Selasa, 25 Desember 2018

Kepala BPH Migas Tinjau Sarfas Sektor ESDM di Serang dan Pandeglang

Foto-foto: Hrp
Pandeglang, OG Indonesia -- Selepas meninjau sarana dan fasilitas (sarfas)  penyaluran BBM dan LPG milik Pertamina di TBBM Tanjung Gerem dan Depot LPG Tanjung Sekong di Cilegon, Banten, pada Senin (24/12) siang, Kepala BPH Migas M. Fanshurullah Asa yang juga Ketua Posko Sektor ESDM pada masa Natal dan Tahun Baru, bergerak melihat sarfas sektor ESDM yang terdampak tsunami Selat Sunda di sepanjang pantai Anyer-Carita.

Kepala BPH Migas bersama Tim Monitoring BPH Migas tiba di titik pertama yaitu PLN Rayon Anyer. Menurut petugas PLN yang berjaga, di lokasi yang listriknya mereka layani kondisinya sebagian besar listriknya menyala. Hanya ada satu gardu listrik yang masih dipadamkan karena permintaan warga dikarenakan masih terdapat kabel-kabel listrik yang berserakan dan adanya sisa genangan air laut.

Jelang tengah malam tim monitoring bergerak menuju Pusat Pemantauan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran, Kecamatan Cinangka, Serang, Banten. Di lokasi, Kepala BPH Migas menemui empat orang petugas di pos pemantauan yang siaga terus memantau Gunung Anak Krakatau yang terus alami erupsi.

M. Fanshurullah Asa menyampaikan sebagai negara yang rawan bencana dan berada di jalur cincin gunung berapi, petugas pemantau gunung api memegang peran yang sangat penting menjaga wilayah rawan letusan gunung api.

"Masalah pengamat gunung ini kuantitasnya
mesti ditambah dan teknologi juga harus ikuti perkembangan zaman," tutur pria yang akrab disapa Ifan ini seraya menambahkan bahwa Menteri ESDM Ignasius Jonan sangat peduli terhadap masalah gunung api ini. Saat ini memang ada tiga pos pemantauan gunung api yang bangunannya tengah direnovasi yaitu pos di Gunung Agung, Gunung Ijen, dan Gunung Anak Krakatau.

Lewat tengah malam tim monitoring bergerak menuju SPBU 34-42213 milik Pertamina yang terletak di Kampung Bengras, Desa Sukanagara, Kecamatan Carita, Pandeglang. Dari pengamatan OG Indonesia terpantau hanya ada 1-2 kendaraan milik tim penyelamat yang mengisi BBM di SPBU yang buka 24 jam ini. Satu hari pasca tsunami, SPBU ini memang sempat tidak beroperasi pada dari pukul 10.00 WIB sampai maghrib karena ada bunyi sirine dan peringatan bahaya dari Pemda setempat. Namun kini SPBU telah kembali beroperasi 24 jam.

Diceritakan oleh salah satu petugas SPBU, terdapat penurunan pembelian BBM yang cukup signifikan pasca tsunami, yang biasanya omsetnya sekitar Rp 60 juta pada pagi hari turun menjadi Rp 40 juta. Pembeli BBM di SPBU Carita tersebut pun saat ini kebanyakan kendaraan dari tim SAR, polisi, dan alat-alat berat yang masuk ke lokasi bencana.

“Saya apresiasi upaya Pertamina, dan kami harap pasokan dijaga terus baik BBM dan LPG, khususnya untuk kebutuhan alat-alat berat evakuasi, genset dan keperluan dapur umum,” ucap Ifan. RH