Tak Bisa Tidur, Pekerja PHR Hidupkan Kembali Ribuan Sumur dari "Mati Suri"

Salah satu unit turbin yang beroperasi di fasilitas pembangkit listrik, Minas, Riau. Fasilitas ini berfungsi sebagai penunjang utama kebutuhan energi untuk kegiatan operasi PHR di WK Rokan.

Pekanbaru, OG Indonesia --
Suasana di ruang kendali pusat atau Operational Command Center (OCC) PHR di Rumbai - Riau, mendadak berubah tegang pada Jumat sore, awal Januari lalu. Alarm peringatan berkedip di layar monitor, menandakan anomali serius pada pasokan energi. Di luar gedung, langit Riau mulai gelap, namun bagi para insinyur dan operator di dalamnya, hari yang sangat panjang baru saja dimulai.

Laporan masuk beruntun: Pasokan gas dari pipa transmisi milik pihak ketiga (TGI)—yang menjadi "nyawa" bagi pembangkit listrik Blok Rokan—mengalami gangguan. Indikator tekanan gas anjlok drastis. Situasi ini bukan sekadar gangguan teknis biasa; ini adalah ancaman nyata bagi salah satu tulang punggung energi nasional.

"Saat itu kami tahu, kami sedang berpacu dengan detik. Jika listrik padam total (blackout), dampaknya bukan hanya mesin mati, tapi ribuan sumur minyak bisa mengalami pembekuan (congeal) dan butuh waktu berbulan-bulan untuk memulihkannya. Itu skenario terburuk yang harus kami cegah dengan cara apapun," ujar salah satu Power Dispatcher senior PHR yang bertugas saat insiden terjadi.

Manuver Senyap di Tengah Krisis

Ketika pasokan gas terhenti, tim Incident Management Team (IMT) PHR langsung diaktifasi dan menjalankan protokol darurat. Tanpa menunggu lama, keputusan krusial diambil: melakukan manuver teknis yang sangat kompleks bernama Fuel Switching.

Para "Penjaga Energi" ini harus mengubah bahan bakar unit-unit Turbin Gas (GT) vital dari gas ke bahan bakar cair (liquid/solar) secara cepat. Dalam kondisi normal, proses ini butuh persiapan matang. Namun dalam situasi seperti itu, tim di lapangan melakukan hal yang nyaris mustahil: menjaga turbin tetap berputar agar listrik tidak mati total, sambil melakukan transisi bahan bakar secara manual di tengah malam buta.

"Tidak ada yang tidur. Tim di lapangan bekerja dalam shift ketat 24 jam. Kami berjibaku dengan katup, panel kontrol, dan koordinasi tanpa henti. Fokus kami cuma satu: Jangan sampai operasi negara ini berhenti," ungkap salah satu operator dengan nada heroik, di fasilitas pembangkit listrik Minas.

Dengan pasokan daya yang terbatas akibat kurangnya gas, PHR dihadapkan pada pilihan sulit. Energi yang tersedia tidak lagi cukup untuk menghidupkan seluruh operasi secara serentak.

Menggunakan data engineering yang presisi, PHR menerapkan strategi prioritas (Pareto). Strategi ini difokuskan untuk menyelamatkan area yang kritikal agar minyak tidak membeku (congeal) di Stasiun Pengumpul maupun di Jaringan Pipa. 

Secara bersamaan, tim juga berupaya menghidupkan sumur-sumur dengan produktivitas tinggi, dengan mengacu pada sistem pengurangan beban otomatis (load shedding) yang dimiliki oleh PHR. Sisanya, dengan berat hati harus dihentikan hingga kondisi normal kembali, demi menjaga kestabilan jaringan. Strategi ini terbukti efektif: mayoritas produksi berhasil diselamatkan meskipun dalam kondisi defisit energi.

Direktur Utama PHR, Muhamad Arifin, menegaskan bahwa ketangguhan yang ditunjukkan oleh pekerja PHR di lapangan bentuk pertahanan terbaik demi menjaga ketahanan energi nasional.

"Di tengah situasi akibat gangguan pada pihak ketiga seperti ini, saya melihat semangat juang yang luar biasa. Tim kami tidak menyerah pada keadaan. Manuver teknis dan strategi prioritas yang mereka lakukan berhasil meminimalkan dampak kehilangan produksi secara signifikan. Jika tidak ada aksi cepat tanggap dan mitigasi yang militan ini, dampak yang ditimbulkan bisa jauh lebih fatal," tegas Arifin, Minggu (25/1/2026).

Nadi Rokan Berdenyut Kembali

Kini, kerja keras dan malam-malam tanpa tidur itu mulai membuahkan hasil. Seiring dengan upaya perbaikan pipa gas oleh pihak terkait, PHR langsung melakukan ramp-up atau kenaikan produksi secara agresif. Namun langkah ini dilakukan dengan penuh perhitungan dan terukur, demi menjaga kestabilan sistem saat operasi dipulihkan kembali. 

Grafik operasional kini mulai merangkak naik, meskipun proses pemulihan ini masih diwarnai dinamika fluktuasi tekanan dari pipa penyalur. Namun, berkat ketangguhan tim IMT dan operasi PHR, stabilitas produksi berhasil dijaga dan operasional terus berjalan mendekati level normal. Sumur-sumur dan mesin pembangkit yang sempat tertidur kini sebagian besar telah hidup kembali, seiring pulihnya "denyut nadi" energi di Blok Rokan.

"Ini bukan tentang menyalahkan keadaan, tapi tentang seberapa tangguh kita bangkit dari krisis. PHR telah membuktikan bahwa sistem kami, dan yang terpenting, orang-orang kami, memiliki resiliensi kelas dunia untuk menjaga kedaulatan energi nasional," pungkas Arifin.

Kisah dari Riau ini adalah pengingat bahwa di balik kelancaran pasokan energi negeri ini, ada keringat dan dedikasi para pekerja yang tetap tegak berdiri menjaga nyala api produksi, siang dan malam, meski badai tantangan datang menghantam. RH

Tak Bisa Tidur, Pekerja PHR Hidupkan Kembali Ribuan Sumur dari "Mati Suri" Tak Bisa Tidur, Pekerja PHR  Hidupkan Kembali Ribuan Sumur dari "Mati Suri"   Reviewed by Ridwan Harahap on Selasa, Januari 27, 2026 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.