![]() |
| George Simanjuntak, Kepala Divisi Formalitas SKK Migas. Foto: Dok. IPA |
Jakarta, OG Indonesia -- Sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) tidak hanya berkontribusi terhadap ketahanan energi nasional, tetapi juga memberikan multiplier effect nyata bagi perekonomian daerah. SKK Migas mencatat sedikitnya 11 unsur multiplier effect yang berdampak langsung pada wilayah operasi, mulai dari pasokan gas untuk PLN, pasokan minyak bumi ke kilang (refinery), tumbuhnya industri turunan, penyerapan tenaga kerja lokal, hingga kontribusi terhadap pajak daerah dan retribusi.
Kepala Divisi Formalitas SKK Migas, George Simanjuntak, menegaskan bahwa kehadiran industri hulu migas tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab sosial dan mitigasi isu-isu sosial di sekitar wilayah kerja.
“PPM bukan sekadar tanggung jawab sosial perusahaan. Ini adalah investasi jangka panjang yang dirancang untuk memitigasi isu sosial dan menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar George, saat media briefing IPA di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Ia menambahkan, Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) harus memberikan manfaat nyata dan terukur. Oleh karena itu, SKK Migas menetapkan lima pilar utama PPM, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, dan infrastruktur.
Menurut George, Salah satu praktik baik PPM Hulu Migas terlihat pada pengembangan BUMDes Arar di Sorong, Papua Barat, yang menjadi contoh bagaimana penguatan ekonomi lokal dapat tumbuh melalui kolaborasi dengan industri migas.
Ketua Komite IPA Supply Chain Management, Kenneth Gunawan menekankan bahwa saat ini pembahasan PPM tidak lagi sebatas bantuan sosial, melainkan bagian dari ekonomi berkelanjutan dan local community empowerment.
“Jika program PPM sudah selesai, kita tidak hanya memberikan umpan, tapi memberikan kail. Masyarakat harus mampu mandiri setelah program berakhir,” kata Kenneth.
Ia mencontohkan penguatan ekonomi lokal di Madura, di mana pemberdayaan komunitas berdampak langsung pada efisiensi rantai pasok, seperti harga bebek yang menjadi lebih kompetitif karena ekosistem usaha masyarakat yang kuat.
Pendekatan ini terbukti meningkatkan kepercayaan (trust) masyarakat terhadap perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah kerja, sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dan berkelanjutan. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Selasa, Januari 27, 2026
Rating:



