Selasa, 01 Oktober 2019

Diterbangkan Pertamina, Batik Efi Laku Keras di Bangladesh

Efi Utayati, Pemilik Adifta Batik
memperlihatkan batik khas Cirebon
dengan motif Megamendung.
Foto: Ridwan Harahap
Jakarta, OG Indonesia -- Efi Utayati tidak pernah menyangka usaha batiknya bisa semaju sekarang ini. Dahulu usaha batiknya yang diberi nama Adifta Batik hanya mengontrak di kios kecil. Jumlah karyawannya pun saat itu terbatas, hanya lima orang. Kini, Efi bisa punya galeri batik sendiri tepatnya di Desa Kalitengah, Kecamatan Tengahtani, Cirebon, Jawa Barat. Desa Kalitengah sendiri lokasinya bersebelahan dengan Desa Trusmi yang sudah kondang sebagai sentra penghasil batik di Cirebon. Dengan kian majunya Adifta Batik, Efi pun kini bisa mempekerjakan langsung sekitar 30 karyawan, belum termasuk masyarakat sekitar yang juga turut membantu usaha kerajinan batiknya.


Diceritakan Efi, semuanya berkat PT Pertamina (Persero). Keterlibatan Pertamina membantu usahanya sejak tahun 2014 telah mengubah banyak hal terhadap bisnis batik Efi. Awal pertemuan Adifta Batik dengan Pertamina sebenarnya tak diduga. Saat itu Adifta Batik tengah mengikuti suatu pameran dan tiba-tiba datang pihak Pertamina yang menawarkan Efi untuk menjadi mitra binaan. “Setelah itu saya mengajukan proposal ke Pertamina, lalu disurvei dan diseleksi. Setelah lolos baru Pertamina memberikan bantuan permodalan,” cerita Efi kepada OG Indonesia di ajang IPA Convex 2019, awal September lalu.

Tak hanya bantuan dana, Adifta Batik pun mendapat dukungan pelatihan dari Pertamina, terutama terkait pemasaran produk. Mulai dari pelatihan ekspor impor sampai teknik pemasaran digital. Ditambah lagi Pertamina juga kerap mengajak Adifta Batik ikut berbagai pameran. Efeknya cukup suportif, produk-produk Adifta Batik kian dikenal dalam lingkup yang lebih besar. “Setelah diikutkan pameran oleh Pertamina ya alhamdulillah sekarang pemasarannya lebih luas,” tutur Efi.

Cerita lama di mana Efi harus menawarkan produk batiknya ke toko-toko di Tanah Abang pun kini sudah terlewati. Dikisahkan olehnya, dahulu ia kesulitan untuk memutar uang dikarenakan produk batik yang dititipkannya ke toko-toko dibayar dengan menggunakan giro yang pembayarannya tak langsung diterima. Berbeda setelah Adifta Batik rutin mengikuti pameran, transaksi pembayaran langsung dilakukan di lokasi sehingga sangat membantu perputaran uang untuk mengembangkan kegiatan usaha. Selain berbagai pameran di Tanah Air, Adifta Batik pernah melanglang buana ke berbagai pameran di luar negeri, baik lewat bantuan Pertamina maupun KBRI setempat. Beberapa negara yang pernah disambangi antara lain Belanda, Bangladesh, China, Hongkong, Jepang, sampai Rusia.

Salah satu pameran yang diikutsertakan oleh Pertamina yang tak terlupakan oleh Efi Utayati adalah pameran di Bangladesh pada tahun 2018. Dirinya tak menyangka ternyata penjualan batiknya di Bangladesh sangat memuaskan. Dari sekitar dua koper besar kain batik yang dibawa ternyata laku keras di sana, hanya menyisakan dua helai saja yang dibawa pulang ke Tanah Air. “Bahkan Perdana Menteri Bangladesh juga beli batik kami di sana,” bangga Efi. Alhasil, hanya dalam tiga hari pameran di negeri Mujibur Rahman tersebut, Efi bisa meraup omset lebih dari Rp 80 juta.

Diungkapkan olehnya, Adifta Batik rata-rata bisa mendapatkan omset sekitar Rp 50 juta sampai Rp 200 juta untuk setiap pameran yang diikuti. Efi sendiri setiap bulannya rutin mengikuti pameran untuk mempromosikan usaha batiknya. Di mana untuk pameran yang dibawa oleh Pertamina, Adifta Batik biasanya dua kali diajak dalam setahun. Ikut pameran yang disokong Pertamina memiliki benefit lebih ketimbang ikut secara mandiri. Alasannya karena semua ongkos perjalanan, akomodasi, penginapan, hingga sewa stan pameran ditanggung pihak Pertamina. Sebagai gambaran, untuk sewa stan pameran saja bisa merogoh kocek sekitar Rp 15 juta sampai Rp 20 juta. “Lumayan Rp 20 juta, itu bisa saya gunakan lagi untuk modal kerja,” imbuhnya.

Tak hanya menjual produk lewat galeri milik sendiri atau dari pameran ke pameran, Efi juga bisa menitipkan produknya dengan harga yang lebih tinggi di galeri milik Pertamina di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang. Tak sembarang mitra binaan Pertamina yang bisa menampilkan produknya di galeri Pertamina tersebut. Hanya yang terbaik dan lolos seleksi. “Dengan dibantu dijualkan Pertamina, ada pemasukan tambahan buat saya dan Adifta Batik juga semakin dikenal,” ucapnya.

Motif Megamendung

Sebagai kerajinan batik asal Cirebon, batik-batik yang dibuat oleh Adifta Batik cenderung berwarna pastel cerah seperti nuansa pesisir pantai di Kota Udang tersebut. Termasuk juga motif Megamendung dengan gambaran lapisan awannya yang sudah jadi khas batik Cirebon selama ini. Motif ini lahir karena adanya pertemuan budaya akibat kedatangan bangsa China ke Cirebon di masa silam. Dalam ajaran Taoisme, gambar awan merupakan perlambang dunia atas yang memiliki makna ketuhanan.

Saat ini untuk motif Megamendung memiliki beberapa ragam, bergantung pada gradasi atau lapisan awan yang dibuat. Ada yang tiga gradasi, enam gradasi, hingga yang terbanyak sembilan gradasi. Efi mengungkapkan untuk motif Megamendung dengan sembilan gradasi harganya bisa dibanderol lebih dari Rp 2 juta. Harga yang lumayan tinggi tersebut dikarenakan pengerjaannya yang lumayan lama, bisa sampai tiga bulan. “Memang lebih sulit yang sembilan gradasi ini, tidak semua orang bisa, harus yang benar-benar ahli banget,” jelasnya. Selain itu, Adifta Batik juga membuat kreasi batik dengan motif-motif khas keraton Cirebon seperti Paksinaga Liman yang bergambar kereta kencana, hingga Kancil Mas, Singa Barong, dan Patran Keris.

Untuk produk-produk batik yang ditawarkan Adifta Batik sendiri, Efi menuturkan harganya sangat bervariasi bergantung pada motif dan bahannya. Untuk jenis batik cetak yang termurah dipasang seharga Rp 100 ribu, hingga yang termahal Rp 300 ribu. Sementara untuk batik tulis yang paling murah dipatok Rp 300 ribu, dan yang termahal bisa sampai Rp 15 juta.

Saat ditanya tentang transformasi usaha batiknya kini dibanding dahulu sebelum ada bantuan Pertamina, Efi pun langsung mengucap syukur. Ia membeberkan, saat ini usaha batiknya bisa memeroleh omset sampai tiga kali lipat dibandingkan dahulu. Ibarat katak dalam tempurung, sebelum dibina Pertamina, Adifta Batik hanya terpaku dalam pemasaran usaha lokal yang terbatas. Berkat sentuhan Pertamina, diakui Efi, dirinya kini tahu bahwa pemasaran produk usahanya ternyata bisa tak terbatas. “Setelah dibina kita jadi tahu dunia marketing dan terbuka dengan dunia luar,” ungkap Efi yang mengaku kini pelanggannya banyak bertambah dari penjuru Nusantara sampai ke mancanegara.

Lewat berbagai binaan Pertamina kepada kegiatan usahanya, Efi menyebutkan dirinya harus sudah bersiap untuk move on dan naik ke level berikutnya. Di mana Adifta Batik nantinya harus bisa mandiri dan dapat terus berkembang tanpa campur tangan Pertamina lagi. Pertamina memang membatasi bantuan kepada mitra binaan sampai tiga periode saja, dengan setiap periodenya berlangsung selama tiga tahun. Selepas itu harus mandiri. “Saya sudah jadi mitra binaan lima tahun, masih ada empat tahun lagi. Untuk sekarang ini usaha saya sudah jauh banyak peningkatan,” tutup Efi sambil tersenyum. RH