Kamis, 17 Oktober 2019

Pengembangan Panas Bumi Wajib Perhatikan Kearifan Lokal

Manado, OG Indonesia -- Indonesian Resources Studies (IRESS), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik Universitas Negeri Manado (UNIMA), Serikat Pekerja Pertamina Pertamina Geothermal Energy (SP PGE) dan Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB), pada Selasa (15/10/2019) mengadakan diskusi Engineering Talk 2019 dengan tema "Panas Bumi, Potensi Energi Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0" di Gedung Kuliah Bersama (GKB) UNIMA. 


Dalam kesempatan sama juga dilakukan bedah buku "Pengembangan Panas Bumi sebagai Energi Kearifan Lokal di Indonesia" yang ditulis oleh Direktur Eksekutif IRESS Marwan Batubara. 

Diskusi dan bedah buku menghadirkan pembicara yaitu Marwan Batubara (IRESS), Donny Yoesgiantoro (Universitas Pertahanan), Reyly Pinasang (Pemda Sulawesi Utara), Ugan Gandar (Pengamat Energi), Arie Gumilar (FSPPB) dan Bagus Bramantio (SP PGE). Sementara peserta yang hadir adalah mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia.

Dikatakan Marwan Batubara, Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia, yakni sekitar 40% dari total potensi panas bumi dunia. Namun dalam hal pengembangan, ternyata masih jauh tertinggal, karena hanya sekitar 7% (1.948,5 MW) dari seluruh potensi sumber daya dan cadangan panas bumi (28,5  GW) yang telah dimanfaatkan menjadi energi listrik. 

"Agar pemanfaatan tersebut meningkat, 
berbagai hal perlu dilakukan, termasuk mendukung pemerintah dalam memperbaiki dan menjalankan kebijakan, regulasi dan program yang sesuai konstitusi, sehingga target pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dapat dicapai," jelas Marwan.

Ia pun mengingatkan bahwa salah satu aspek penting yang diamanatkan UUD 1945 dalam pemanfaatan sumber daya alam Indonesia adalah tentang penguasaan negara, di mana aspek pengelolaannya harus berada di tangan BUMN. "Saat ini ketiga BUMN yang mengelola sumber daya panas bumi kita, yakni Pertamina Geothermal Energi (PGE), Geo Dipa Energi (GDE) dan PLN Geothermal, hanya menguasai sekitar 38,2% produksi PLTP nasional. Sisanya dikelola oleh perusahaan swasta nasional dan asing," bebernya.

Menurutnya kondisi ini tentu masih jauh 
dari kondisi ideal konstitusional yang didambakan guna meningkatkan penerimaan negara dan menjamin ketahanan energi nasional. "Untuk itu perlu dilakukan advokasi yang berkelanjutan," ucap Marwan yang menyatakan bahwa buku tulisannya dimaksudkan untuk mengadvokasi hal 
yang terkait dengan aspek kearifan lokal.

Sebab menurutnya, sudah cukup sering terjadi, bahwa rakyat suatu daerah luput dari perhatian pemerintah untuk ikut menikmati eksploitasi sumber energi di daerahnya. "Hal ini tidak boleh terulang pada sektor energi panas bumi. Masyarakat sekitar PLTP,  bukan saja harus ikut menikmati energi yang dihasilkan, tetapi juga harus dilibatkan dalam setiap kesempatan memperoleh manfaat ekonomi-bisnis, sosial-budaya dan lingkungan, termasuk juga dalam mempertahankan dan meningkatkan berbagai aspek kearifan lokal," paparnya.

Sementara itu Donny Yoesgiantoro menyatakan bahwa ketahanan energi merupakan bagian dari ketahanan ekonomi dan ketahanan ekonomi adalah bagian dari ketahanan nasional. Jika ketahanan energi baik dan meningkat, maka ketahanan nasional juga akan membaik dan meningkat. 

"Oleh sebab itu ketersediaan energi nasional harus terus dibangun dan ditingkatkan, salah satunya melalui pengembangan energi ramah lingkungan seperti pembangkit listrik panas bumi (PLTP)," ujar Donny.

Dalam hal ini ia juga mengingatkan pentingnya menyiapkan berbagai kebijakan dan peraturan terkait pelayanan listrik, anggaran subsidi listrik, subsidi listrik tepat sasaran, permasalahan lingkungan, dan lain-lain.

Sedangkan Presiden FSPPB Arie Gumelar mengingatkan mahasiswa bahwa generasi milenial perlu sadar dan memahami tentang isu energi. "Milenial harus paham, kapan energi fosil itu habis. Sebab kita selalu membutuhkan energi di mana pun, kebutuhan kita atas energi setiap tahun meningkat sekitar 4 persen" kata Arie.

Sementara itu Ketua SP PGE Bagus Bramantio menyebutkan keunggulan energi listrik dari panas bumi. Di mana listrik PLTP tersedia sepanjang tahun, tidak tergantung perubahan musim. "PLTP juga ramah lingkungan karena hampir tidak menghasilkan CO2 dalam proses pemanfaatan tenaga panas bumi menjadi energi listrik," ucap Bagus. RH