Senin, 30 September 2019

BATAN Juga Bisa Pulihkan Lahan Terpapar Minyak dengan Bioremediasi

Nana Mulyana, Peneliti PAIR BATAN
(tengah) menunjukkan IMR yang
dikembangkan BATAN untuk dipakai
pada kegiatan bioremediasi.
Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) telah mengembangkan penelitian pemanfaatan teknologi nuklir untuk bioremediasi atau perbaikan kualitas lahan. Baik untuk lahan yang sebelumnya dipakai untuk kegiatan pertanian dan mulai berkurang kesuburannya hingga tanah di bekas operasi migas atau tambang yang terpapar tumpahan minyak dan logam berat.

Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, sekitar 72% lahan yang ada di Indonesia sudah kurang subur atau rusak. Kepala PAIR BATAN, Totti Tjiptosumirat mengatakan, kondisi tidak subur ini dikarenakan kurangnya kandungan mikroorganisme di dalam tanah yang mempunyai fungsi tinggi dalam meningkatkan daya tumbuh tanaman.

Karena itu BATAN lewat PAIR juga turut mengembangan penelitian bioremediasi untuk membantu perbaikan kondisi lahan tersebut. “Penelitian perbaikan kualitas lahan pertanian ini tidak bermaksud menciptakan mikroba yang baru yang tidak terkendali, tetapi melalui teknologi nuklir kita menciptakan wadah yang merangsang mikroba yang dibutuhkan tanah untuk berkembang biak dengan baik,” kata Totti di Gedung PAIR BATAN, Pasar Jumat, Jakarta, Senin (30/9/2019).

Ketidaksuburan tanah pada dasarnya dikarenakan lapisan atas tanah atau top soil yang sering disebut dengan tempat pertumbuhan akar atau rizhosfer. Kerusakan pada top soil ini dapat terjadi secara alamiah yakni akibat adanya erosi baik dari angin ataupun air, sehingga mengikis lapisan atas tanah. Bisa juga karena perlakuan manusia, misalnya akibat kegiatan penambangan atau terpapar tumpahan minyak atau logam berbahaya lainnya.

Lewat bioremediasi, lahan yang rusak atau hilang kesuburannya bisa dipulihkan dengan menyebar mikroorganisme. Seperti untuk tanah yang tercemar minyak, bisa bersih kembali tanpa minyak dengan dibantu mikroorganisme yang bisa memakan sisa minyak yang mengendap di tanah.

Teknik bioremediasi memang sudah cukup dikenal di industri migas. Salah satunya pernah diaplikasikan Chevron di Minas, Riau, walaupun kegiatannya sempat tersandung masalah karena dianggap fiktif. 

Peneliti Bidang Industri dan Lingkungan PAIR BATAN, Nana Mulyana memaparkan, untuk bioremediasi yang dikembangkan BATAN memiliki tiga kelebihan dibandingkan teknik bioremediasi yang dikembangkan peneliti lain. Pertama, mikroorganisme yang digunakan dalam bioremediasi yang dilakukan BATAN yaitu IMR (Inokulan konsorsia Mikroba Rizosfer) sepenuhnya memakai mikroorganisme lokal, bukan yang dibawa dari luar Indonesia.

Kedua, untuk menyimpan mikroorganisme tersebut BATAN memakai bahan pembawa yang sudah disterilkan lewat sentuhan teknologi nuklir dengan cara iradiasi gamma dengan dosis sinar gamma sekitar 25 kGrey. "Jaminannya, kita bisa tahan simpan sampai dua tahun. Tanpa iradiasi gamma paling hanya dua atau tiga bulan," ucap Nana.

Sementara keunggulan ketiga adalah proses bioremediasi tetap dievaluasi, juga lewat sentuhan teknologi nuklir, dengan memakai isotop alam stabil. Sehingga proses bioremediasi yang dilakukan bisa dipantau proses perbaikan ekosistemnya di lahan yang dilakukan kegiatan bioremediasi. "Ini juga tidak dimiliki oleh sebagian penggiat bioremediasi lain, karena isotop alam stabil ini lebih banyak digeluti oleh kami di BATAN," terangnya. 

Diceritakan Nana, hasil penelitian bioremediasi BATAN ini telah diujicobakan di beberapa daerah, seperti di Cepu, Brebes, Purwokerto, Lamongan, Blitar, Tangerang Selatan, dan Kepulauan Bangka. Di Cepu, BATAN memulihkan tanah yang tercemar minyak bumi di lahan tambang minyak tradisional yang dikerjakan masyarakat. Sementara di Tangerang Selatan, BATAN mengembalikan kesuburan tanah di daerah bekas tambang pasir. Lalu di Bangka adalah di bekas lahan tambang timah. 

Sedangkan di Brebes, Purwokerto, Lamongan dan Blitar, BATAN memulihkan lahan pertanian yang sudah terkena residu pestisida atau agrokimia. "Hasilnya luar biasa, reduksi agrokimianya bisa 25 sampai 50 persen, pengurangan bahan kimianya bisa sampai 50 persen, dan produktivitas (lahannya) bisa meningkat sekitar 25 persen," bebernya.

Ditambahkan olehnya, sosialisasi terhadap hasil penelitian ini masih sangat diperlukan agar masyarakat serta industri terkait bisa mengetahui dan memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas kesuburan tanah. Nana mengakui, untuk perusahaan migas belum ada yang mengetahui kemampuan BATAN dalam melakukan bioremediasi untuk lahan tercemar. "Kita belum berkontak. Tapi mudah-mudahan dengan kabar ini kita lebih dikenal," tutupnya. RH