Rabu, 20 November 2019

Berkat Pertamina EP, Potensi Desa Burai Kini Terburai

Foto-foto: Hrp
Ogan Ilir, OG Indonesia -- Desa Burai di Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan menyimpan potensi wisata alam dan kekayaan budaya yang memukau. Pertamina EP Asset 2 Prabumulih Field menemukan potensi terselubung tersebut dan turut membantu pengembangannya.

Dengan landscape alam yang luar biasa indahnya, ditunjang dengan kesederhanaan masyarakatnya, serta budaya dan adat Sumatera Selatan yang kental melekat, serta aliran sungai kelekar yang berkelok membuat Desa Burai ini semakin apik menjadi destinasi wisata alam. Desa Burai sendiri memiliki luas sekitar 5.000 hektare dengan jumlah penduduk mencapai 2000 jiwa dan 400 KK.

Sebelumnya, potensi Desa Burai tidak banyak disadari dan dimanfaatkan oleh penduduk yang sebagian besar bekerja sebagai petani dan nelayan. Melihat fenomena itu, PT Pertamina EP Asset 2 Prabumulih Field tergerak untuk mewujudkan potensi tersebut menjadi nilai tambah bagi aspek wisata Sumsel, dengan membuat program CSR, BU DEWI (Burai Desa Wisata). Bersinergi dengan pemerintah Kabupaten Ogan Ilir, perusahaan merancang rencana strategis dengan sebelumnya melakukan observasi dan penelitian terkait Burai.

"Desa Burai masuk Ring 3 dari wilayah kerja Prabumulih Field. Tadinya Desa Burai agak terpencil. Kita adakan kesepakatan dengan bupati di mana bupati membangunkan jalan dan Pertamina EP mengembangkan desa wisata di mana desa ini dikelilingi oleh air," jelas Erwin Hendra Putra, Prabumulih Field CSR Staff, di Desa Burai, Rabu (20/11/2019).

Berdasarkan studi kelayakan yang telah dilaksanakan sebelumnya, kemudan dirancang program yang terdiri dari tiga pilar. Pilar pertama yaitu peningkatan infrastruktur sarana dan prasarana serta pendampingan SDM kelompok masyarakat untuk dapat mengelola Burai sebagai destinasi wisata secara mandiri oleh masyarakat.

Pembangunan dan pendampingan tersebut
meliputi establishment Kampung Warna-Warni, pembuatan spot-spot wisata selfie, pembangunan Saung wisaya, pembangunan rumah galeri produk khas Burai, pembentukan kelompok sadar wisata (POKDARWIS), pendampingan kesenian tari Beumme, penyelenggaraan lomba bidar mini serta penguatan fasilitas wisata air.

Pilar kedua terkait kelompok usaha panganan. Pengolahan Makanan Berbahan Dasar Daging, Kulit, dan Tulang Ikan Berbasis Zero Waste, yaitu program peningkatan usaha kecil dan menengah khususnya pengolahan ikan yang mana merupakan potensi luar biasa desa Burai yang kaya akan penghasilan ikan sungai mengingat letaknya di tepi sungai kelekar. Masyarakat dibentuk kelompok dengan nama Kelompok Olahan Ikan (KOI). Pengolahan ikan menjadi berbagai bentuk panganan seperti kerupuk, kelempang panggang, kerupuk kulit, keripik tulang, dan lain-lain.

Songket Burai

Sedangkan pilar ketiga adalah usaha kerajinan. Pemberdayaan Kelompok Pengrajin Purun Bebasis Lingkungan, yaitu memanfaatkan potensi desa Burai yang kaya akan Purun. Purun sendiri adalah tanaman rumput gambut yang kerap menjadi kambing hitam kebakaran hutan dan lahan, sehingga menjadi komoditas bahan baku yang bermanfaat untuk masyarakat, karena dapat digunakan sebagai bahan dasar kerajinan anyaman yang dapat diolah menjadi tikar, tas, sandal, tempat tisu, tempat sampah, topi, hingga casing agenda.

Masih di pilar ketiga, yaitu Program Pemberdayaan Masyarakat Pengrajin Songket Khas Burai. Meliputi pendampingan dan pelatihan kelompok pengrajin songket yang memiliki kemampuan menenun songket dengan sangat baik, dengan pengembangan motif dan pemasaran. Salah satu wadah pemasaran yang efektif adalah dengan mengikutsertakan dalam pameran-pameran, serta dengan dibangunnya galeri produk khas burai bisa menjadi tempat pemasaran yang cukup efektif bagi wisatawan yang mengunjungi desa Burai.

Pertamina EP pun turut membantu pemasaran songket dari Burai. Diceritakan Mustikawati, Ketua PKK Desa Burai, dahulu dalam memasarkan songket buatan ibu-ibu dan remaja putri Desa Burai sangat sulit karena akses jalan yang jauh ke Palembang sebagai pusat penjualan. Akibatnya karena kendala pulang pergi dari Burai ke Palembang, ibu-ibu pengrajin songket terkadang harus pasrah menjual murah kain songketnya di Palembang daripada tidak laku dan pulang ke Burai dengan tangan hampa.

"Setelah dibantu Pertamina EP sangat jauh sekali untuk harga songket kita. Dulu jualnya harus ke Palembang, perjalanannya sangat jauh, ongkosnya mahal, harganya pun kadang hanya Rp 300 ribu. Tetapi setelah ada Pertamina EP harganya itu sekarang sangat luar biasa," cerita Mustikawati.

Seperti untuk tenun songket motif Lepus harganya sekitar Rp 800 ribu. Sementara untuk motif Kembang Cina yang pembuatannya lebih rumit dibanderol Rp 1.300.000. Desa Burai sendiri membuat motif khas desa yang diberi nama motif Ikan Sepatung, yang dijual dengan harga Rp 800 ribu. "Songket ini kalau dijual di Palembang sekarang bisa sampai Rp 1,5 juta, bisa dua kali lipat," ucap Mustikawati.

Diakui masyarakat, sebelumnya desa Burai cukup sepi. Dengan perbaikan akses masuk desa yang dibantu perusahaan, dan publikasi serta penguatan fasilitas wisata, maka makin banyak masyarakat Sumsel berkunjung. Bahkan pengunjung dari provinsi tetangga atau bahkan dari luar negeri seperti Singapura, Malaysia dan Thailand juga datang berkunjung. “Ramai nian sekarang, masyarakat la banyak buat kerajinan, perekonomian makin menggeliat, piral desa kito," tutur Ferianto, Kepala Desa Burai.

Program Bu Dewi sendiri telah memperoleh
penghargaan, salah satunya The Best Nusantara CSR Awards 2019 by LaTofi School of CSR.

Ndirga Andri Sisworo, Asset 2 Prabumulih Field Manager di sela kegiatannya menyampaikan, “Melalui program Bu Dewi yang dilaksanakan ini, PEP bersama segenap masyarakat bisa mengubah kehidupan local community di desa yang sebelumnya tertinggal, terpencil menjadi desa yang bergairah dan berdaya.” 

Seirama dengan tujuan utama program ini, yaitu untuk dapat mendongkrak dan meningkatkan citra desa Burai sebagai destinasi wisata di kabupaten Ogan Ilir, dalam peningkatan pariwisata daerah sebagai komitmen perusahaan dalam pemberdayaan masyarakat.

Lebih lanjut Ndirga menyampaikan “Sebagaimana visi misi perusahaan melakukan kegiatan usaha dengan terus memperhatikan lingkungan dan masyarakat.”

Dengan semakin menanjaknya popularitas Desa Burai, diharap program mampu menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk kemajuan daerah terutama bidang pariwisata. Sehingga lebih banyak lagi penggemar traveling berkunjung dan menjadikan Sumsel sebagai salah satu destinasi domestik yang indah. Keberhasilan program menjadi kebanggaan perusahaan serta sebagai wujud partisipasi peran dalam memberikan additional value bagi masyarakat. RH