Marsipature Hutanabe Ala Tambang Emas Martabe

Tambang Emas Martabe tumbuh dan
membangun bersama masyarakat Batangtoru.
Foto-foto: Hrp
Tapanuli Selatan, OG Indonesia -- Sekitar pukul 7 malam tanggal 20 Agustus 2019, hujan mendadak turun deras tak henti-henti di Batangtoru. Para jurnalis termasuk OG Indonesia yang untuk malam itu menginap di mess karyawan tambang terpaksa dijemput pakai mobil satu per satu ke kamar untuk makan malam. Rombongan jurnalis dari media massa nasional memang tengah diundang PT Agincourt Resources (PTAR) untuk melihat kegiatan operasi tambang serta program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Tambang Emas Martabe di Batangtoru.


Setibanya di tempat makan malam dan membuka pintu mobil, betapa kagetnya kami karena yang membawakan payung adalah President Director PT Agincourt Resources sendiri yaitu Muliady Sutio. Selanjutnya, saat makam malam ternyata ada jurnalis yang tak kebagian kursi. Bos PTAR pun dengan sigap mencarikan kursi di ruangan lain dan membawakannya langsung kepada jurnalis tersebut yang hanya bisa terkesima.

PTAR kini 95% sahamnya dimiliki PT Danusa Tambang Nusantara yang merupakan cucu usaha PT Astra Internasional, Tbk. Sementara sisa 5% saham dipegang Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan Provinsi Sumatera Utara melalui BUMD PT Artha Nugraha Agung.

Jadi tak heran kalau nilai-nilai Astra dalam Catur Dharma Astra pun dipraktekkan langsung dalam setiap kegiatan perusahaan baik oleh pekerja maupun pemimpin perusahaan. Seperti butir ketiga Catur Dharma Astra yang berbunyi “Menghargai Individu dan Membina Kerja Sama” yang diterapkan Bos PTAR kepada para wartawan. “Kita sifatnya profesional, apapun yang bisa membuat PT Agincourt Resources menjadi lebih bagus akan kita lakukan,” kata Muliady Sutio.

Termasuk tumbuh dan membangun bersama masyarakat sekitar tambang di Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Tambang Emas Martabe yang sudah tujuh tahun beroperasi menganggap keberadaan masyarakat di sekitar sangat penting bagi keberlangsungan operasi tambang. Seperti konsep Marsipature Hutanabe yang berarti “benahi kampung masing-masing” yang dulu pernah digaungkan mantan Gubernur Sumatera Utara Raja Inal Siregar, PTAR pun turut berupaya membangun kampung-kampung di sekitar tambang. Martabe sendiri merupakan akronim dari Marsipature Hutanabe tersebut.

Karena itu, PTAR sudah punya road map untuk program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) selama sepuluh tahun dari 2018 sampai 2028. Terutama di daerah yang termasuk Direct Affected Villages (DAV) atau desa-desa yang terdampak langsung dari operasi Tambang Emas Martabe. Ada 15 desa yang termasuk DAV, rinciannya 13 desa di Kecamatan Batangtoru dan dua desa di Kecamatan Muara Batangtoru. “Mandat kami adalah mewujudkan masyarakat yang mandiri dan berkelanjutan,” jelas Pramana Triwahjudi, Senior Manager Community Relations and Development PT Agincourt Resources.

Penangkaran Padi di Sipenggeng Raih Platinum

Iman Saleh Siregar dari Kelompok
Tani Permata Hijau.
Beberapa bidang yang jadi target program PPM PTAR antara lain bidang pendidikan, kesehatan masyarakat, infrastruktur, pengembangan ekonomi lokal, hingga keagamaan, seni dan budaya. Seperti untuk pengembangan ekonomi lokal, PTAR sejak tahun 2014 telah menginisiasi program demplot penangkaran padi Permata Hijau untuk enam kelompok tani dengan jumlah anggota 97 orang di Desa Sipenggeng, Kecamatan Batangtoru. PTAR pun berhasil meraih penghargaan Platinum dalam Indonesian Suistanable Development Goals Award (ISDA) 2019 awal September lalu, untuk kategori bidang Tanpa Kelaparan (SDG’s 2) dari program tersebut.

Di Desa Sipenggeng tersebut dibuat area penangkaran benih padi dengan total luas tujuh hektare. Benih padi yang ditangkarkan di sana antara lain INPARI 9, Taoti, hingga Situbagendit. Dengan menangkarkan sendiri benih padi di daerahnya, petani Sipenggeng diharapkan bisa mandiri dan menghasilkan benih padi untuk dijual kembali. Hasilnya, varietas benih padi unggul INPARI 9 dari Sipenggeng sudah menjadi benih padi dengan label biru pertama yang dipasarkan dari Tapanuli Selatan.

Diceritakan oleh Iman Saleh Siregar dari Kelompok Tani Permata Hijau, kedatangan PTAR turut membantu petani Sipenggeng dalam mengembangkan pertanian di daerahnya. Mulai dari memberikan mesin perontok padi dan mesin blower, hingga membuat pengairan, area penjemuran, gudang benih, dan saung. Namun yang terpenting PTAR rutin melakukan pertemuan dengan kelompok-kelompok tani untuk memberikan penyuluhan soal penangkaran benih padi dengan menggandeng petugas dari UPT Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH Sumatera Utara.

Kelompok Tani Permata Hijau pun kini bisa menghasilkan 700 kilogram benih padi dari sekitar 1 ton padi yang dipanen. Hasil benih yang ditangkarkan di Sipenggeng tersebut dijual dengan harga Rp 9.000 per kilogramnya. “Kalau harga untuk beras biasa hanya Rp 4.000 satu kilogramnya,” kata Siregar.

Budidaya Jagung Pipil di Aek Sirara

Ada lagi Kelompok Tani Mulia Bakti yang berada di Dusun Aek Sirara, Desa Sumuran, Kecamatan Batangtoru, yang turut menerima manfaat dari PTAR. Kelompok tani jagung pipil untuk pakan ternak ini beranggotakan sekitar 30 orang. Sebelumnya, hasil produksi jagung pipil warga hanya sekitar 1 ton per hektare dengan harga jual Rp 2.300 per kilogram. “Sebelumnya cari satu ton saja itu susah,” ungkap Mukson, Ketua Kelompok Tani Mulia Bakti.

Mukson, Ketua Kelompok
Tani Mulia Bakti.
Namun setelah PTAR masuk sejak tahun 2016, petani Aek Sirara diperkuat dengan dibentuknya Koperasi Karya Mulia Bakti. Pelatihan dan pembinaan pola tanam jagung pipil pun rutin diberikan kepada petani. Selain itu, PTAR juga memberikan bantuan areal tanam jagung pipil seluas satu hektare. Ada lagi bantuan ruang penyimpanan jagung, lantai jemur, mesin-mesin, hingga akses jalan di Dusun Aek Sirara turut dibangun. Alhasil, produktivitas pun meningkat menjadi 5-6 ton per hektare pada saat ini.

PTAR juga turut membuka jalur pemasaran bagi jagung pipil produksi petani lewat kerja sama dengan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. Harga jual jagung pipil dari petani pun turut terdongkrak sampai kisaran Rp 3.500 hingga Rp 4.100 per kilogram. Pendapatan warga Aek Sirara menjadi terbantu. Dengan taraf hidup yang meningkat, diungkapkan Mukson yang asal Kebumen dan menetap di Aek Sirara sejak 2014, kini banyak anak-anak petani Mulia Bakti yang sudah bisa mengenyam bangku kuliah. “Dengan meningkatnya ekonomi, mutu pendidikannya juga meningkat. Pada tahun 90-an di sini yang tamat SMA saja susah. Alhamduillah sekarang sudah ada tiga orang anak-anak petani yang tamat kuliah di Medan,” kisah Mukson.

Pasien Tak Lagi Terjebak Macet di Pasar Batangtoru

Sementara di bidang kesehatan, salah satu usaha PTAR untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat sekitar adalah dengan membangun Puskesmas Batangtoru yang kini berdiri megah di lahan seluas 1.460 meter persegi di Jalan Merdeka, Desa Aek Pining, Kecamatan Batangtoru.

Puskesmas Batangtoru layani masalah
kesehatan warga Batangtoru dan sekitarnya.
Puskesmas yang dibangun sejak November 2014 ini sudah beroperasi secara penuh mulai tahun 2015 lalu. Untuk proses pembangunan Puskesmas serta pemenuhan alat-alat kesehatannya, PTAR menggelontorkan dana sekitar Rp 5 miliar. Saat ini, Puskesmas terbesar di Provinsi Sumatera ini dapat melayani sekitar 23.500 warga yang berasal dari 15 desa DAV sekitar tambang. Tak hanya dari desa sekitar, warga dari berbagai kecamatan tetangga bahkan kapubaten sebelah pun kerap berdatangan untuk berobat di sana.

Diterangkan dr. Rudi Iskandar Harahap, Kepala Puskesmas Batangtoru, lokasi awal Puskesmas Batangtoru sebenarnya berada di belakang Pasar Batangtoru. Namun karena banyak pasien kerap terjebak kemacetan akibat pasar yang tumpah ke jalan, akhirnya Puskesmas Batangtoru pun direlokasi dan dibangun kembali lewat bantuan PTAR. “Dulu kalau ada kasus-kasus emergency bisa terlambat penanganannya dan itu bisa meninggal di jalan,” ucap dr. Rudi Iskandar Harahap.

Puskesmas Batangtoru dengan sumber daya manusia sebanyak 61 orang ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Mulai dari ruang rawat inap dan IGD 24 jam, ruang Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR), ruang pusat informasi kesehatan wanita serta ruang rawat wanita, ruang rawat anak, sampai ruang bayi. Masih ada lagi fasilitas USG untuk alat pemeriksaan kehamilan bagi ibu-ibu yang sedang mengandung. Puskemas ini juga telah dilengkapi dengan armada mobil ambulans 4WD untuk menjemput pasien di daerah pelosok yang akses jalannya cukup menantang.

Margondang di Sopo Daganak

PTAR juga peduli pada bidang pendidikan. Di mana sejak tahun 2017 berdiri teater terbuka atau amfiteater Sopo Daganak sebagai sarana edukasi, serta pengembangan seni dan budaya lokal bagi anak-anak di sekitar wilayah tambang. Sopo Daganak memiliki arti “rumah anak-anak” dalam bahasa Batak Angkola. Amfiteater ini berkapasitas 500 orang dan berdiri di atas area seluas 4.431 meter persegi.

Remaja putri Batangtoru berlatih gondang
di Sopo Daganak.
Di Sopo Daganak, anak-anak dan remaja Batangtoru bisa melakukan banyak kegiatan, mulai dari margondang atau bermain musik tradisional gondang, berlatih tari, sampai berkumpul dan membaca bersama di perpustakaan anak dengan sekitar 300 judul buku. PTAR sendiri sudah mendistribusikan sebanyak 10.000 buku ke 14 taman bacaan anak yang tersebar di desa-desa di kawasan Batangtoru. Diterangkan Rohani Simbolon, Community Service Superintendent PT Agincourt Resources, selama tiga kali dalam setahun di Sopo Daganak diadakan pentas seni yang melibatkan sekitar 100 anak dalam setiap kali pentasnya. “Ada menari, opera, tapi juga ada budaya lokal,” tutur Rohani.

Diceritakan oleh Masrika Hannum Siregar, Ketua Persada (Perkumpulan Sahabat Cerdas) yang menaungi 14 taman bacaan anak di Batangtoru, sebelumnya anak-anak dan remaja Batangtoru banyak menghabiskan waktu yang terbuang percuma dengan bermain saja tanpa aktivitas lain yang positif. Keberadaan Sopo Daganak menurutnya dapat menyalurkan bakat anak-anak Batangtoru dari menari hingga bermain musik yang selama ini tidak tersalurkan. “Semakin hari semakin banyak anak-anak yang berminat untuk menari dan juga untuk kegiatan lainnya di sini,” kata Masrika.

Dengan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan di segala bidang tersebut, PTAR berharap dapat mewujudkan masyarakat yang mandiri dan berkelanjutan di masa depan. Sehingga konsep Marsipature Hutanabe di Batangtoru pun akhirnya bisa terwujud. Hal ini tentunya sejalan dengan regulasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang mewajibkan setiap perusahaan tambang mineral menyusun dan melaksanakan rencana induk mulai dari rencana produksi sampai dengan pasca tambang, termasuk untuk program pengembangan masyarakat sekitar.

Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM, Yunus Saefulhak, mengatakan bahwa program CSR yang dijalankan perusahaan tambang idealnya sesuai dengan keinginan masyarakat serta dapat mengembangkan potensi ekonomi masyarakat untuk saat ini dan juga di masa mendatang. “Jadi bukan hanya seperti charity atau hadiah semata, tetapi harus bisa menjadi sustainable economy. Sehingga nanti jika operasi tambangnya sudah habis, masih ada sentra ekonomi baru yang muncul akibat dari program-program CSR sebelumnya,” pesan Yunus. RH
Marsipature Hutanabe Ala Tambang Emas Martabe   Marsipature Hutanabe Ala Tambang Emas Martabe Reviewed by OG Indonesia on 15.39 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.