Sabtu, 22 Desember 2018

RI Kuasai Mayoritas Saham, Freeport McMoran Tetap Operator Tambang Freeport Indonesia

Foto: Setkab.go.id
Jakarta, OG Indonesia -- Pada Jumat (21/12) akhirnya telah terjadi pengalihan saham mayoritas (divestasi) PT Freeport Indonesia (PTFI) kepada INALUM. Resminya pengalihan saham tersebut ditandai dengan proses pembayaran dan terbitnya Izin Usaha Pertambangan Khusus Operasi Produksi (IUPK) sebagai pengganti Kontrak Karya (KK) PTFI yang telah berjalan sejak tahun 1967 dan diperbaharui di tahun 1991 dengan masa berlaku hingga 2021. 



Dengan terbitnya IUPK ini, maka PTFI akan mendapatkan kepastian hukum dan kepastian berusaha dengan mengantongi perpanjangan masa operasi 2 x 10 tahun hingga 2041, serta mendapatkan jaminan fiskal dan regulasi. PTFI juga akan membangun pabrik peleburan (smelter) dalam jangka waktu lima tahun. 

Terkait dengan pengalihan saham, INALUM telah membayar US$ 3.85 miliar kepada Freeport McMoRan Inc. (FCX) dan Rio Tinto, untuk membeli sebagian saham FCX dan hak partisipasi Rio Tinto di PTFI sehingga kepemilikan INALUM meningkat dari 9.36% menjadi 51.23%. 

Kepemilikan 51.23% tersebut nantinya akan terdiri dari 41.23% untuk INALUM dan 10% untuk Pemerintah Daerah Papua. Saham Pemerintah Daerah Papua akan dikelola oleh perusahaan khusus PT Indonesia Papua Metal dan Mineral (IPPM) yang 60% sahamnya akan dimiliki oleh INALUM dan 40% oleh BUMD Papua. 

INALUM akan memberikan pinjaman kepada BUMD sebesar US$ 819 juta yang dijaminkan dengan saham 40% di IPPM. Cicilan pinjaman akan dibayarkan dengan dividen PTFI yang akan didapatkan oleh BUMD tersebut. Namun dividen tersebut tidak akan digunakan sepenuhnya untuk membayar cicilan. Akan ada pembayaran tunai yang diterima oleh Pemerintah Daerah.

Kendati Indonesia sudah menguasai saham mayoritas di PTFI, akan tetapi Freeport McMoran tetap menjadi operator tambang emas di Papua tersebut. Dikatakan oleh Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin Freeport McMoran tetap menjadi operator karena tambang yang berada di Kabupaten Mimika tersebut tergolong paling rumit di dunia sehingga perlu operator yang berpengalaman untuk mengelolanya. 

Karena itu menurutnya, INALUM perlu belajar terlebih dahulu kepada pihak Freeport McMoran dalam mengelola tambang di Papua tersebut. "Kita perlu belajar. Ini kesempatan besar untuk besar sehingga putra putri Indonesia bisa belajar," jelas Budi Gunadi, Jumat (21/12).