Kamis, 22 Agustus 2019

PLTA Mini Terangi Kawasan Pertanian Terintegrasi Aek Pahu

PLTA mini di kawasan pertanian
terintegrasi Aek Pahu.
Foto-foto: Ridwan Harahap
Tapanuli Selatan, OG Indonesia -- Pahri Hasibuan segera menghentikan aktivitas bertaninya. Sejurus kemudian ia menyapa tim Community Development PT Agincourt Resources yang bertandang ke tempatnya di kawasan pertanian terintegrasi Aek Pahu, Desa Napa, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Sambutan hangat Pahri Hasibuan bukan tanpa alasan. PT Agincourt Resources sebagai pengelola Tambang Emas Martabe di Batang Toru memang serius menjalankan program pengembangan masyarakat sekitar tambang, termasuk kepada para petani Aek Pahu.

Salah satu bantuan dari Agincourt untuk kawasan pertanian dengan total luas lima hektare ini berupa penyediaan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) mini dan panel surya yang diberikan sejak tahun 2017 lalu. Alhasil, kini kawasan pertanian Aek Pahu tak lagi gelap gulita pada malam hari. Para petani atau warga sekitar yang ingin melintas sawah di pekatnya malam pun kini tak perlu lagi khawatir salah melangkah di pematang sawah. Untuk jaringan listrik PLN sendiri sebenarnya sudah masuk ke daerah tersebut untuk menerangi rumah-rumah warga di Desa Napa.

Pahri Hasibuan, salah satu
petani di Aek Pahu.
Diceritakan Pahri Hasibuan, listrik yang dihasilkan PLTA mini dipakai untuk lampu penerangan jalan di area persawahan. Sementara panel surya yang dipasang di atas gudang tempat menyimpan hasil pertanian dapat melistriki dua unit rumah kecil dan warung di kantor Koperasi Griya Upa Tondi yang berada di tengah kawasan persawahan Aek Pahu. “Listrik ini untuk tempat tinggal dua orang di sini, untuk jaga (kawasan pertanian) ini, satu di sana, satu di sini,” jelasnya kepada OG Indonesia di kawasan pertanian Aek Pahu, Desa Napa, Rabu (21/08). 

Koperasi Griya Upa Tondi saat ini menaungi sekitar 27 orang petani di Desa Napa. Di kantor koperasi tersebut, selain ada dua rumah kecil terdapat pula saung tempat pertemuan petani dengan para penyuluh pertanian yang kerap datang mengajarkan cara-cara bertani secara organik. Kegiatan penyuluhan yang rutin dilakukan pun kian lancar dengan adanya sumber listrik kecil-kecilan tersebut.

Agincourt memang berupaya menjadikan Aek Pahu sebagai kawasan pertanian terintegrasi. Di mana Aek Pahu menjadi pusat pendidikan, pelatihan dan pengembangan terkait teknologi dan usaha persawahan organik. Hasil tani organik yang budidayanya dilakukan dengan bahan-bahan alami dan tanpa zat kimia memang mulai banyak dikonsumsi seiring tren hidup sehat masyarakat. Di sisi lain para petani pun mulai melirik pertanian organik karena produk taninya memiliki nilai jual lebih tinggi. Selain persawahan organik, di Aek Pahu juga dikembangkan kawasan pertanian hortikultura, sayuran dan perikanan yang semuanya dikerjakan dengan cara organik.

Diungkapkan Ivan Farianda, Superintendent Local Economic Development PT Agincourt Resources, sejak pertanian organik dijalankan di Desa Napa mulai tahun 2016, petani Aek Pahu sudah enam kali panen padi organik. Total panen dari tahun 2016 sampai 2018 mencapai 25 ton dengan nilai sekitar Rp 500 juta. “Kita sudah ajukan uji lab padi organik kita ke Sucofindo, alhamdulillah hasilnya zero chemical contain,” papar Ivan.

Menurut cerita  Pahri Hasibuan, sebelum Agincourt membantu pengembangan pertanian, warga Desa Napa masih bertani secara serampangan. Teknik bertani masih tradisional dengan alat-alat sederhana. Pemasaran hasil tani pun masih terbatas. “Sekarang ada pelatihan-pelatihan, termasuk untuk pertanian organik dan pemasarannya,” ucapnya.

Guna kian memperlancar pemasaran beras organik dari Aek Pahu, Agincourt tengah berupaya mendapatkan sertifikat organik untuk beras organik dari Aek pahu. Diharapkan dalam waktu dekat beras putih, beras merah, serta beras hitam yang dihasilkan dari Aek Pahu bisa menempelkan label Organik Indonesia dalam kemasannya sebagai jaminan bahwa beras tersebut dihasilkan dengan cara alamiah dari hulu sampai hilir. Tak hanya itu, Agincourt juga turut membantu mendapatkan sertifikat halal untuk produk beras organik Aek Pahu.

Dengan bekal tersebut, beras organik Aek Pahu diharapkan bisa menembus pasar yang lebih luas, tak hanya dijual di seputaran Kecamatan Batang Toru seperti selama ini. “Kita cari kota besar, salah satunya di Medan. Kita coba jajaki kerjasama dengan Hypermat, Lotte Mart, dan Indomaret. Mereka siap menampung dengan catatan ada sertifikat organik dan sertifikat halal MUI,” sambung Ivan Farianda.

Area persawahan di Aek Pahu.
Untuk itu kawasan pertanian terintegrasi Aek Pahu ditargetkan dapat terus berkembang dari sisi hasil produksi pertaniannya. Keberadaan infrastruktur penunjang pun sangat dibutuhkan untuk membantu produktivitas petani. Karena itu, selain membuat PLTA mini dan panel surya, Agincourt juga membantu petani dengan memberikan mesin jetor, saluran irigasi, hingga infrastruktur pendukung seperti jembatan dan akses jalan. “Jadi Aek Pahu ini bisa kita targetkan sebagai salah satu lokasi pertanian terpadu yang ramah lingkungan atau eco farming,” tegas Ivan.

Upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan PT Agincourt Resources tersebut sejalan dengan konsep Corporate Social Responsibility (CSR) menurut Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan. Dalam penandatanganan enam naskah amandemen Kontrak Karya pada Maret 2018 lalu, di mana PT Agincourt Resources termasuk di dalamnya, Jonan berpesan agar program CSR dari perusahaan dapat memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat sekitar. Misalnya dengan membuka lapangan kerja atau mengajak warga setempat untuk bekerja bersama dalam satu usaha demi kesejahteraan bersama yang berkeadilan. RH