Kamis, 21 November 2019

Sudah 42.650 Sambungan, Jargas Prabumulih Hemat Subsidi Rp 35 Miliar Per Tahun


Jargas di Kota Prabumulih
sudah masuk sejak tahun 2014.
Prabumulih, OG Indonesia -- Prabumulih sudah lama dikenal sebagai daerah penghasil minyak dan gas bumi. Untuk memanfaatkan sumber gas bumi yang ada, Pemerintah pusat lewat Kementerian ESDM sudah membangun jaringan gas (jargas) atau city gas (gas kota) untuk rumah tangga melalui dana APBN.


Jargas yang pasokan gasnya diambil dari gas buang dari beberapa daerah operasi migas Pertamina EP di sekitar Prabumulih tersebut telah melayani masyarakat sejak tahun 2014 dan hingga saat ini sudah terpasang 42.650 sambungan gas kota.

Dari pemanfaatan jargas tersebut, Kota Prabumulih dapat melakukan penghematan biaya dari subsidi gas elpiji 3 kg yang jumlahnya cukup signifikan. "Jumlah penghematan subsidi pemerintah per tahunnya rata-rata Rp 35 miliar," kata Erwin Hendra Putra, Prabumulih Field CSR Staff kepada media di Prabumulih, Rabu (20/11/2019).

Pengelolaan jargas di Prabumulih dikelola oleh BUMD setempat yaitu PD Petro Prabu. Diungkapkan Erwin, Pemkot Prabumulih menargetkan sambungan jargas sampai 50.000 sambungan. "Tahun ini sendiri ada tambahan 4.000 sambungan, untuk ke depan kalau ada permintaan kita tambah lagi," ucapnya.

Menurut Erwin, dengan usaha jargasnya, kini Petro Prabu bisa mendapatkan pemasukan dari biaya pemakaian sambungan jargas di Prabumulih sekitar Rp 1,5-2 miliar per bulan. "Jadi bisa membantu untuk berkembangnya BUMD lah," tuturnya.

Bantu Usaha Warga

Diceritakan Susianti, warga Kelurahan Majasari, Kecamatan Prabumulih Selatan, yang memiliki usaha makanan bernama Pawon Cempaka, dirinya merasa terbantu dengan adanya jargas tersebut. "Jargas ini sangat membantu terutama untuk usaha memasak makanan kita," ujar Susi.

Sebelum adanya jargas, Susi biasanya
Susianti, Warga Majasari
yang menggunakan jargas.
memasak dengan tabung gas elpiji 3 kg. Ia kerap kerepotan kalau sedang sibuk memasak tapi tiba-tiba gas habis. Lalu, kalau mau melanjutkan masak lagi, ia pun pun harus sibuk menenteng tabung ke luar rumah untuk membeli. "Dengan adanya jaringan gas ini sekarang kita enggak repot, gasnya stand by di rumah tinggal cetek," terangnya.

Diungkapkan Susi, untuk keperluan memasak demi kebutuhan rumah tangga sehari-hari ditambah kegiatan usaha memasaknya, sekarang dirinya hanya mendapat tagihan per bulannya tidak sampai Rp 100 ribu.
Padahal sebelumnya, dirinya bisa memakai sampai 4 tabung gas elpiji 3 kg dalam sebulan dengan harga Rp 23 ribu per tabung, hanya untuk keperluan masak sehari-hari, belum termasuk untuk kegiatan usahanya. Kalau ditambah untuk kegiatan usaha memasak, Susi rata-rata butuh sampai enam tabung per bulan atau sekitar Rp 138 ribu.

Susi juga menceritakan bahwa tetangganya juga ada yang memiliki usaha telur asin. Sebelumnya untuk keperluan merebus telur asin bisa mengeluarkan biaya membeli gas tabung melon sekitar Rp 200 ribu per bulannya. Namun kini hanya Rp 150 ribu untuk biaya jargas. "Jadi lumayan sisa uangnya bisa ditabung," tutup Susi. RH