan keterbatasan dunia dalam sepenuhnya melepaskan diri dari ketergantungan migas dalam jangka pendek.

China berada pada posisi paling kompleks. Di satu sisi, China adalah konsumen energi terbesar dunia dan pemimpin global dalam manufaktur energi terbarukan, baterai, dan mineral kritis. Di sisi lain, China tetap meningkatkan keamanan pasokan migas melalui investasi luar negeri dan penguatan cadangan strategis. Dominasi China atas lebih dari 40% kapasitas pengolahan mineral kritis global menjadikannya aktor kunci dalam transisi energi, sekaligus sumber kekhawatiran geopolitik bagi negara-negara Barat terkait ketergantungan rantai pasok.

Secara keseluruhan, rivalitas geopolitik antara Amerika Serikat, Rusia, Eropa dan China, dengan Timur Tengah sebagai pusat gravitasi energi, memperkuat realitas bahwa transisi energi global tidak berjalan dalam ruang netral. Keputusan pertahanan-ketahanan menjaga pasokan energi, investasi, kebijakan lingkungan, dan arah teknologi sangat dipengaruhi oleh kepentingan strategis nasional negara terkait. Dalam konteks ini, negara-negara berkembang seperti Indonesia harus mampu memainkan peran non-blok yang adaptif, memanfaatkan peluang investasi tanpa terjebak dalam fragmentasi geopolitik global.

Mineral: Kunci Transisi Energi dan Industrialisasi

Permintaan global terhadap mineral kritis seperti nikkel, tembaga, dan lithium terus meningkat sejalan dengan tumbuhnya industri kendaraan listrik, baterai, teknologi bersih, dan konektivitas digital. Proyeksi harga nikel dunia diperkirakan meningkat sekitar 5,7% menjadi USD18.500 per ton pada 2026, didorong oleh permintaan baterai EV dan material energi terbarukan.

Permintaan tembaga, yang sangat penting untuk jaringan listrik dan teknologi bersih, juga menunjukkan tren stabil meskipun harga diperkirakan menurun tipis pada 2026. Namun, kekurangan pasokan tembaga global diperkirakan menjadi masalah serius dalam dekade berikutnya jika tidak ada ekspansi produksi yang signifikan.

Indonesia memiliki potensi besar di sektor mineral dan batu bara, realisasi investasi dalam hilirisasi sektor mineral mencapai sekitar Rp193,8 triliun pada semester I 2025, sebagian besar untuk komoditas mineral kritis termasuk nikel dan tembaga, memperlihatkan komitmen peningkatan nilai tambah domestik. Pertanyaannya, bagaimana penguasaan teknologi dan kesiapan SDM akan mineral kritis ini?

Energi Terbarukan: Pertumbuhan, Infrastruktur dan Lingkungan

Energi terbarukan terus menjadi fokus global sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim. Bauran energi terbarukan secara global diperkirakan akan terus meningkat, meskipun tidak sepenuhnya menggantikan kebutuhan migas dan batu bara dalam jangka pendek. Integrasi teknologi penyimpanan energi, smart grid, dan hidrogen hijau menjadi fokus utama investasi untuk menjaga keandalan sistem energi yang semakin fluktuatif.

Dalam konteks Indonesia, kapasitas terpasang energi terbarukan baru sekitar 15 gigawatt (GW) dari potensi besar sekitar 3.600 GW, menunjukkan bahwa masih jauh dari kapasitas optimal. Pemerintah menargetkan peningkatan porsi energi terbarukan menjadi 36–40% pada 2040 melalui RUPTL 2025–2034.

Tren investasi juga menunjukkan bahwa sektor energi terbarukan menjadi salah satu yang paling menarik bagi investor asing pada 2025, meskipun investasi migas dan mineral masih mendominasi total penanaman modal di sektor energi Indonesia.

Isu lingkungan, terutama emisi gas rumah kaca, menjadi faktor penentu dalam kebijakan energi global. Negara-negara maju menguatkan regulasi seperti penetapan harga karbon, aturan emisi metana yang lebih ketat, serta standar ESG untuk menarik investasi berkelanjutan. Hal ini memaksa industri migas dan mineral untuk mempercepat adopsi teknologi rendah emisi seperti CCUS (Carbon Capture, Utilization & Storage) serta digitalisasi untuk meminimalkan emisi dan dampak lingkungan.

Namun, banyak negara berkembang masih menghadapi dilema antara memenuhi kebutuhan energi domestik yang terus tumbuh dan menekan emisi tanpa kehilangan momentum pertumbuhan ekonomi.

Indonesia menunjukkan momentum peningkatan investasi di sektor energi dan mineral, dengan realisasi investasi sektor ESDM mencapai sekitar US$31,7 miliar (Rp533 triliun) pada 2025, terutama di subsektor migas dan mineral. Investasi di hilirisasi dan hilir mineral, termasuk proyek hilirisasi bernilai besar (US$123,8 miliar) menjadi bagian dari strategi jangka panjang memperkuat ketahanan energi dan ekonomi.

Namun, tantangan Indonesia masih cukup besar, termasuk:

• Regulasi, perangkat hukum dan ketidakpastian investasi: proses perizinan yang panjang, tata kelola yang kompleks, dan persyaratan lingkungan bisa memperlambat implementasi proyek.

• Infrastruktur yang belum memadai: perlu investasi besar dalam jaringan pipa, fasilitas hilirisasi, dan jaringan listrik untuk energi terbarukan.

• Ketersediaan teknologi dan SDM: keterbatasan kapasitas teknologi, dan tenaga ahli berdampak pada efisiensi dan inovasi industri.

• Volatilitas pasar komoditas: kondisi geopolitik, fluktuasi harga minyak, mineral, dan logam bisa mempengaruhi keputusan investasi jangka panjang.

Meski demikian, dengan strategi hilirisasi yang berfokus pada nilai tambah, jaga lingkungan dan kolaborasi internasional, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat investasi di Asia Tenggara untuk mineral kritis dan energi bersih. Mampukah?

Global Outlook 2026: Migas, Mineral Kritis, Renewable dan Lingkungan Global Outlook 2026: Migas, Mineral Kritis, Renewable dan Lingkungan Reviewed by Ridwan Harahap on Minggu, Januari 18, 2026 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.