Sabtu, 18 Mei 2019

Indonesia Harus Geser Andalan Ekspor dari SDA ke Berbasis Teknologi dan Industri

Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Tim Kajian Ikatan Alumni ITB (IA ITB) memaparkan bahwa dalam periode tahun 1990-2017, posisi 10 besar negara berdasarkan nilai ekspor barang dan jasa mengalami sejumlah perubahan. Di mana dalam 3 tahun terakhir, China merebut posisi Amerika Serikat sebagai negara eksportir terbesar di dunia.

“Kita lihat Korea dan China tidak berdasarkan sumber daya alam (SDA), tapi memberikan value added. Mereka membuat produk dan membuat merk atau brand. Sehingga mereka masuk ke pasar retail,” terang Rizal Ruswito, Ahli Industrialisasi dari IA ITB dalam Dialog Nasional Reindustrialisasi di Auditorium BPPT, Jakarta, Jumat (17/05).

Diterangkan olehnya, negara-negara dengan nilai GDP yang tinggi mendasarkan kekuatannya pada penguasaan teknologi dan industri. Di mana negara-negara tersebut umumnya mendorong globalisasi dari produk masing-masing sehingga memiliki nilai tambah yang tinggi.

Karena itu Indonesia harus menggeser andalan ekspor kita dari berbasis sumber daya alam menjadi berbasis teknologi dan industri. “Produk kita (Indonesia) sebenarnya sudah jalan-jalan," ungkap Rizal. 

Contohnya, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dengan produknya CN235 sudah bisa diekspor ke negara-negara Afrika dan Thailand. "Bahkan lebih diterima di luar (negeri) dari pada dalam negeri," tuturnya. 

Lalu PT INKA juga sudah bisa mengekspor gerbong ke Bangladesh, dan juga kawasan Afrika. Sementara PT PAL juga sudah bisa mengeskpor kapal perang ke Filipina.

"Ini menunjukkan kalau kita bisa. Hanya saja memang butuh orchestrated action, dan perencanaan yang terintegrasi,” pungkasnya.